//Angin Puting Beliung Terbangkan Atap Gereja Yegar Sahaduta Belo, Jemaat Ibadah di Tenda Darurat

Angin Puting Beliung Terbangkan Atap Gereja Yegar Sahaduta Belo, Jemaat Ibadah di Tenda Darurat

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, – Bencana angin puting beliung menghantam gedung Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Yegar Sahaduta Belo, Klasis Kota Kupang Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Peristiwa singkat tersebut menyebabkan kerusakan berat hingga 80 persen pada bagian atap dan plafon, sehingga memaksa jemaat untuk melaksanakan ibadah Minggu di bawah tenda darurat.

Gedung gereja yang berlokasi di RT 02/RW 01, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa ini mengalami kerusakan signifikan tepat setelah jemaat menyelesaikan renovasi ruang utama yang dilakukan secara bertahap selama setahun terakhir.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Belo, Pdt. Selvy Asfes Zina, S.Th., mengungkapkan bahwa bagian plafon dan atap yang hancur tersebut baru saja dinikmati jemaat selama empat bulan.

“Tuhan kembali menguji kami lewat peristiwa yang datang begitu tiba-tiba,” ujar Pdt. Selvy di lokasi kejadian, Sabtu (24/1/2026).

Menurut penuturan Pdt. Selvy, bencana terjadi sekitar pukul 00.30 WITA, sesaat setelah ia dan jemaat selesai beraktivitas di gereja. Kejadian diawali dengan padamnya aliran listrik yang disertai angin kencang dengan durasi yang sangat singkat.

“Kejadiannya sangat singkat, tidak sampai satu menit. Namun angin begitu kuat hingga membongkar atap gedung gereja,” jelasnya.

Kondisi gedung saat ini tidak memungkinkan untuk digunakan ibadah di dalam ruangan, terutama mengingat intensitas hujan di wilayah Kupang yang masih tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan memperparah kerusakan material bangunan yang masih tersisa.

Meski kondisi bangunan rusak berat, pihak gereja memastikan aktivitas peribadatan tetap berjalan. Pihak majelis jemaat bersama warga menyiapkan tenda darurat di halaman gereja untuk ibadah Minggu (25/1/2026).

Pdt. Selvy berharap adanya perhatian dari pemerintah serta donatur terkait bantuan material bangunan.

“Di tengah musim hujan seperti sekarang, kami sangat berharap ada uluran tangan. Jika tidak segera diperbaiki, tentu aktivitas ibadah jemaat akan sangat terganggu. Jemaat memang sedih melihat kondisi gereja, tetapi kami percaya Tuhan memiliki rencana terbaik di balik musibah ini,” pungkasnya.

Saat ini, GMIT Yegar Sahaduta Belo yang melayani 83 kepala keluarga (323 jiwa) tengah mengupayakan bantuan untuk pemulihan bangunan. ***