
Suasana pelayanan kesehatan di Pos Pelayanan Makepaket. Sumber foto: doc. kominfo GMIT
Flores, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) kembali menerjunkan tim kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan logistik, layanan kesehatan, pemulihan psikososial, hingga pendampingan psikospiritualbagi warga terdampak bencana di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Aksi kemanusiaan yang berlangsung pada 23–28 September 2026 ini merupakan tindaklanjut dari respon sebelumnya yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus-09 September 2026, yang telah menyasar para penyintas di tiga pos terpadu GMIT yakni di Bajawa (meliputi: Bajawa, Aimere, Waelengga, Borong, Makepaket, Mbay), Maumere (meliputi: Ende Dan Maumere), serta Ruteng (meliputi: Ruteng, Reo, Serise). Dalam respon kali ini juga dilakukan peningkatan kapasitas tanggap bencana bagi jemaat-jemaat setempat.
Aksi kemanusiaan dan pelayanan holistik ini terlaksana berkat dukungan pendanaan GMIT dan Mitra-mitra strategis, seperti Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), bersama mitra ekumenikal lainnya, Mission 21, kolaborasi Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI, BPRB Sinode GMIT, Jejaring Komunitas Kristen Penanggulangan Bencana Indonesia (JAKOMKRIS PBI), serta bantuan berbagai lembaga dan donatur yang disalurkan melalui Sinode GMIT.
Untuk mengoptimalkan jangkauan, tim tanggap bencana dibagi menjadi dua tim operasional. Tim A bergerak dari di Pos Terpadu (Poster) Ebenhaezer Bajawa dan melayani wilayah Bajawa dan Aimere di kab. Ngada, Borong dan Waelengga di Kabupaten Manggarai Timur, Boawae, Mauponggo, Mbay, dan Makipaket di kab. Nagekeo. Sementara itu, Tim B beroperasi dari Poster Imanuel Ruteng guna menjangkau area Ruteng dan Reo di Kabupaten Manggarai serta Serise di Kabupaten Manggarai Timur.
Pasca bencana tersebut, penyaluran bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar dilakukan kontinu melalui Pos Terpadu GMIT di lapangan dalam bentuk paket logistik (Basic Food, Hygiene Kits, Shelter kit), untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Kali ini penyaluran dilakukan dengan membagikan Basic Food 65 paket di Posko Bajawa, 100 paket di Epata Reo, dan 100 paket di Serise, Serta 30 paket perlengkapan hunian darurat (shelter kit) di Serise. Selain logistik, layanan kesehatan intensif juga digelar serentak pada Sabtu, 26 September 2026. Di wilayah Mbay, tim medis berhasil melayani 51 pasien, sedangkan Reo tercatat sebanyak 90 pasien, dan di Serise tercatat 85 pasien, yang telah mendapatkan penanganan medis gratis.

Suasana pelayanan kesehatan di Serise. Sumber foto: doc. kominfo GMIT
Layanan kesehatan tersebut melibatkan kolaborasi tenaga medis, termasuk dokter spesialis, perawat, dan bidan dari RSUD W.Z. Yohanes Kupang, serta tenaga kesehatan dari pos terpadu Bajawa dan Ruteng, puskesmas terdekat, serta dukungan para pendeta dan presbiter setempat. Berbagai keluhan kesehatan masyarakat teridentifikasi dan ditangani, mulai dari hipertensi, dispepsia, diabetes melitus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mialgia, keluhan gula darah, pemeriksaan EKG, hingga sefalgia dan flu biasa (common cold). Layanan ini terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Dukungan Psikososial oleh 2 fasilitator yakni Psikolog Klinis (Andy Hafsa) dan non psikolog (Nona Apung Oiladang) memandang bencana alam memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi warga terdampak. Reaksi seperti ketakutan, cemas, sedih, sulit tidur, mudah menangis, atau menjadi lebih pendiam merupakan respons wajar setelah mengalami situasi yang menegangkan.
Sebagai upaya menjaga keseimbangan mental warga selama masa tanggap darurat. Pendekatan yang dirancang untuk menciptakan ruang aman (safe space), memvalidasi emosi negatif, meredakan ketegangan saraf, serta mengembalikan keceriaan dan rasa aman warga dalam interaksi sosial di situasi darurat ini. Dukungan psikososial juga membantu mereka, didengarkan, dipahami dan memperoleh kembali keberanian dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang akan dihadapi. Dukungan ini diharapkan dapat membantu individu dan kelompok dalam mengelola stress, memperkuat sumber daya dan mencegah perkembangan permasalahan psikologis yang lebih serius.
2 Psikolog Klinis lain yaitu Elia F. H. Bandi M.Psi, dan Feny P. Ratu, M.Psi, juga melakukan layanan konseling kepada 85 orang dewasa termasuk lansia di posko Golo Congo Reo dan Serise. Para penyintas diberikan kesempatan untuk berbagi cerita mengenai pengalaman saat gempa, hingga perubahan hidup yang dialami selama berada di posko. Sebagian besar bercerita dengan perasaan sedih, kecewa, takut, dan sesekali menangis. Untuk mereduksi rasa cemas, tegang, takut, atau tidak nyaman. Diberikan beberapa teknik meliputi : 1) Teknik Grounding, 5-4-3-2-1, teknik yang dilakukan untuk memberikan latihan kesadaran penuh menggunakan panca indra untuk meredakan kecemasan, panik, atau pikiran berlebih dengan mengembalikan fokus. 2) Butterfly Hug, sebagai teknik sederhana untuk membantu memberikan rasa aman untuk menenangkan diri. 3) Relaksasi pernapasan 4-2-6, dengan mengatur pola pernapasan secara perlahan dan teratur.

