
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Kontingen Paduan Suara dari Klasis Amfoang Selatan, khususnya Jemaat GMIT Raja Damai Ta’en dan Jemaat Oelamopu, turut ambil bagian dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Simfoni Persaudaraan GMIT dengan membawakan lagu daerah berjudul “Taloitan Pah Binoni”. Lagu ini ditampilkan pada hari ke dua perlombaan untuk kategori lagu rohani Bahasa daerah, di GMIT Center Kupang, Kamis, 8 Oktober 2026. Keikutsertaan kontingen dari wilayah pesisir dan pedalaman Kabupaten Kupang ini menjadi bukti komitmen umat dalam mengagungkan Tuhan sekaligus melestarikan nilai-nilai kebudayaan lokal.
Lagu “Taloetan Pah Binoni” syair Ny. Nur Oematan dan arasansemen Pdt. Yanni Tahun yang dibawakan dalam ajang tersebut mengandung makna mendalam tentang seruan untuk mempersiapkan dan membangun kampung halaman Amfoang. Dalam bahasa lokal, “Binoni” merupakan ungkapan puitis atau sebutan kesayangan bagi daerah Amfoang.
Pelatih sekaligus Dirigen Kontingen, Melkias Manuleus, S.Pd.Gr., menjelaskan bahwa nyanyian ini tidak hanya bernilai estetis dan spiritual, tetapi juga memuat pesan moral yang kuat bagi kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
“Lagu ini mengajarkan agar kita tidak saling memelihara amarah hingga matahari terbenam. Kita diajak untuk saling merangkul—adik, kakak, orang tua—untuk bersama-sama memuji Tuhan serta membangun kampung halaman,” ujar Melkias saat ditemui di sela-sela kegiatan Pesparawi.
Lebih lanjut, Melkias menerangkan bahwa lagu tersebut juga melukiskan keharmonisan alam Amfoang, mulai dari bentang alam Gunung Timau hingga keberadaan satwa liar yang hidup bersanding dengan masyarakat. Aransemen lagu yang awalnya berformat satu suara kini telah dikembangkan menjadi aransemen paduan suara yang lebih kaya oleh Elia Nur Lelang dan Pdt. Yanu Yandri Hun, sehingga cocok dinyanyikan dalam liturgi pemberitaan maupun persembahan.
Sebanyak 30 orang penyanyi yang memperkuat kontingen ini merupakan gabungan dari Jemaat Raja Damai Ta’en (99%) dan Jemaat Oelamopu. Keikutsertaan mereka mewakili Klasis Amfoang Selatan setelah sebelumnya berhasil meraih juara pertama di lingkup klasis.
Meskipun harus menempuh perjalanan jauh dari wilayah geografis yang penuh tantangan, partisipasi kontingen ini dilandasi oleh semangat belajar dan kebersamaan. Melkias menegaskan bahwa target utama keikutsertaan mereka bukanlah semata-mata mengejar piala atau predikat juara.
“Kami dari kampung tidak sekadar mengharapkan juara, tetapi mengharapkan sejuta pengalaman yang bisa dipelajari di sini untuk kemudian dibawakan kembali guna membangun kampung halaman Binoni,” tegasnya.
Menanggapi pelaksanaan Pesparawi, pihak kontingen berharap agar ajang pembinaan spiritual dan seni budaya seperti ini dapat diselenggarakan secara berkala oleh Sinode GMIT, misalnya setiap dua tahun sekali. Hal ini dinilai penting untuk terus memberikan wadah pembelajaran, pertumbuhan iman, serta ruang berekspresi bagi jemaat-jemaat di pelosok daerah.
Perlombaan hari ke dua untuk kategori lagu rohani Bahasa daerah diikuti oleh Klasis Amanuban Tengah Selatan, Jemaat GMIT Syalom Kupang, Klasis Alor Tengah Utara, Jemaat GMIT Efata Bello, Klasis Pantar Barat, Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba, Klasis Rote Barat Daya, Jemaat GMIT Ora Et Labora Oesapa, Klasis Kupang Barat, Klasis Kota Kupang Timur, Klasis SoE Timur, Klasis Amarasi Timur, Klasis Fatuleu, Jemaat GMIT Viadolorosa Alak, Jemaat GMIT Silo Naikoten 1, Klasis Amfoang Selatan, Klasis Sabu Barat Raijua, Jemaat GMIT Talitakumi Pasir Panjang, Klasis Kuanfatu, dan Jemaat GMIT Marturia Oesapa Selatan. *











