//UBB Sinode GMIT Serahkan Hasil Terjemahan Alkitab 32 Bahasa Daerah untuk Pelayanan Jemaat dan Pendidikan

UBB Sinode GMIT Serahkan Hasil Terjemahan Alkitab 32 Bahasa Daerah untuk Pelayanan Jemaat dan Pendidikan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Unit Bahasa dan Budaya (UBB) Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyerahkan hasil kerja penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah kepada Majelis Sinode GMIT di GMIT Center Kupang, Senin (5/10/2026). Hingga saat ini, UBB telah berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam 32 bahasa daerah yang tersebar di wilayah Alor, Timor, Sabu, dan Rote.

Penyerahan hasil penerjemahan tersebut dihadiri oleh Direktur Umum UBB Sinode GMIT Pdt. Semuel V. Niti, Direktur Program UBB GMIT Barbara Grimes, Ph.D., Pdt. Emil Hauteas, serta jajaran pimpinan UBB lainnya. Rombongan diterima langsung oleh Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama UBB Sinode GMIT, Pdt. Semuel V. Niti, memaparkan hasil dokumentasi serta penelitian bahasa daerah di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), meliputi wilayah Alor, Rote, Sumba, Timor, hingga Flores. Riset tersebut mencakup keberagaman bahasa lokal seperti Klon, Adang, Abui, Helong, Amarasi, Lio, serta ragam Melayu Alor dan Melayu Sumba. Sebagian bahasa dilaporkan masih terus diteliti, sementara beberapa bahasa daerah lainnya terindikasi terancam punah.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, mengapresiasi kerja keras tim UBB yang dinilai memberi dampak penting bagi jemaat.

“Hal ini sangat baik karena menjadi sarana bagi jemaat di berbagai tempat, dengan latar belakang budaya mereka, untuk menemukan kembali identitas melalui bahasa daerah sekaligus memahami firman Tuhan dengan lebih baik. Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang telah dijalankan di sini guna menegakkan kewibawaan gereja sebagai pendiri. Selain itu, kita sedang mengembangkan konsep proses belajar-mengajar yang khas dan berbasis pada bahasa lokal,” ujar Pdt. Semuel B. Pandie.

Sementara itu, Pdt. Emil Hauteas menjelaskan bahwa penyerahan materi ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi agar hasil terjemahan dimanfaatkan secara optimal dalam ibadah jemaat.

“Penerjemahan menggunakan bahasa lokal dinilai sangat krusial karena bahasa daerah merupakan ‘bahasa hati’ bagi masyarakat setempat. Penyampaian pesan keagamaan dalam bahasa ibu membuat pesan firman terasa jauh lebih dekat, menyentuh, dan mudah diresapi oleh jemaat,” kata Pdt. Emil.

Ia melanjutkan bahwa proses penerjemahan ini tidak dilakukan untuk seluruh isi Alkitab sekaligus, melainkan difokuskan per kitab secara bertahap, yang umumnya diawali dengan Injil Markus.

Selain untuk kebutuhan pelayanan gerejawi, proyek ini turut mendukung sektor pendidikan melalui program Pendidikan Multibahasa (PMB). Bahasa-bahasa lokal yang telah didokumentasikan dan diterjemahkan kini dijadikan bahan ajar di lingkungan sekolah, mencakup sekitar 60 Sekolah Dasar (SD) dan 30 Taman Kanak-Kanak (TK) di berbagai daerah di NTT. *