
Semau, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menahbiskan Gedung Ibadah GMIT Elim Uitao, Klasis Semau, pada Minggu (4/10/2026). Pentahbisan ini menandai berakhirnya pergumulan panjang pembangunan gedung gereja yang telah berlangsung secara bertahap selama kurang lebih 20 tahun, sejak peletakan batu pertama pada April 2006 hingga selesai sepenuhnya pada September 2026.
Gedung gereja yang berlokasi di Dusun 1, Desa Uitao, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang ini dibangun dengan total anggaran sebesar Rp. 800.000.000. Pembangunan secara berkesinambungan mencakup struktur fisik bangunan, pagar keliling, penyelesaian interior, hingga tahap finishing. Ibadah pentahbisan ini menjadi momen syukur bagi jemaat yang saat ini melayani sekitar 60 Kepala Keluarga (KK) di bawah pelayanan Pdt. Steven Imanuel Bessie.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi penyambutan secara adat berupa tarian dan basan, pembukaan selubung papan nama, penandatanganan prasasti, pelepasan burung merpati, serta pengguntingan pita. Setelah itu, Majelis Sinode GMIT menyerahkan kunci gedung secara simbolis kepada koster untuk membuka pintu dan mempersilakan seluruh jemaat masuk beribadah.
Dalam khotbahnya yang didasarkan pada Kitab Kejadian 45:1-15, Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, menekankan pentingnya komitmen jemaat untuk menjadikan gedung gereja dan rumah tangga sebagai pusat pemulihan. Ia mengingatkan agar gereja tidak sekadar menjadi bangunan megah, melainkan tempat pelayanan pendamaian yang terbebas dari perselisihan.
“Kasih Allah yang memulihkan diawali dengan komitmen untuk menjadikan gedung Gereja Elim Uitao sebagai tempat pemulihan dan pembebasan dari luka, bukan sekadar ruang megah tanpa pembaruan hati. Gereja dipanggil menjadi ‘Elim’ yang memberikan air kehidupan dan pelayanan pendamaian,” ujar Pdt. Zimrat.
Ia juga mengajak jemaat membawa nilai-nilai pengampunan ke dalam keluarga dengan meneladani sikap Yusuf dan Yehuda, serta membangun keharmonisan rumah tangga melalui komunikasi langsung dan kebersamaan.

Ketua Panitia Pembangunan, Jarid Timung, dalam laporannya menjelaskan bahwa pembangunan tempat ibadah yang lebih memadai dari segi kualitas maupun daya tampung ini didasari oleh iman dan semangat kebersamaan jemaat. Terlebih, Jemaat Elim Uitao memiliki sejarah pelayanan panjang yang dimulai sejak tahun 1926, sehingga momentum penahbisan ini bertepatan dengan perayaan HUT jemaat yang ke-100 tahun.
“Berdasarkan makna nama Elim, ‘Tuhan Menyediakan’, dan mengacu pada motto ‘Kerjakanlah bagian kita dengan setia, dan lihatlah Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna bagi kita’, Mata Jemaat GMIT Elim Uitao bertekad untuk terus membenahi pembangunan iman dan fisik gereja sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan dalam persekutuan,” jelas Jarid.
Sementara itu, Bupati Kupang, Yosef Lede, dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras panitia dan jemaat. Ia mengimbau agar berdirinya gedung gereja baru ini diimbangi dengan peningkatan kualitas iman dan persekutuan.
“Gereja sudah bagus, tetapi harus terus bertumbuh. Bertumbuh bukan hanya dalam konteks jumlah, tetapi bertumbuh dalam Kristus. Karena itu, yang paling penting adalah bagaimana kita merawat persekutuan,” kata Bupati Yosef.
Acara penahbisan ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Klasis Semau Pdt. Donny B. Banik, para Pendeta GMIT, Anggota DPRD Kabupaten Kupang Absalom Buy, Kepala Bank NTT Cabang Oelamasi Edward Hede, Kepala Dinas Peternakan Oktaviana Manulangga, Kepala Dinas Pariwisata Marthen Timate, Kepala Dinas Kesehatan Desemiyeti Ngatrian, Kasat Pol PP Aprion Lona, Camat Semau, Camat Semau Selatan, Camat Amabi Oefeto Timur, kepala desa dan jemaat setempat. *











