//Tantangan Jarak Tak Surutkan Semangat, Kontingen Kenari Voice Tampil di Simfoni Persaudaraan GMIT

Tantangan Jarak Tak Surutkan Semangat, Kontingen Kenari Voice Tampil di Simfoni Persaudaraan GMIT

Kontingen Kenari Voice, foto: Efrayim Sakan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Kontingen paduan suara asal Klasis Pantar Barat yang diberi nama “Paduan Suara Kenari Voice“ membawa 28 orang penyanyi beserta dirigen untuk berlaga dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Simfoni Persaudaraan GMIT di GMIT Center Kupang, 7-9 Oktober 2026. Tim yang didominasi oleh para pendeta ini harus melewati berbagai tantangan persiapan akibat kendala geografis.

Dirigen sekaligus peserta dari Klasis Pantar Barat, Pdt. Efraim Sakan, mengungkapkan bahwa anggota kontingen tidak hanya berasal dari wilayah Pantar Barat. Kendala jarak dan kesibukan pelayanan jemaat membuat pihaknya merangkul peserta dari klasis-klasis lain.

Dari total 28 penyanyi, kontingen ini terdiri atas 14 orang dari Pantar Barat, 5 orang dari Teluk Kabola, 2 orang dari Klasis Alor Barat Daya, 2 orang dari Alor Timur Laut, serta masing-masing 1 orang dari Abal, Alor Tengah Selatan, dan Alor Timur. Selain itu, terdapat pula 5 anggota tim yang merupakan non-pendeta untuk membantu melengkapi komposisi suara.

Pdt. Efraim menjelaskan bahwa akibat sebaran wilayah anggota yang berada di tujuh klasis berbeda, proses latihan awal dilakukan secara mandiri di lokasi masing-masing. Latihan bersama secara terpusat baru dapat dilaksanakan intensif selama satu minggu di Kalabahi sebelum keberangkatan ke Kupang.

“Kumpul-kumpulnya memang agak rumit karena kami di Pantar 14, yang lain tersebar di sekian klasis. Jadi kami latihan sendiri-sendiri. Kebetulan ada kegiatan kebersamaan klasis, kami menyanyi. Terus setelah itu sibuk lagi dengan pelayanan masing-masing di jemaat. Kalau ada kegiatan kebersamaan lagi, kami lanjut latihan,” jelasnya.

Dalam kategori lagu pilihan, kontingen Kenari Voice membawakan lagu berjudul Jangan Membalas Yang Jahat. Lagu tersebut dipilih lantaran telah dipelajari sebelumnya pada ajang Pesparawi lingkup Klasis Pantar Barat. Sementara untuk lagu daerah, tim akan membawakan lagu bergenre bahasa Pantar berjudul Abang Ara ciptaan almarhum Roni Boli dengan aransemen dari Joni Reoh Tadu. Lagu ini akan ditampilkan pada hari kedua Simfoni Persaudaraan GMIT.

“Abang Ara itu arti harfiahnya Kampung Besar. Itu bercerita tentang ada kampung besar, tapi kehidupan di dalamnya itu tidak baik-baik saja. Orang-orang di dalam itu tidak satu hati, mereka saling baku marah. Jadi lagu itu memohon ke Tuhan agar Tuhan memulihkan kembali relasi mereka,” kata Pdt. Efraim.

Ia melanjutkan bahwa lagu etnis tersebut lahir dari kecintaan dan keprihatinan terhadap kampung halaman untuk menggambarkan keindahan desa yang diwarnai oleh berbagai pergumulan hidup, seperti perubahan zaman, kehilangan orang terkasih, perpecahan sosial, serta kerinduan untuk kembali kepada Tuhan. Lagu ini berfungsi sebagai bentuk doa dan seruan hati bagi masyarakat di dalamnya agar senantiasa hidup dalam rasa takut akan Tuhan, bersatu, dan menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya. Melalui pengulangan kalimat yang memanggil nama Tuhan sebagai pusat spiritual, lagu ini mencerminkan ketergantungan manusia yang mendalam sekaligus menjadi permohonan agar Sang Pencipta senantiasa melihat, memperhatikan, serta memberkati kampung halaman mereka

Pada penampilan lagu daerah tersebut, seluruh anggota kontingen dijadwalkan mengenakan pakaian adat khas Pantar. Pdt. Efraim mengakui para anggota tim sempat merasa gugup jelang tampil di atas panggung besar.

“Agak gugup juga karena tidak semua pernah tampil. Kami biasa di mimbar biasa omong banyak toh, tapi giliran di panggung ternyata beda, Bapak. Rasa bercampur aduk begitu,” ungkapnya.

Simfoni Persaudaraan GMIT akan memasuki hari kedua, 8 Oktober 2026 untuk kategori lagu rohani bahasa daerah.*