
KUPANG, www.sindogmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar aksi solidaritas spiritual bertajuk ‘Doa Bersama bagi Flores’ di GMIT Center Kupang pada Senin (7/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan moral, spiritual, dan kepedulian nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana alam gempa bumi di Flores.
Doa bersama tersebut dihadiri oleh jajaran Majelis Sinode GMIT, para Ketua Majelis Klasis se-teritori Kupang Daratan, serta para pendeta GMIT dari Klasis Kota Kupang, Klasis Kota Kupang Barat, dan Klasis Kota Kupang Timur. Turut hadir pula Badan Pembantu Pelayanan (BPP) Sinode, Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Majelis Sinode GMIT, hingga karyawan Kantor Sinode GMIT. Sementara itu, peserta dari Flores dan tempat lainnya hadir secara hybrid melalui zoom.
Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, dalam suara gembalanya menegaskan pentingnya mewujudkan persekutuan sejati (koinonia) di dalam satu tubuh Kristus. Menurutnya, persekutuan tersebut tidak boleh sebatas pertemuan fisik atau rasa simpati formalitas semata, melainkan keterikatan batin yang mendalam.
“Dalam merespons bencana gempa bumi di Flores, ibadah dan doa yang dilakukan bukanlah sekadar mendoakan Flores dari kejauhan, melainkan ‘berdoa bersama Flores’ sebagai bagian dari keluarga yang utuh. Hal ini diwujudkan melalui simpati emosional yang mendalam—menangis dan merasakan duka bersama—agar para korban bencana tidak merasa berjuang sendirian di tengah masa-masa sulit,” ujar Pdt. Zimrat.
Lebih lanjut, Pdt. Zimrat menyampaikan bahwa luka akibat penderitaan bencana harus diubah menjadi tindakan nyata atau “lagu kasih.” Penggalangan bantuan, dukungan doa, donasi, serta kehadiran jajaran pimpinan di lapangan merupakan wujud keterlibatan bersama untuk menopang warga terdampak agar dapat bangkit kembali.

Ibadah tersebut dipimpin oleh Pdt. Venty Sutrisno. Dalam khotbahnya berdasarkan Roma 12:15, Pdt. Venty menekankan pentingnya empati, kepedulian, dan aksi nyata kasih dalam menghadapi penderitaan sesama, khususnya para korban bencana di Flores.
“Meskipun kita tidak dapat memulihkan seluruh kerusakan, menghapus trauma, atau mengembalikan barang yang hilang secara instan, kehadiran dan keberadaan kita untuk saling menopang serta berbagi mampu memberikan kekuatan besar bagi mereka yang menderita. Kasih sejati tidak sekadar mengakui atau menonton penderitaan orang lain dari jauh, melainkan mengubah hati kita untuk mau keluar dari kenyamanan diri, hadir menemani, merasakan kepedihan mereka, serta “menangis bersama orang yang menangis, kata Pdt. Venty”
Ia melanjutkan bahwa melalui penderitaan ini, kita diajak untuk menghidupkan kembali nilai kemanusiaan dan merespons panggilan Tuhan sebagai satu tubuh di dalam Kristus. Bencana fisik boleh saja meruntuhkan bangunan atau menimbulkan duka mendalam, tetapi tidak boleh meruntuhkan pengharapan maupun mematikan kasih kita. Ketika kita hadir, merawat, dan menguatkan sesama di tengah kesusahan, kita sedang menjadi saluran kasih Allah—Sang Immanuel—yang senantiasa menyertai, menghibur, dan memberikan kekuatan bagi mereka untuk bangkit kembali.
Rangkaian ibadah diisi dengan doa syafaat yang mendalam memohon perlindungan, penghiburan, serta pemulihan bagi para korban bencana di Flores dan wilayah Indonesia lainnya. Selain doa bagi kelancaran tugas para pelayan Tuhan di lokasi bencana, dalam ibadah tersebut juga dilakukan penghimpunan persembahan sukarela yang dialokasikan langsung untuk penanganan Bencana Gempa Bumi Flores.*











