
Bajawa, Flores, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode GMIT menggelar Peningkatan kapasitas Gereja Tangguh Bencana dalam kunjungan yang ke-tiga ke Flores, baik di Bajawa dan ruteng pada jumat, hingga minggu, 25-27 september 2026. Selain itu, juga dibentuk tim Pos Pelayanan Kesehatan (Pospelkes) di Jemaat Imanuel Mbay untuk menangani aspek kesehatan warga yang terdampak bencana.
Untuk wilayah Bajawa, kegiatan ini dilaksanakan di GMIT Ebenhaezer Bajawa, GMIT Imanuel Mbay, dan Bowae dan Aimere. Sedangkan untuk Ruteng dilaksanakan di Jemaat Efata Reo.
Hadir sebagai pemateri, Ketua Badan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB) Sinode GMIT, Pdt. Adi Amtaran dengan materi Pengenalan risiko dan kapasitas serta rencana tindak lanjut.
Sedangkan untuk wilayah di Reo Fasilitator Nasional: Paulus Hartono, menyampaikan materi ‘manajemen dampak bencana alam dan trauma’, dari Jakomkris dan PGI, serta Pdt Eka Waty Lili Sekretaris BPRB Sinode GMIT dengan materi ‘Pengenalan risiko dan kapasitas serta rencana tindak lanjut pengurangan risiko bencana.’
Penyampaian materi dimulai dengan penegasan teologi bencana dari aspek spiritual, di mana Tuhan diyakini tidak pernah jauh dan terus menyertai. Pdt. Adi menjelaskan siklus bencana yang terdiri dari tiga fase: prabencana, saat bencana (tanggap darurat), dan pascabencana (rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan). Wilayah Nagekeo dinilai masih berada dalam fase saat bencana selama Surat Keputusan (SK) Bupati terkait status tanggap darurat masih berlaku, berbeda dengan daerah Sikka dan Ende yang masa tanggap daruratnya telah berakhir.
Dalam dialog interaktif, Mama Dorkas Laseko mengungkapkan kepasrahannya jika gempa susulan kembali terjadi karena menganggap segala kejadian merupakan kehendak Tuhan. Menanggapi hal tersebut, Pdt. Adi meluruskan pandangan teologis mengenai bencana Tuhan tidak pernah menghukum manusia, melainkan mengendalikan alam sekaligus menjadi sahabat yang bersolidaritas dan menolong sesama dalam penderitaan.
Pdt. Adi menekankan pentingnya mengubah pola pikir pasrah menjadi sikap tanggap melalui kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Ia membagikan pengalaman saat badai Siklon Tropis Seroja 2021 di Kupang untuk menggambarkan pentingnya tindakan nyata, seperti menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, uang, dan makanan tahan lama.
Pengalaman gempa 15 Agustus diharapkan dapat menjadi pembalasan evaluasi bagi jemaat dan gereja agar terus memperbaiki kesiapan diri sehingga tumbuh menjadi pribadi dan komunitas yang tangguh bencana.

Kesaksian Opa Agus Bureni (salah satu Jemaat di Imanuel Mbay) menggambarkan kepanikan dan kekhawatiran yang dialami warga saat bencana terjadi, di mana orang-orang harus berjuang menyelamatkan diri dan keluarganya menuju tempat pengungsian. Di tengah situasi yang memprihatinkan dan serba terbatas—seperti berlindung di rumah warga (Kakak Yalet dan Kakak Jim Balo) yang jendela rumahnya masih tertutup plastik hingga dijadikan penanda adanya gempa susulan—rasa waswas terus menyelimuti para pengungsi.
Meskipun berada dalam kondisi kepayahan di tempat pengungsian, Opa Agus mengungkapkan rasa syukur atas kepedulian sesama yang mau menampung mereka serta atas hadirnya kunjungan rombongan penolong. Ia meyakini bahwa kesehatan dan keselamatan jemaat di pengungsian tetap terjamin karena kebaikan dan keadilan Tuhan yang senantiasa menyertai mereka di masa-masa sulit.
Pdt. Jamres Ur, Ketua Majelis Jemaat Bermata Jemaat Imanuel Mbay membagikan pengalamannya menghadapi gempa bumi berskala 7,7 magnitudo—bencana dahsyat yang baru pertama kali dirasakannya sepanjang hidup hingga tahun 2026—hingga membuat situasi sangat panik dan permukaan tanah terlihat bergelombang bak air laut. Akibat guncangan kuat tersebut, bangunan fasilitas gereja yang baru saja selesai dibangun dan bahkan belum sempat digunakan untuk pelayanan gerejawi terpaksa langsung dimanfaatkan sebagai Posyandu serta posko pelayanan kesehatan, di mana struktur kayu kap atapnya mengalami pergeseran sehingga memerlukan perbaikan dan penguatan kembali.
Kisah dan pengalaman nyata tersebut menegaskan krusialnya pelaksanaan Pelatihan Gereja Tangguh Bencana guna memperkuat kesiapsiagaan jemaat dalam menghadapi ancaman krisis serupa di masa depan.*











