//Dibangun Swadaya Rp 1,3 Miliar Tanpa Hutang, Gedung Ibadah Mata Jemaat Ebenhaezer Nifubia Akhirnya Ditahbiskan

Dibangun Swadaya Rp 1,3 Miliar Tanpa Hutang, Gedung Ibadah Mata Jemaat Ebenhaezer Nifubia Akhirnya Ditahbiskan

SoE, TTS, www.sinodegmit.or.id,  – Setelah 22 tahun dibangun secara swadaya dengan total anggaran Rp. 1.359.487.470 tanpa pinjaman sepeser pun, Gedung Ibadah Mata Jemaat Ebenhaezer Nifubia, Jemaat GMIT Ofu, Klasis Amanuban Tengah Selatan akhirnya ditahbiskan oleh Majelis Sinode GMIT pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Gereja yang telah berdiri sejak tahun 1918 sebagai persekutuan jemaat Kristen ke-II setelah Jemaat Sonhalan Niki-Niki itu kini dilayani oleh Pdt. Dina A. Keling, dengan jemaat berjumlah 106 KK yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Salah satu Panitia Pembangunan, Yunias Nenohaifeto dalam laporannya menegaskan pekerjaan pembangunan yang dikerjakan sejak tahun 2004 ini bersumber dari hasil kebun jemaat, sumbangan wajib, bantuan pemerintah, dan usaha panitia.

“Kami bangun tanpa hutang, semua karena pertolongan Tuhan. Terima kasih kepada Tuhan Yesus dan semua pihak yang mendukung pembangunan ini hingga selesai,” kata Yunias.

Acara diawali dengan tarian penyambutan dan natoni, dilanjutkan pembukaan selubung papan nama, penandatanganan prasasti oleh Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie dan Ketua DPRD Provinsi NTT Ir. Emilia Nomleni, pelepasan burung merpati, pengguntingan pita, dan penyerahan kunci gedung kepada Majelis Sinode GMIT dan kepada koster untuk membuka pintu.

Selanjutnya ibadah dipimpin oleh Pdt. Hendriana M. Taka Logo sebagai liturgos, dan Pdt. Semuel B. Pandie sebagai pengkhotbah.

Berdasarkan Kitab Matius 8:14-22, Pdt. Semuel dalam khotbahnya menegaskan 3 Model Gereja yakni: pertama, Gereja Monumen: Gereja yang indah dan megah, tapi hanya untuk kenyamanan diri sendiri. Tidak menghasilkan apa-apa, hanya menjadi tontonan. Kedua, Gereja Mesin: Gereja yang sibuk dengan administrasi, struktur, rapat, program, sampai lupa tujuan utama yaitu menolong orang yang susah.

Ketiga, Gereja Movement (Gerakan): Gereja sejati. Seperti mertua Petrus yang setelah disentuh dan disembuhkan Yesus, tidak pakai drama, tidak pakai tunggu lama, langsung bangun dan melayani. Inilah gereja yang diharapkan: Sembuh, Bangun, Melayani.

“Gedung baru ini harus menjadi awal dari gerakan pelayanan, bukan akhir”, pesan Pdt. Semuel.

Sementara itu Ir. Emilia Julia Nomleni dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menyampaikan bahwa gedung ini selesai bukan hanya karena uang banyak, tetapi karena kolaborasi.

 “Banyak tangan-tangan kecil dari orang-orang sederhana yang menaruh hati dan tenaganya di sini. Di hadapan Tuhan, tidak ada pemberian yang kecil. Semua yang terlibat, besar atau kecil, adalah orang-orang hebat, karena ukurannya adalah hati untuk bekerja bersama, saling bergandengan tangan,” tegasnya.

Ia juga mengajak jemaat untuk menjaga gedung ini sebagai pusat pertumbuhan iman.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Majelis Klasis Amanuban Tengah Selatan, Pdt. Emr. Robert Litelnoni, Anggota DPRD Provinsi NTT David Boimau, Drs. Benny Alexander Litelnoni, S.H., M.Si, Camat Kolbano, para Pendeta GMIT, dan tamu undangan lainnya serta jemaat setempat.*