//GMIT Perkuat Kapasitas Gereja Tangguh Bencana Pasca-Gempa Flores

GMIT Perkuat Kapasitas Gereja Tangguh Bencana Pasca-Gempa Flores

BAJAWA, FLORES, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Tim Tanggap Bencana kembali menurunkan tim untuk ketiga kalinya ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Salah satu agenda utamanya adalah menggelar pelatihan Peningkatan Kapasitas Gereja Tangguh Bencana (GTB) di Jemaat GMIT Ebenhaeser Bajawa, Klasis Flores Barat, pada Rabu (23/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung tepat 40 hari pascabencana gempa bumi Flores ini diikuti 32 peserta yang terdiri dari Majelis Klasis Harian Flores Barat, para pendeta, majelis dan jemaat setempat. Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat koordinasi serta kesiapsiagaan gereja dalam menghadapi dampak bencana alam.

Ketua Badan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) GMIT, Pdt. Adi Amtaran, menegaskan bahwa pengalaman traumatis jemaat akibat gempa bumi membutuhkan pemulihan secara menyeluruh. Oleh karena itu, gereja terpanggil untuk hadir memberikan layanan psikologi dan spiritual melalui sinergi lintas sektor.

“Peningkatan kapasitas gereja terpanggil untuk juga memberi layanan psikologi dan spiritual dengan berjejaring bersama tenaga profesional lainnya menjadi tindakan yang memulihkan luka-luka batin akibat bencana alam,” ujar Pdt. Adi.

Pentingnya pendampingan psikologis ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta pelatihan, Diaken Lia Simanggungsong. Bencana di Flores membangkitkan kembali memori traumatis masa kecilnya saat menghadapi gempa bumi di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada era 1980-an. Bencana kala itu merenggut nyawa adik perempuannya yang baru berusia dua tahun akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara adik laki-lakinya mengalami luka di kaki dan sang ibu mengalami tekanan emosional berat.

Dalam kondisi penuh tekanan itu, ibunya sempat berujar: “Tuhan, saya tahu Tuhan pengendali alam dan kekuatannya luar biasa. Saya tahu Tuhan Mahabesar, tetapi mengapa anak saya yang diambil?”

Bagi Diaken Lia, pengalaman pahit tersebut memunculkan trauma yang terulang saat gempa kembali terjadi di Flores. Meski demikian, ia meyakini bahwa Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan utama di tengah situasi yang sulit.

Pdt. Adi menjelaskan bahwa penanganan bencana mengusung konsep pentahelix, yakni kemitraan harmonis antara pemerintah sebagai penanggung jawab utama, masyarakat atau lembaga keagamaan, akademisi, pelaku usaha, serta media. Ia menambahkan bahwa Pos Terpadu GMIT Jemaat Ebenhaeser Bajawa yang beroperasi sejak 15 Agustus 2026 telah menjadi sarana penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga GMIT maupun masyarakat umum, termasuk menjangkau wilayah pelosok yang belum tersentuh pemerintah.

Untuk menjadi Gereja Tangguh Bencana, terdapat sejumlah indikator utama yang harus dipenuhi, antara lain pembentukan tim PRB di tingkat klasis dan jemaat, penetapan kebijakan tugas dan fungsi, alokasi anggaran, peningkatan kapasitas personel, serta penguatan pemahaman teologi bencana. Hal ini krusial mengingat GMIT memiliki wilayah pelayanan yang luas mencakup 57 klasis.

Dalam aksi kemanusiaan hingga 28 September 2026 ini, tim disebar ke dua wilayah utama. Tim A yang dikoordinasikan oleh Pdt. Ekawati Lily menjangkau Ruteng, Reo, dan Serise. Sementara Tim B dipimpin oleh Pdt. Adi Amtaran melayani wilayah Bajawa, Aimere, Borong, Waelengga, Mbay, Makipaket, Boawae, hingga Maupunggo.

Berdasarkan data Laporan Situasi 6 per 27 Agustus 2026 dari Pos Terpadu lintas lembaga (GMIT, PGI, Jakomkris PBI, dan YEU), gempa bumi Flores telah menyebabkan 111 jiwa meninggal dunia, 1.672 jiwa luka-luka, dan 176.621 jiwa mengungsi. Selain itu, kerugian material mencakup 84.562 rumah rusak, 118 fasilitas kesehatan, 1.378 fasilitas pendidikan, serta 499 tempat ibadah mengalami kerusakan.* (Pdt. Adi Amtaran)