//Antisipasi Krisis Global, Ketua Sinode GMIT Tekankan Program Ketahanan Pangan pada Persidangan Majelis Klasis Kupang Tengah

Antisipasi Krisis Global, Ketua Sinode GMIT Tekankan Program Ketahanan Pangan pada Persidangan Majelis Klasis Kupang Tengah

Foto: Abdi Maunino

KUPANGwww.sinodegmit.or.id, Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Semuel Benyamin Pandie, mengingatkan jemaat akan potensi dampak buruk konflik global antara Amerika Serikat-Venezuela serta krisis di Iran. Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam pembukaan Sidang Majelis Klasis Kupang Tengah ke-42 yang berlangsung di Jemaat GMIT Rehobot Fatukanutu, Rabu (21/01/2026).

Pdt. Semuel menegaskan bahwa ketegangan geopolitik internasional dapat memicu kenaikan harga energi, pangan, dan inflasi yang secara tidak langsung berdampak pada kehidupan jemaat. Oleh karena itu, beliau mengimbau agar gereja merespons melalui program pelayanan yang nyata dan berbasis ketahanan pangan.

“Semua hal yang terjadi di luar sana, baik di Amerika, Venezuela, maupun Iran, harus kita akui berdampak kepada kita. Karena itu, penting untuk menjaga semangat gotong royong dan saling menopang melalui program pelayanan yang nyata,” ujar Pdt. Semuel Pandie dalam suara gembalanya.

Sebagai langkah strategis, Pdt. Semuel mendorong jemaat untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal agar mampu berdikari dalam memenuhi kebutuhan pokok. Beliau menegaskan agar proses persidangan Majelis Klasis kali ini memprioritaskan program ketahanan pangan sebagai agenda utama dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi dunia.

Selain ketahanan pangan, Ketua Sinode menekankan pentingnya membangun ekosistem berjejaring antara gereja, pemerintah, dan organisasi lainnya.

“Kita harus membangun kolaborasi untuk mendukung program-program yang diputuskan agar tujuan yang ditetapkan berjalan lebih efektif,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Bupati Kupang, Yosef Lede, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyambut baik ajakan kolaborasi dari pihak gereja. Mengutip pesan khotbah tentang “Syalom Allah”, Bupati Yosef menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam melayani masyarakat.

“Hari ini kita memiliki komitmen yang sama. Pemerintah butuh berkolaborasi dengan gereja untuk menghadirkan jawaban bagi masyarakat melalui program-program yang diputuskan dalam persidangan ini,” pungkas Yosef Lede.

Rangkaian acara pembukaan ini diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Maria Belandina Tuulima. Dalam khotbahnya yang didasari Mazmur 89:1-19, Pdt. Maria mengajak gereja untuk meninggalkan indikator keberhasilan lama dan beralih ke indikator baru yang lebih menekankan pada kehadiran nyata gereja di tengah jemaat sebagai pembawa perubahan.

Persidangan Majelis Klasis Kupang Tengah ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 21-22 Januari 2026.

Sebagai simbol komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan, acara pembukaan ditutup dengan penanaman anakan pohon kelapa di pelataran Gereja GMIT Rehobot Fatukanutu oleh Ketua Sinode, Bupati Kupang, dan para undangan. *** (Abdi Maunino)