//Simposium Musik Gereja Pesparawi GMIT 2026: Mengupas Eksplorasi Vokal hingga Kontekstualisasi Musik Gerejawi

Simposium Musik Gereja Pesparawi GMIT 2026: Mengupas Eksplorasi Vokal hingga Kontekstualisasi Musik Gerejawi

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar Simposium Musik Gereja di GMIT Center Kupang pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026 ini menghadirkan sesi materi mendalam serta pelatihan teknis bernyanyi bagi para peserta.

Simposium ini dihadiri oleh perwakilan peserta Pesparawi (8 orang dari setiap kontingen), UPP Litmuger Majelis Sinode GMIT, perutusan klasis dan jemaat, para pendeta, serta undangan lainnya. Panitia menghadirkan dua pakar paduan suara nasional sebagai pemateri sekaligus juri, yakni Ega Odeta Azarya (konduktor, penyanyi bass-baritone, pelatih vokal, dan komposer) serta Drs. Agastya Rama Listya, M.S.M., Ph.D. (akademisi, dirigen, komposer, dan juri paduan suara).

Dalam pemaparannya, Ega Odeta Azarya menegaskan bahwa bernyanyi yang baik tidak sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan menyampaikan pesan mendalam kepada pendengar.

“Suara manusia memiliki potensi warna dengan spektrum yang luas, karena itu setiap penyanyi harus mau dan bisa memproduksi suara dengan fleksibel, adaptif, dan luwes, supaya pesannya tersampaikan dengan baik,” kata Ega.

Ega menjelaskan bahwa eksplorasi vokal mencakup beragam warna suara (vocal color), termasuk penggunaan teknik whispering (berbisik tanpa nada) yang diterapkan oleh komposer Slovenia, Lojze Lebič. Penyesuaian warna suara ini harus selaras dengan genre karya; lagu folksong atau etnik membutuhkan karakter yang kuat, sedangkan lagu gereja dan klasik disajikan lebih halus serta tersirat. Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya dinamika dan pemahaman power vokal yang diibaratkan seperti hubungan gunung dan lembah demi mencapai puncak klimaks lagu.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pertanyaan dari para peserta. Dina Lake dari Jemaat Lanud El Tari Penfui menanyakan kendala teknis memulai lagu agar bagian akhir tidak tercecer serta cara menyanyikan nada naik berdinamika piano (lembut). Sementara itu, Ever Nenabu dari Klasis Kupang Barat berkonsultasi mengenai strategi menginterpretasikan lagu agar tidak monoton dan memiliki variasi warna suara.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ega menekankan bahwa seorang dirigen harus menyiapkan rencana interpretasi secara mendalam sebelum latihan dimulai. Mengenai ketepatan teknis, latihan berulang (repetition) dengan petunjuk jelas sangat penting untuk membangun keyakinan penyanyi. Ia juga menjelaskan penggunaan teknik support otot tubuh untuk membuka ruang bunyi saat mencapai nada tinggi berdinamika piano tanpa perlu mendorong suara secara kasar. Untuk kategori etnik, dianjurkan tetap menjaga blending dan keseimbangan vokal tanpa menghilangkan karakter khas musik daerah.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Drs. Agastya Rama Listya, M.S.M., Ph.D. mengenai “Kontekstualisasi Musik Gerejawi di Indonesia: Sejarah dan Praktiknya”.

Selain menerima paparan teori, seluruh peserta juga mendapatkan simulasi dan praktik langsung mengenai teknik bernyanyi.

Melalui simposium ini, Majelis Sinode GMIT berharap para pelatih, dirigen, dan penyanyi paduan suara dapat memperluas wawasan musikal serta meningkatkan kualitas pelayanan musik gereja di lingkungan GMIT secara berkelanjutan.*