//Simfoni Persaudaraan GMIT: Wadah Pemersatu dan Pembinaan Musik Gereja di NTT

Simfoni Persaudaraan GMIT: Wadah Pemersatu dan Pembinaan Musik Gereja di NTT

Peserta dari Klasis Amanuban Tengah Selatan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar ajang pesta paduan suara gerejawi bertajuk “Simfoni Persaudaraan GMIT” yang berlangsung di Aula GMIT Center Kupang pada 7 hingga 9 Oktober 2026. Ajang ini menghimpun ratusan peserta dari 23 kontingen yang mewakili 57 klasis, melingkupi wilayah Kupang, Rote, Alor, hingga Sabu Raijua.

Pembukaan acara diawali dengan tarian penyambutan oleh Jemaat Tilon Aknino Klasis Kota Kupang Barat, dilanjutkan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. November Obehetan dan Pdt. Lelyn I.N. Ndun. Kegiatan ini dihadiri oleh Majelis Sinode Harian GMIT dan anggota, Wakil Gubernur NTT Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Johni Asadoma, Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni, Wali Kota Kupang Christian Widodo, serta jajaran pimpinan BUMD, perbankan, dan undangan lainnya.

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah teologis untuk mempererat komitmen persaudaraan sebagai satu tubuh Kristus demi membangun gereja lokal dan daerah Nusa Tenggara Timur.

“Selain sebagai sarana pemersatu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang pembinaan, pemberdayaan, dan sarana ibadah. Menghadapi tantangan modernisasi serta kemajuan teknologi yang cenderung membuat orang bernyanyi secara individualis, perlombaan ini mendorong pengembangan kualitas vokal dan puji-pujian yang bermutu agar sungguh-sungguh menyenangkan Tuhan serta pendengarnya,” ujar Pdt. Saneb.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyoroti pentingnya pembinaan musik gereja sejak dini. Ia menilai keberadaan kelompok paduan suara dari tingkat anak-anak hingga kaum bapak mencerminkan dinamika gereja yang hidup.

“Pelatihan bernyanyi sejak dini bagi anak-anak sangat krusial karena tidak hanya bertujuan memuliakan Tuhan, tetapi juga melatih otak, mengasah konsentrasi, memperhalus perasaan, mendorong kerja sama, serta membentuk karakter mereka,” ungkap Johni Asadoma.

Ketua Umum Panitia, Jefri Pelt, menambahkan bahwa ajang yang diinisiasi oleh Pemuda Sinode ini bertujuan meningkatkan kualitas nyanyian jemaat, melestarikan lagu rohani berbasis budaya lokal NTT, serta menjaring talenta musik gereja menuju tingkat nasional.

Sementara itu, Wali Kota Kupang Christian Widodo menyampaikan bahwa harmonisasi berbagai jenis suara dalam paduan suara merupakan cerminan kerukunan masyarakat yang majemuk. “Ubi concordia, ibi victoria—di dalam persatuan dan keharmonisan, kemenangan serta kebaikan bersama pasti dapat diraih,” tuturnya.

Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap kesuksesan ajang persekutuan tersebut, Penjabat Wali Kota Kupang turut menyerahkan bantuan hibah secara simbolis senilai Rp100 juta kepada pihak penyelenggara.

Lomba paduan suara akan diselenggarakan selama dua hari dengan juri tiga orang kelas tingkat nasional. Sementara di hari ketiga akan digelar simposium musik sebagai penutup rangkaian kegiatan.*