
Pengantar
Lembaga Alkitab Indonesia mencatat bahwa Wahyu 3:7-13 adalah Surat kepada jemaat di Filadelfia. Surat ini hampir sama dengan surat kepada jemaat Smirna karena isinya tidak memuat sindiriran atau celaan tapi semacam pujian dan penguatan kepada jemaat Tuhan di sana. Filadelfia adalah sebuah kota yang sering dilanda gempa bumi. Kota ini juga pusat penyebaran budaya Yunani (Helenisme), serta diwarnai ketegangan sosial yang tajam antara kelompok pengikut Kristus dan komunitas Yahudi lokal di bawah tekanan kekuasaan Kekaisaran Romawi (mungkin pada masa Domitianus sekitar tahun 90-95 M).
Pada masa itu jemaat Filadelfia dan jemaat-jemaat lain yang disebutkan dalam kitab Wahyu sedang pengalami tekanan dan penganiayaan, baik secara internal yakni yakni dari kelompok komunitas yahudi maupun dari pemerintahan kekaisaran Romawi. Melalui surat ini penulis kitab Wahyu bermaksud memberi penguatan kepada kelompok pengikut Kristus agar tetap kuat dan sabar menghadapi ancama-ancaman tersebut.
PENJELASAN TEKS.
1. Ayat 7–8: Kedaulatan Kristus, otoritas Yahudi dan ketaatan pengikut Kristus
Penulis menegaskan bahwa apa yang disampaikan itu adalahFirman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud. Gelar Yang Kudus, Yang Benar, Pemegang Kunci Daud adalah gelar yang lazimnya dikenakan kepada Yesus Kristus. Rupanya Orang-orang Yahudi mengklaim bahwa merekalah pemegang kunci Daud yakni kunci Kerajaan Mesias. Ketika penulis menyebut Yesus dengan gelar pemegang kunci Daud, sesungguhnya penulis hendak menegaskan bahwa Yesus Kristuslah yang memegang otoritas mutlak atas Kerajaan Allah dan akses menuju keselamatan bukan para pemimpin Yahudi. Sebagai Pemegang otoritas, Kristuslah membuka dan menutup pintu keselamatan dan tidak ada yang bisa membatalkannya termasuk pemimpin Yahudi Sekalipun.
Yesus Kristus sang Mesias dan pemegang kunci Daud itu berkenan membuka pintu Kerajaan Allah dan keselamatan bagi pengikut Kristus di Filadelfia bukan karena kebesaran dan kekuatan Jemaat Filadelfia melainkan karena mereka “menuruti Firman” dan “tidak menyangkal nama-Nya” kendati mereka mengalami berbagai tekanan dan penderitaan.
2. Ayat 9–11: Penganiayaan dan Janji Perlindungan
“Jemaat Iblis.” ungkapan inidipakai untuk menyebut jemah Yahudi karena mereka adalah umat Allah tapi menolak injil Yesus Kristus dan membenci orang-orang Kristen.Secara kasar ungkapan penulis inimencerminkan ketegangan sengit antara jemaat Kristen dan kelompok Yahudi mainstream. Pada masa itu, agama Yahudi diakui sebagai agama legal (religio licita) oleh Kekaisaran Romawi, sementara pengikut Kristus dianggap sebagai sekte ilegal yang berbahaya karena menolak menyembah Kaisar. Orang-orang Yahudi sering kali mengucilkan pengikut Yesus Kristus dan memprovokasi kekaiseran Romawi untuk menganiaya dan membunuh para pengikut Kristus. Namun pada akhirnya Kristus jugalah yang akan membuat orang-orang Yahudi ini bertobat. Mereka akan datang tersungkur dan mengakui bahwa jemaat pengikut Kristus adalah Jemaat yang dicintai Allah.
Selanjutnya “Hari pencobaan.” Ungkapan ini berkaitan dengan saat di mana tekanan dari sistem kultus kekaisaran Romawi (Imperial Cult) yang mewajibkan seluruh penduduk menyembah Kaisar sebagai dewa akan semakin meningkat. Orang-orang Kristen Filadelfia yang tidak mengikuti sistem kultis ini akan mengalami penganiyaan yang hebat pada masa itu. Bagi jemaat Filadelfia yang setia bertahan di tengah tekanan sosial dan politik tersebut, Kristus menjanjikan perlindungan rohani agar iman mereka tetap setia dan tidak goyah.
Terakhir: “Aku datang segera”: Ungkapan ini hendak mengatakan bahwa Yesus akan datang segera dalam kekuasaan dan kemuliaanNya untuk menghakimi dunia dan mendirikan kerajaanNya. Oleh karena itu jemaat Kristus di Filadelfia harus tetap berpegang pada apa yang mereka Imani. Buah dari ketekunan itu adalah bahwa mereka akan menerima mahkota (pahala) yang disediakan Tuhan bagi pengikut Kristus.
