//Kasih Kristus Sebagai Jalan Penyembuhan Relasi (Kolose 3:18–25) – Pdt. Lusia. M. Billik

Kasih Kristus Sebagai Jalan Penyembuhan Relasi (Kolose 3:18–25) – Pdt. Lusia. M. Billik


Pengantar

Keluarga adalah tempat pertama di mana seseorang belajar tentang kasih/cinta. Tapi apakah benar demikian…semua keluarga Kristen, telah menjadi tempat belajar cinta kasih?

Hari ini kita temukan realitas bahwa tidak semua rumah menjadi tempat yang aman dan menjadi tempat belajar tentang kasih. Ada keluarga yang dipenuhi pertengkaran, kata-kata yang melukai, bahkan kekerasan fisik maupun emosional. Tindakan ini bisa dialami oleh semua anggota keluarga. Suami dapat melukai istri. Istri dapat melukai suami. Orang tua dapat melukai anak, dan anak dapat mengecewakan orang tua. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disuguhi berita tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga yang terus meningkat.

Selain itu, Maurice Eminyan, seorang teolog penulis buku Teologi Keluarga, dengan mengejutkan menyatakan bahwa “banyak masalah yang dihadapi keluarga-keluarga mempunyai akarnya persis di sini: kekurangan cinta, kekurangan cinta yang benar. Kalimat ini menunjukkan bahwa banyak tindakan cinta yang dilakukan dalam keluarga ternyata tidak tepat. Di tengah-tengah kehidupan keluarga masa kini yang sepertinya berlimpah cinta kasih, justru sebagaimana yang diamati Eminyan, terdapat orang-orang yang lapar akan cinta! (Betul tidak menurut pengamatan kita….menurut pengamatan saudara??)

Mungkin kita berkata, tidaklah demikian, karena kami saling mencintai dan tidak ada dusta diantara kami. Jawaban itu tidak diragukan. Pertanyaannya bagaimana cara mereka mencintai/mengasihi? Dalam praktik, rasa cinta itu diwujudkan melalui kerja keras hingga larut malam. Dampaknya mereka malah tidak memiliki  waktu berkumpul dengan keluarga. Lalu, karena rasa bersalah tidak memiliki waktu bersama, digantikan dengan memanjakan anak atau keluarga dengan berbagai materi. Cinta identik dengan materi yang berlimpah. Di sinilah Eminyan benar. Yang hilang dari kita bukan cinta, tetapi cinta yang benar.

Di tengah pergumulan ini, pada minggu kedua perayaan bulan keluarga, kita akan fokus pada relasi keluarga inti, suami-istri, orang tua-anak. Kita belajar bahwa satu-satunya cara dalam menjalani kehidupan keluarga adalah menghidupi kasih Kristus sebagai kasih yang benar dan menjadi jalan penyembuhan relasi keluarga.

Penjelasan Teks

Kolose 3:18-25, menggambarkan relasi antara sesama anggota keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus, sebagai komitmen hidup manusia baru. Kehidupan yang baik dan penyembuhan relasi dimulai ketika setiap orang menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupannya. Karena itu, Paulus tidak hanya berbicara tentang bagaimana orang lain harus memperlakukan kita. Ia berbicara kepada setiap pribadi, apa yang Kristus kehendaki dari setiap anggota keluarga dalam relasi, dan yang utama relasi didasarkan pada kasih Kristus. Nasehat diberikan kepada masing-masing anggota keluarga. Itu berarti semua anggota keluarga memiliki tanggugjawab untuk menghidupi kasih.  

Pertama, mari dengar nasehat untuk para istri. Pada ayat 18, para istri dinasihati untuk menundukkan diri kepada suami bukan membangkang. Namun, kata tunduk mengalami pemaknaan ulang. Tunduk bukanlah ketundukan buta tanpa prasyarat, melainkan keputusan sukarela untuk mengalah, bekerja sama serta memikul tanggung jawab bersama dalam Kristus sebagai dasar dan teladan hidup. Ajakan untuk tunduk  diiikuti sebuah keterangan menarik, “sebagaimana seharusnya dalam Tuhan”. Artinyaayat ini tidak bermaksud menjadikan istri sebagai pelayan rendahan atau orang yang dijajah suami. Tapi Di hadapan Allah, nilai seorang istri dan suami adalah sama. Ketundukan ini berbicara tentang fungsi dan keharmonisan kepemimpinan bukan perbedaan derajat kemanusiaan. Ada yang harus jadi pemimpin/kepala, tetapi itu bukan berarti yang kepala yang paling hebat, penentu segala-galanya, dan derajatnya lebih tinggi,  tidak! Mereka sama di hadapan Tuhan.

