
Kupang, www.sinodegmit.or.id, – Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melanjutkan komitmen menuju gereja inklusif melalui Training of Trainers (ToT) Gereja Ramah Disabilitas dan Pemutakhiran Data Insan Disabilitas Tahap III. Kegiatan dipusatkan di Jemaat Getsemani Sikumana, Klasis Kota Kupang Barat, Kamis-Jumat, 22-23 Oktober 2026.
Tahap III ini diikuti 60 peserta gabungan dari tiga teritori, yakni Teritori Malaka-Belu-Flores-TTU, Teritori Alor-Tribuana, dan Teritori Rote-Sabu-Raijua, ditambah tuan rumah Klasis Kota Kupang Barat. Hingga tahap ini, total fasilitator yang telah dilatih GMIT mencapai 126 orang dari 37 Klasis, dari target 152 orang dari 57 Klasis di seluruh GMIT.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, Wakil Walikota Kupang Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc., Asisten 1 Setda Kabupaten Kupang Guntur Taopan, Kombes Pol Rudi Ledoh, S.I.K., S.H., Lurah Sikumana, Sekretaris Bidang (Sekbid) Pelayanan Pemuda, Kaum Bapak, dan Insan dengan Disabilitas Pdt. Ferderik Herison Herewila, para Pendeta GMIT, Ketua Majelis Jemaat Getsemani Sikumana, serta para peserta ToT.
Dalam suara gembalanya, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur menegaskan urgensi gerakan ini. GMIT memiliki hampir 1,3 juta anggota jemaat dengan 250 ribu anak sekolah minggu dan 350 ribu pemuda, namun hingga kini belum memiliki data yang akurat tentang berapa banyak jemaat yang berkebutuhan khusus.
“Selama ini gereja cenderung menutup mata dan menganggap pendataan difabel sebagai urusan dinas sosial, padahal mereka nyata ada di tengah jemaat,” ujarnya.
Kurangnya kepekaan ini terlihat dari terbatasnya layanan pendidikan inklusif, di mana anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa masuk SD umum dan harus bergantung pada Sekolah Luar Biasa yang jumlahnya sangat terbatas di NTT.
Melalui tema Sinode 2024-2027 tentang keadilan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan, GMIT mendorong tiga langkah strategis: pertama, membangun kesadaran bahwa difabel adalah bagian dari jemaat; kedua, melakukan pendataan yang kuat sebagai dasar pelayanan; dan ketiga, mewujudkan pelayanan gereja yang ramah dan inklusif sesuai ajaran Kristus.
Ibadah pembukaan dilayani oleh Pdt. Christine Nisnoni dengan dasar firman Roma 15:1-7. Dalam khotbahnya, Pdt. Christine menegaskan bahwa tujuan dari pelatihan dan pemahaman firman bukan sekadar menambah pengetahuan atau membawa pulang sertifikat, melainkan harus menghasilkan perubahan nyata dalam cara kita memandang dan melayani sesama, khususnya saudara-saudara berkebutuhan khusus.
“Jika cara pandang kita tidak berubah, maka tujuan pelayanan belum tercapai,” tegasnya.
Berkaca dari bacaan Alkitab di atas, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Roma yang beragam latar belakang Yahudi dan non-Yahudi, bahwa Injil bukan hanya untuk dipercayai secara pribadi, tetapi harus membentuk cara hidup bersama sebagai satu persekutuan. Perbedaan suku, latar belakang sosial, pendidikan, hingga kondisi fisik tidak boleh menghancurkan persekutuan. Gereja dipanggil untuk tidak hanya fokus pada norma mayoritas, tetapi belajar menerima dan membangun hidup bersama dalam kemajemukan sebagai wujud kasih Kristus.

Wakil Walikota Kupang Serena C. Francis dalam sambutannya mengapresiasi GMIT yang memulai gerakan dari Jemaat Paulus hingga kini diterapkan di seluruh klasis. Ia menyebut mewujudkan gereja inklusif adalah langkah nyata menghormati martabat manusia.
Serena menekankan pelayanan kepada penyandang disabilitas memerlukan perlakuan khusus, seperti bahasa isyarat bagi Tuli dan pendampingan akses bagi Netra. Ia menilai pendataan yang dilakukan GMIT menjadi kunci agar program pelayanan tepat sasaran dan memudahkan sinergi bantuan dari pemerintah dan gereja.Pemkot Kupang, lanjutnya, juga telah mendorong lingkungan inklusif melalui program Kelurahan Ramah Disabilitas yang telah diluncurkan di Kelurahan Naikoten 1.
Adapun materi ToT selama dua hari meliputi 8 sesi: Inklusi Disabilitas, HAM dan UNCRPD, Juknis Gereja Ramah Disabilitas, Pendataan Metode Washington Group Question (WGQ), Desain Universal, GEDSI, Membangun Ruang Belajar, dan Iman yang Inklusif. *











