
ROTE NDAO, www.sinodegmit.or.id, – Persekutuan Doa Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 yang berpusat di Jemaat GMIT Siloam Metina, Klasis Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Kegiatan yang berlangsung pada 13–17 Oktober 2026 ini mengusung tema “25 Tahun Membalut Sesama” sebagai momentum memperkuat peran spiritual dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, serta mendoakan bangsa dan negara.
Rangkaian acara pembukaan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh para pendeta GMIT sebagai liturgos dan Pdt. Ardi Lay sebagai pengkhotbah. Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, para Ketua Majelis Klasis, Ketua UPP Profesional Majelis Sinode GMIT, Sekbid Pekabaran Injil/Persekutuan Doa, Pdt. Yulita Yusti Zina – Lero, Pengurus PD Sinode GMIT, para pendeta GMIT, serta utusan Persekutuan Doa GMIT dari berbagai Klasis.
Dalam suara gembalanya, Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, menekankan pentingnya transformasi dalam Persekutuan Doa agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, khususnya dalam menjangkau generasi muda. Menurutnya, Persekutuan Doa harus menjadi ruang yang merangkul, menguatkan, dan memulihkan mereka yang terluka melalui pendekatan pelayanan yang kreatif dan pemanfaatan teknologi.
“Keterlibatan generasi muda tidak cukup hanya melalui ajakan, tetapi perlu didukung dengan bentuk ibadah dan liturgi yang kreatif, menarik, serta sesuai dengan kebutuhan mereka. Transformasi metode pelayanan menjadi penting agar generasi muda merasa diterima dan terdorong untuk terlibat aktif,” ujar Pdt. Saneb.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan pelayanan tersebut.
Sementara itu, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, dalam sambutannya mengajak seluruh pihak menjadikan kegiatan ini sebagai wadah memperkuat kolaborasi antarpelayan, jemaat, dan anggota Persekutuan Doa. Ia menegaskan bahwa generasi muda merupakan penerus kepemimpinan yang perlu dipersiapkan sejak dini di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.
“Tantangan saat ini semakin kompleks, mulai dari kemiskinan, pergaulan bebas, hingga persoalan kemerosotan moral. Kondisi ini menuntut gereja dan Persekutuan Doa untuk terus memperkuat peran spiritual serta menghadirkan nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari,” kata Paulus.
Selama lima hari pelaksanaan, panitia menggelar berbagai kegiatan, antara lain penanaman mangrove di Deranitan, seminar tentang doa, serta Ibadah Penyegaran Iman (IPI) di delapan titik yang mencakup sekolah-sekolah, RSUD Ba’a, dan Lapas Kelas III Ba’a. Puncak Perayaan HUT ke-25 Persekutuan Doa GMIT dipusatkan melalui IPI di Lapangan Ba’a.*











