
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Penahbisan Gedung Ibadah Ekklesia Airkom dan peresmian pastori pada Minggu (25/10/2026) di Kabupaten Kupang menjadi momen penting bagi jemaat setempat untuk melanjutkan pembangunan hakiki gereja, yakni memperkuat pelayanan diakonia. Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Semuel Benyamin Pandie, menegaskan bahwa setelah pembangunan fisik gedung ibadah ini selesai, gedung yang indah tersebut harus diisi dengan pelayanan yang mempersembahkan tubuh bagi kebaikan kehidupan dan menjadi kesaksian yang hidup di tengah masyarakat Airkom.
Pdt. Semuel dalam khotbahnya yang didasarkan pada Kitab 1 Korintus 6:12-20 berbicara tentang Menjaga Kekudusan di Tengah Krisis Moral Dunia. Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa tubuh orang percaya adalah Bait Allah yang harus dirawat sebagai karya Tuhan, bukan dirusak, serta tidak boleh menjadi hamba dari keinginan duniawi seperti yang digambarkan dalam Wahyu 17 tentang Ratu Babel.
Lebih lanjut, Pdt. Semuel menjelaskan bahwa esensi dari Teologi Tubuh adalah kesadaran bahwa gedung gereja yang baru diresmikan ini merupakan Bait Allah secara fisik, namun tubuh setiap jemaat adalah Bait Allah yang hidup yang harus berjalan dalam Terang Tuhan. Oleh karena itu, gereja sejati bukanlah sekadar bangunan, melainkan tubuh yang mempersembahkan diri bagi yang miskin, lapar, haus, dan berkekurangan.
Ia mengimbau seluruh Jemaat Ekklesia Airkom untuk menghidupi nilai kesederajatan, yakni cara pandang terhadap orang lain yang sederajat, di mana yang kekurangan dan yang kelebihan sama-sama dihormati, sederajat dalam pelayanan, serta sederajat dalam hidup bermasyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Bupati Kupang Yosef Lede dalam sambutannya berpesan agar sarana yang ada dapat difungsikan secara optimal bagi jemaat dan warga sekitar.
“Jadikanlah rumah ini sebagai tempat pertemuan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Jadikanlah rumah ini menjadi rumah berkat bukan hanya untuk jemaat tapi juga untuk masyarakat. Jadikanlah tempat ini menjadi tempat edukasi bagi anak-anak. Perhatikan pendidikan PAUD yang ada, gereja menjadi ruang edukasi bagi anak-anak. Manfaatkan tanah gereja untuk pemberdayaan,” tutur Bupati Kupang.
Rangkaian acara diawali dengan Penyambutan Adat dan Tarian, Pembukaan Selubung Nama Gereja, Penandatanganan Prasasti oleh Bupati Kupang Yosef Lede dan Ketua Majelis Sinode GMIT, Penyerahan Kunci gedung, serta Pengguntingan Pita. Selanjutnya koster membuka pintu dan mempersilahkan jemaat masuk untuk beribadah. Kebaktian tersebut dipimpin oleh Pdt. Elmodan Herison Naimasus sebagai liturgos dan Pdt. Semuel Benyamin Pandie sebagai pengkhotbah, serta diisi oleh Paduan Suara Gema Melodi Kabupaten Kupang.
Turut hadiri dalam acara ini Anggota DPRD Provinsi NTT Winston Rondo, Camat Kupang Timur, para Pendeta GMIT, unsur Forkopimda Kabupaten Kupang, Pimpinan Perwakilan Cahaya Bagi Negeri Wilayah NTT, Yayasan Obor Berkat Indonesia, serta tamu undangan lainnya dan jemaat setempat.

Ketua Majelis Jemaat Ekklesia Airkom, Pdt. Elizabeth Riwu-Ratu, menyampaikan sapaan hangat atas dukungan semua pihak.
“Terimakasih kasing banyak, ungkapan ini tidak bisa kami nilai, tetapi trimakasih karena mendukung kami, ekklesia tempat dimana sesuatu yang baik itu harus keluar dan dirasakan banyak orang, tidak hanya bagi kami,” ungkap Pdt. Elizabeth.
Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Tonci Tuka menyampaikan bahwa jemaat ini awalnya merupakan bagian dari GMIT Elim Naibonat yang berdiri sejak tahun 1979. Karena usia dan bagian gedung yang rusak, disepakati untuk membangun gedung baru berukuran 12×38 meter dengan peletakan batu pertama pada tahun 2015. Pembangunan yang berlangsung selama 11 tahun ini menaungi 276 KK atau 1.217 jiwa jemaat, serta menghabiskan total anggaran sebesar Rp1.873.963.000 yang bersumber dari swadaya jemaat, dana sukarela, dan bantuan donatur.*