3. Ayat 12–13: Penopang dan Identitas Baru
“Menang akan menjadi soko guru dalam Bait Suci” Ungkapan ini adalah sebuah janji eskatologis, yakni mereka yang menang. Mereka menjadi pemenang karena mereka mampu bertahan dalam pendetaan sekaligus tetap mempertahankan iman, ketaatan dan kesetian kepada Kristus. Orang-orang seperti inilah yang akan dijadikan Sang Kristus sebagai soko guru dalam Bait Allah. Dalam Perjanjian Lama Bait Allah adalah tempat dimana Jemaat akan berkumpul. Dalam konteks ini, Bait Allah adalah simbol persekutuan pengikut Kristus. Mereka yang menang itulah yang akan menjadi penopang (soko guru) dalam persekutuan itu.
Selanjutnya ungkapan : “Kutuliskan nama Allahku, nama kota Allahku, yaitu Yerusalem baru”. Secara historis, ungkapan ini menunjuk kepada peristiwa hancurnya Kota Filadelfia akibat gempa bumi yang dasyat pada tahun 17 M.setelah gempa bumi, Kaisar Tiberius memberikan bantuan dana rekonstruksi sehingga kota ini sempat berganti nama menjadi Neocaesarea (Kota Baru Kaisar) untuk menghormati Kaiser Romawi. Namun secara teologis penulis melihat ini sebagai tawaran identitas baru yang diberikan Kristus kepada umat yang menang tadi. Identitas itu adalah identitas sejati yang jauh lebih mulia yakni menyematkan nama Allah dan nama kota Allah yakni Yerusalem Baru, Dengan ungkapan ini maka pengikut Kristus yang secara sosial dipandang rendah dan tidak diakui identitasnya bahkan terancam kehilangan kewarganegaraan maka oleh Kritus sang Kudus, sang sumber kebenaran dan pemegang Kunci Daud, memberikan status baru, yakni status kewarganegaraan kekal di dalam Kerajaan Allah.
Terakhir: Bertelinga, mendengar Perkataan Roh kepada jemaat-jemaat. Ungkapan ini mengandung makna bahwa Firman Allah hanya bisa dipahami oleh jemaat-jemaat apabila mereka menaruh pengharapan kepada Allah. Sebab Allah melalui Rohnya yang kudus itu mengilhamkan Firmannya kepada para penulis sehingga mereka menuliskan apa yang dikehendaki Allah bagi umatnya. Sedangkan untuk para pembaca atau pendengar mereka mendapat iluminasi Roh kudus agar dapat mengerti memahami dan melakukan kebenara Firman itu dengan benar.
Pokok-pokok refleksi:
- Tuhan Membuka Pintu bagi orang yang tetap setia kendati berada dalam situasi yang sulit dan penuh penderitaan. Pintu itu adalah pintu pengharapan akan masa depan. Orang kristen dipanggil untuk tetap melakukan hal yang benar sekalipun berada dalam kesulitan dan penderitaan. Tuhan membuka pintu pengharapan itu bukan karena kita memiliki kekuatan dan kemampuan yang dapat mempengaruhi Tuhan Allah. Ketika kita lemah dan tak berdaya namun tetap setia pada Firmannya maka Tuhan akan membuka pintu pengharapan itu bagi kita. Saat dimana Tuhan berkenan membukan dan menutup pintu pengharapan itu tidak ada kuasa atau kekuatan apapun di muka bumi ini yang dapat membatalkannya.
- Tuhan membuka pintu pengharapan bukan hanya untuk kepentingan kita, tetapi supaya kita menjadi alat kesaksian. Tuhan membuka pintu itu bukan saja agar kita sukses dan berhasil, tapi supaya kita menjadi berkat bagi orang lain dengan cara menghadirkan kesetiaan, kebenaran, dan kasih Allah di tengah-tengah dunia ini.
- Kesetiaan kepada Firman harus terlihat dalam kehidupan Sehari-hari. Firman Tuhan yang kita dengar pada setiap kesempatan beribadah tidak boleh berhenti di situ. Firman Tuhan harus terus menggema dalam kehidupan kita sehari-hari dapat sehingga membentuk cara kita berbicara, bekerja, memperlakukan sesama, menggunakan kekuasaan, mengelola keuangan dan mengambil Keputusan dan lain-lain. Kesetiaan kepada Firman berarti menghadirkan nilai Kerajaan Allah di tengah dunia dimana kita berada. Karena itu Kesetiaan kepada Firman bukan hanya soal mengetahui Firman, tetapi membiarkan Firman mengatur kehidupan kita. Ketaatan dan Kesetiaan pada Firman Tuhan adalah identitas sejati dari pengikut Kristus.
Pertanyaan untuk diskusi:
- Dalam kehidupan kita sekarang, apa saja bentuk tekanan yang dapat membuat orang Kristen tidak setia kepada firman Tuhan? Bagaimana mengatasinya
- Ketika Tuhan belum membuka “pintu” yang kita harapkan, apa yang harus kita lakukan ? Nyaatakan dalam contoh konkrit.
- Apakah yang dapat kita buat agar menjadi seperti jemaat Filadelfia: kecil dalam kekuatan tetapi besar dalam kesetiaan? Sebutkan beberapa contoh dalam kehidupan kita baik di kantor maupun di rumah atau di mana saja.











