//Pascagempa Flores: GMIT Bentuk Pos Pelayanan Kesehatan dan Latih Jemaat Tangguh Bencana

Pascagempa Flores: GMIT Bentuk Pos Pelayanan Kesehatan dan Latih Jemaat Tangguh Bencana

Bajawa, Flores, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode GMIT menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Gereja Tangguh Bencana dalam kunjungan ketiga ke Flores—meliputi Ruteng, Reo, Bajawa, Borong, Aimere, Mbay, Boawae, hingga Mauponggo—pada Rabu hingga Minggu, 23–27 September 2026. Selain itu, dibentuk pula tim Pos Pelayanan Kesehatan (Pospelkes) di Jemaat Ebenhaeser Mbay untuk menangani aspek kesehatan warga terdampak bencana.

Kegiatan ini dilaksanakan di GMIT Ephata Reo, Ebenhaezer Bajawa, Ebenhaezer Borong, Getsemani Aimere, Pniel Boawae, Imanuel Waelengga dan GMIT Ebenhaeser Mbay.

Hadir sebagai pemateri, Ketua Badan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB) Sinode GMIT, Pdt. Adi Amtaran dengan materi Pengenalan risiko dan kapasitas serta rencana tindak lanjut.

Sedangkan untuk wilayah di Reo Fasilitator Nasional: Paulus Hartono, menyampaikan materi ‘manajemen dampak bencana alam dan trauma’, dari Jakomkris dan PGI, serta Pdt Eka Waty Lili Sekretaris BPRB Sinode GMIT dengan materi ‘Pengenalan risiko dan kapasitas serta rencana tindak lanjut pengurangan risiko bencana.’

Penyampaian materi dimulai dengan penegasan teologi bencana dari aspek spiritual, di mana Tuhan diyakini tidak pernah jauh dan terus menyertai. Pdt. Adi menjelaskan siklus bencana yang terdiri dari tiga fase: prabencana, saat bencana (tanggap darurat), dan pascabencana (rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan). Wilayah Nagekeo dinilai masih berada dalam fase saat bencana selama Surat Keputusan (SK) Bupati terkait status tanggap darurat masih berlaku, berbeda dengan daerah Sikka dan Ende yang masa tanggap daruratnya telah berakhir.

Dalam dialog interaktif, Mama Dorkas Laseko mengungkapkan kepasrahannya jika gempa susulan kembali terjadi karena menganggap segala kejadian merupakan kehendak Tuhan. Menanggapi hal tersebut, Pdt. Adi meluruskan pandangan teologis mengenai bencana Tuhan tidak pernah menghukum manusia, melainkan mengendalikan alam sekaligus menjadi sahabat yang bersolidaritas dan menolong sesama dalam penderitaan.

Pdt. Adi menekankan pentingnya mengubah pola pikir pasrah menjadi sikap tanggap melalui kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Ia membagikan pengalaman saat badai Siklon Tropis Seroja 2021 di Kupang untuk menggambarkan pentingnya tindakan nyata, seperti menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, uang, dan makanan tahan lama.

Pengalaman gempa 15 Agustus diharapkan dapat menjadi pembalasan evaluasi bagi jemaat dan gereja agar terus memperbaiki kesiapan diri sehingga tumbuh menjadi pribadi dan komunitas yang tangguh bencana.

Kesaksian Opa Agus Bureni (salah satu Jemaat di Ebenhaeser Mbay) menggambarkan kepanikan dan kekhawatiran yang dialami warga saat bencana terjadi, di mana orang-orang harus berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya menuju tempat pengungsian. Di tengah situasi yang memprihatinkan dan serba terbatas—seperti berlindung di rumah warga (Kakak Yalet dan Kakak Jim Balo) yang jendela rumahnya masih tertutup plastik hingga dijadikan penanda adanya gempa susulan—rasa waswas terus menyelimuti para pengungsi. Karena itu adanya Dukungan Psikososial oleh 2 fasilitator yakni Psikolog Klinis (Andy Hafsa) dan non psikolog (Nona Apung Oiladang) diharapkan dapat membantu individu dan kelompok dalam mengelola stress, memperkuat sumber daya dan mencegah perkembangan permasalahan psikologis yang lebih serius.

Kisah dan pengalaman nyata tersebut menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan pascabencana di lapangan.
“Kunjungan kali ini sangat holistik. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya sebatas bantuan fisik atau material, tetapi juga mencakup pemulihan mental, sosial dan spiritual serta peningkatan kapasitas untuk mencapai ketangguhan pasca bencana gempa bumi. Harapannya agar aksi nyata ini mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi pemulihan Flores, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dan kepedulian antar sesama dan lintas agama dalam menghadapi situasi darurat bencana,” ujar Pdt. Adi Amtaran.

Pdt. Jamres Ur, Ketua Majelis Jemaat Bermata Jemaat Imanuel Mbay membagikan pengalamannya menghadapi gempa bumi berskala 7,7 magnitudo—bencana dahsyat yang baru pertama kali dirasakannya sepanjang hidup hingga tahun 2026—hingga membuat situasi sangat panik dan permukaan tanah terlihat bergelombang bak air laut. Akibat guncangan kuat tersebut, bangunan fasilitas gereja yang baru saja selesai dibangun dan bahkan belum sempat digunakan untuk pelayanan gerejawi terpaksa langsung dimanfaatkan sebagai Posyandu serta posko pelayanan kesehatan, di mana struktur kayu kap atapnya mengalami pergeseran sehingga memerlukan perbaikan dan penguatan kembali.* (Adi Amtaran)