
PULAU PURA, ALOR, www.sinodegmit.or.id, — Para pendeta GMIT dari Klasis Mollo Barat menggelar kegiatan rekoleksi di Pantai Vetabang, wilayah Jemaat Elim Dadibira, Klasis Alor Barat Laut. Kegiatan yang berlangsung sejak 30 September hingga 5 Oktober 2026 ini menjadi ruang teduh bagi para pelayan gereja dari kawasan pegunungan Mollo untuk merefleksikan kembali perjalanan pelayanan mereka.
Rangkaian acara diisi dengan pembekalan materi bertajuk “Suka dan Duka Pendeta GMIT” yang dibawakan oleh Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT Pdt. Zimrat M. S. Karmany pada Kamis (1/10/2026). Dalam sesi tersebut, ia menekankan pentingnya masa istirahat dan evaluasi diri bagi para pendeta di tengah dinamika pelayanan yang dinamis.
“Pendeta bukan penderita, tetapi pendeta juga manusia yang bisa menderita,” ujarnya di hadapan para peserta.
Melalui pendalaman alkitabiah dari Keluaran 15:22–27, 2 Korintus 4:7–9, dan 1 Petrus 5:2–4, Ia mengajak peserta meneladani kisah jemaat Elim, di mana perjalanan pelayanan senantiasa mempertemukan pendeta dengan momen pahit (Mara) maupun momen penuh rasa syukur (Elim). Ia menekankan tiga poin utama refleksi. Pertama, Tuhan sanggup mengubah pergumulan atau rasa pahit dalam pelayanan menjadi berkat. Kedua, kendati pelayan gereja memiliki keterbatasan ibarat bejana tanah liat yang retak, terang Kristus tetap terpancar melalui kerendahan hati. Ketiga, pelayanan harus dijalani secara sukarela dan penuh sukacita tanpa harus memikul beban seluruhnya seorang diri.

Sesi pembekalan berlangsung hangat dan penuh keterbukaan. Para pendeta saling membagikan pengalaman, tantangan, serta harapan dalam menggembalakan jemaat, yang diakhiri dengan doa bersama untuk menguatkan tali persaudaraan sesama pelayan Tuhan.
Salah seorang peserta rekoleksi, Pdt. Hamongan Ully, mengungkapkan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini yang dinilai mampu mengembalikan semangat pelayanan para pendeta.
“Kami senang. Terasa kami disegarkan kembali dan berhenti sejenak untuk menikmati hidup bersama Tuhan dan persekutuan hamba Tuhan,” kata Pdt. Hamongan.
Melalui rekoleksi di Pulau Pura ini, para pendeta Klasis Mollo Barat diharapkan dapat kembali ke ladang pelayanan masing-masing dengan semangat baru, pemikiran yang segar, serta komitmen yang teguh dalam menggembalakan jemaat. *