Kedua bagi suami, Selanjutnya, ayat 19 untuk para suami. Perintah bagi istri pada ayat 18 langsung diikatkan dengan perintah bagi suami pada ayat berikutnya: “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”. Suami diminta mengasihi dengan pengorbanan (seperti Kristus mengasihi jemaat), sehingga fungsi kepemimpinan suami dijalankan dengan penuh kasih sayang, kelembutan, dan perlindungan, bukan dengan diktator atau kekerasan. Kata yang dipakai adalah “kasar” mencakup kekerasan verbal, sikap dingin, otoriter, egois, mau menang sendiri, atau merendahkan martabat istri. Kekasaran sering kali muncul ketika seorang suami merasa memiliki posisi yang lebih tinggi atau berkuasa dalam rumah tangga, sehingga memperlakukan pasangannya secara semena-mena. Hal ini kontras dengan Kasih Kristus. Rasul Paulus menyejajarkan perintah “jangan berlaku kasar” dengan panggilan untuk mengasihi (agapate) seperti kasih Kristus yang melindungi, menguatkan, dan berkorban bukan melukai atau melemahkan.

Ketiga, untuk anak-anak. “Taatilah orang tua dalam segala hal, karena itulah yang indah dalam Tuhan”. Secara harfiah, kata taat dalam bahasa Yunani yaitu hupakouo terbentuk dari dua kata: hupo (di bawah) dan akouo (mendengar). Artinya, taat bukan sekadar mendengar dengan telinga lalu mengabaikan, melainkan mendengar dengan seksama di bawah otoritas seseorang, lalu meresponsnya dengan tindakan nyata. Itu berarti taat adalah tindakan dengar-dengaran dan menindaklanjuti yang di dengar. Taat, itu gaya hidup bukan sebuah tindakan keterpaksaan.

Pertanyaan yang sering muncul dalam kaitan dengan ketaatan pada orang tua adalah  bagaimana kalau orang tua tidak menjadi teladan? Bagaimana kalau orang tua tidak menjadi contoh? Ketaatan ini berlaku untuk hal-hal yang benar, baik, dan sah di mata Tuhan. Namun, para penafsir Alkitab mencatat bahwa ketaatan ini tidak mencakup perintah yang bersifat dosa atau melanggar hukum Tuhan (jika orang tua menyuruh berbuat jahat, maka otoritas Tuhan yang harus lebih ditaati), kita tak perlu melakukan, tapi bukan berarti kita menjadi tidak hormat pada oang tua.

Keempat, Bagi orang tua. jangan sakiti hati anak, supaya jangan tawar hati. Ada timbal balik. Orang tua tidak hanya harus dihormati, tetapi juga menjadi teladan dalam kasih. Disini ada pelajaran tentang keseimbangan antara disiplin dan kasih.
Paulus tidak melarang orang tua memberikan didikan atau aturan (sebagaimana tertulis juga dalam Efesus 6:4, tetapi didikan tersebut harus dilakukan dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan, bukan dengan intimidasi. Keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi tempat di mana kasih Tuhan nyata. Sikap seorang ayah terhadap anaknya seharusnya mencerminkan bagaimana Allah Bapa memperlakukan umat-Nya dengan penuh kasih, sabar, dan menguatkan, bukan membuat gentar.  

Kelima, Paulus kemudian berbicara kepada para hamba. Kita perlu membaca bagian ini dalam konteks dunia kuno. Paulus sedang memberikan arahan kepada orang-orang yang berada dalam struktur sosial yang ada pada zamannya, sambil menegaskan bahwa pelayanan mereka pada akhirnya dilakukan “untuk Tuhan.”Ayat 23 berkata: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Prinsip ini sangat relevan bagi semua relasi. Kita sering memperlakukan orang berdasarkan apa yang bisa mereka berikan kepada kita. Kalau seseorang berguna bagi kita, kita menghargainya. Kalau seseorang tidak lagi memberikan keuntungan, kita mengabaikannya. Namun Kristus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh manfaatnya bagi kita. Tapi karena dia berharga di hadapan Allah.