Penyaluran bantuan logistik di di Serise. Sumber foto: doc. kominfo GMIT
Disamping itu layanan konseling Individual juga dilakukan kepada 11 orang, yang mengalami gangguan serius seperti: Kesulitan tidur yang berat (1 hari paling lama 1 jam, saat setelah kejadian gempa), jantung berdebar, dada terasa sesak, kecemasan dan ketakutan berlebihan yang sulit dikontrol. Terkait kondisi ini, tim psikolog memberikan rekomendasi agar para penyintas ini mendapatkan pendampingan dan pemeriksaan lebih komperhensif.
Ketua Badan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB) Sinode GMIT Pdt. Adi Amtaran menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan pasca bencana di lapangan.
“Kunjungan kali ini sangat holistik. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pasca bencana tidak hanya sebatas bantuan fisik atau material, tetapi juga mencakup pemulihan mental, sosial dan spiritual serta peningkatan kapasitas untuk mencapai ketangguhan pasca bencana gempa bumi” ujar Pdt. Adi.
Ia menambahkan harapannya agar aksi nyata ini mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi pemulihan Flores, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dan kepedulian antar sesama dan lintas agama dalam menghadapi situasi darurat bencana.

Trauma healing kepada anak-anak korban gempa di Pos Pelayanan Ebenhaezer Mbay oleh Pdt. Menina J.T. Rambu Saingo, Pelayan Jemaat Ebenhaezer Bajawa. Foto: doc. Kominfo GMIT
Kondisi Lapangan dan Kebutuhan Mendesak Warga
Di wilayah Nagekeo, tepatnya di Pos Pelayanan Immanuel Makipaket yang masuk dalam lingkup Jemaat Ebenhaezer Mbay—yang mengayomi empat mata jemaat yakni Pniel Boawae, Viktori Mauponggo, Betel Nangaroro, dan Ebenhaezer Mbay di bawah pelayanan Pdt. Jamres Ur dan Pdt. Marlina Nubatonis —kondisi warga mulai menunjukkan stabilitas psikologis meski gempa susulan masih terjadi.
Ketua RT 13 Makipaket, Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, Marsel, menyatakan bahwa lokasinya yang amat dekat dengan pusat gempa membuat pasokan listrik dan air bersih menjadi kebutuhan yang paling mendesak saat ini. Mengenai kerusakan bangunan, sebanyak 8 rumah di RT 13 dan 7 rumah di RT 14 telah menerima dana kompensasi dari pemerintah dan siap melanjutkan proses perbaikan. Menurutnya, kondisi psikologis warga kini jauh lebih tenang dan tidak sepanik pada hari pertama bencana.
Meski demikian, penderitaan warga di pengungsian masih menyisakan kisah pilu. Mama Odilia, salah seorang warga lokal yang kini bertahan di tenda darurat akibat rumah, dapur, dan MCK miliknya hancur total, harus menghadapi beban ganda. Selain kehilangan hunian yang dibangun lima tahun lalu, ia merawat anak ketiganya, Yohanes (10), yang mengalami luka bengkak dan bernanah di bagian kaki. Luka yang bermula dari insiden terdorong teman sekolah dan pengurutan tradisional tersebut tak kunjung sembuh meski telah dirawat satu bulan di rumah sakit, hingga memunculkan kekhawatiran terjadinya infeksi tulang yang parah.
Di tempat berbeda, di Serise- Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda Utara- Kabupaten Manggarai Timur, masyarakat masih enggan menempati rumah-rumah pribadi, selain karena rusak, tetapi juga karena gempa susulan yang belum kunjung berhenti. Mereka membuat tenda darurat secara mandiri untuk tinggal sementara.

Penyerahan bantuan logistik
Seorang Nelayan berujar:“Kampung kami berada persis di pesisir pantai, saat gempa tanggal 15 Agustus 2026 itu, suara gemuru begitu kencang datang dari laut, saya berlari keluar dan melihat laut seperti mendidih”. Ketakutan akan tsunami masih terus menghantui. Masyarakat yang sebagian besar berpenghasilan sebagai nelayan, hingga hari ini masih belum berani melaut.
Di tempat yang sama Bapak Kris Pani Ketua RT 07 di Serise, menyampaikan bahwa salah satu kesulitan yang mereka alami yaitu kebutuhan akan air minum.
“Di Serise kami memang memiliki 20-an sumur galian, tetapi setelah goncangan gempa itu, air sumur kami menjadi payau, dan tidak bisa dipakai untuk minum, Kadar kapurnya juga tinggi sekali. Kami harus membeli air minum di Reo dengan harga Rp.10.000 per satu galon, tetapi dengan jarak tempuh satu jam perjalanan.
Di tengah kondisi ini, dalam kolaborasi GMIT dengan mitra strategis dilapangan, Jemaat Bukit Sion Serise dan Epata Reo mendapatkan dukungan dari Mennonite Diakonia Service (MDS) berupa masing-masing satu unit mesin filter air, dan dua unit rumah ibadah semi parmanen. Langkah ini menjadi penting, ditengah kondisi dua gedung gereja ini, tidak dapat lagi dipakai untuk beribadah.
Kehadiran tim gabungan GMIT bersama para mitra kemanusiaan diharapkan dapat terus menambal celah kebutuhan dasar serta mempercepat proses pemulihan fisik, mental, sosial dan spiritual warga terdampak di seluruh titik bencana di Flores.*