Aplikasi

Dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup keluarga, maka kita belajar dari teks ini bahwa penyembuhan relasi tidak dimulai dengan menuntut orang lain berubah. Penyembuhan dimulai ketika kita bersedia membiarkan Kristus mengubah cara kita memperlakukan sesama anggota keluarga. Karena itu mari kita menerapkan firman Tuhan dengan belajar:

Pertama, dalam relasi suami-istri: pilih kasih, bukan kuasa. Perintah kepada istri dan suami, mengajarkan bahwa kehidupan pernikahan Kristen tidak dibangun di atas perebutan kuasa, melainkan pada kasih Kristus. Maka pertanyaannya bukan hanya apakah pasangan saya sudah memperlakukan saya dengan baik? Tetapi juga apakah melalui perkataan dan tindakan saya, pasangan saya mengalami kasih Kristus? Kasih Kristus mendorong suami dan istri untuk belajar mendengarkan, menghormati, mengampuni, meminta maaf, dan memperbaiki kesalahan. Dalam relasi berumah tangga, mari membiasakan kalimat sederhana “Maaf, saya sudah menyakiti hatimu, Saya mau mendengarkanmu, Saya tidak ingin terus menyelesaikan masalah dengan kemarahan, mari kita mencari jalan keluar bersama.”Kasih Kristus bukan sekadar perasaan. Kasih Kristus terlihat dalam cara kita berbicara, memperlakukan, dan menghargai pasangan. itulah cinta yang benar.

Namun, mengasihi tidak berarti membenarkan kekerasan. Kekerasan fisik, seksual, verbal, maupun emosional bukan bentuk kasih Kristus. Dalam situasi kekerasan, mencari pertolongan, perlindungan, dan pendampingan bukanlah kegagalan iman. Keselamatan dan martabat setiap orang harus dijaga.

Kedua, dalam relasi orang tua dan anak: jadilah tempat yang aman. Orang tua memiliki pengaruh besar terhadap hati dan masa depan seorang anak. Seorang anak dapat melupakan banyak nasihat, tetapi ia sering mengingat bagaimana orang tuanya membuatnya merasa dan memperlakukannya. Karena itu mari bertanya, apakah rumah menjadi tempat di mana anak merasa aman untuk bercerita? Apakah anak dapat mengakui kesalahannya tanpa takut dihina? Apakah teguran diberikan untuk membangun atau justru untuk mempermalukan? Apakah perkataan kita membuat anak bertumbuh atau membuatnya merasa dirinya tidak berharga? Kasih Kristus mengajar orang tua untuk tegas tanpa menyakiti, mendisiplin tanpa merendahkan, menegur tanpa menghancurkan harga diri, dan mengarahkan tanpa menggunakan ketakutan. Orang tua tidak dipanggil untuk menjadi sempurna. Tetapi orang tua dipanggil untuk terus belajar menghadirkan Kristus di dalam rumah. Kasih yang benar, cinta yang benar bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi perhatian dan waktu bagi mereka. Demikian juga anak-anak, jadilah pribadi yang mengasihi orang tuamu. Berlakulah sopan dan tidak kasar dan dengar-dengaran kepada mereka.

Ketiga, dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, lakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Dalam hidup sehari-hari, kita sering bertanya: “apa yang saya dapatkan dari orang ini? Tetapi Kristus mengajar kita untuk bertanya “apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan terhadap orang ini?”Ketika kita bekerja, kita tidak hanya bekerja karena atasan melihat. Ketika kita melayani, kita tidak hanya melayani ketika mendapat pujian. Ketika kita menolong, kita tidak hanya menolong orang yang dapat membalas kebaikan kita. Ketika kita mengasihi, kita tidak hanya mengasihi orang yang mudah dikasihi. Kita melakukan semuanya seperti untuk Tuhan.Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa besar manfaatnya bagi kita. Tetapi karena dia berharga di mata Tuhan. Di rumah, di gereja, di tempat kerja, di lingkungan masyarakat, bahkan dalam relasi yang sulit, kita dipanggil untuk membawa karakter Kristus.

Silahkan jalankan peran kita masing-masing sesuai dengan yang Tuhan berikan bagi kita. Mulailah dari diri kita yang terus mengasihi karena Kristus telah mengasihi kita. Mulai dari diri kita untuk berlaku tidak kasar, berlaku tunduk, berlaku hormat dan setia dan melakukan apa saja seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia.*