
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bersama Yayasan Plan International Indonesia menggelar kegiatan program CERAH (Cerdas Mengelola Air dan Lahan Untuk Keberlanjutan) yang dirangkaikan dengan aksi implementasi Biopori. Kegiatan strategis ini berlangsung di Aula Kantor Sinode GMIT Kupang, Senin, 2 November 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, PC NTT CERAH Project Yayasan Plan International Indonesia Juliani F. Talan, Badan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB) Sinode GMIT serta para Ketua Majelis Jemaat dari wilayah dampingan Plan yang meliputi Klasis Kupang Tengah, Klasis Kota Kupang Timur, Klasis Kota Kupang, dan Klasis Kota Kupang Barat.
Dalam suara gembalanya, Pdt. Semuel B. Pandie menyampaikan refleksi teologis berdasarkan Mazmur 65 yang menekankan bahwa seluruh ciptaan di alam semesta—termasuk air dan lingkungan—sedang mengalami kerapuhan, namun tetap dipanggil untuk bersama-sama memuji Tuhan dan menjadi bagian integral dari liturgi kehidupan. Dalam konteks ini, alam diposisikan secara harmonis sebagai sahabat dan sesama penyembah. Oleh sebab itu, umat manusia diajak untuk memiliki semangat syafaat, yakni berdoa melampaui kepentingan diri sendiri demi kebaikan bersama, termasuk mendoakan para pemimpin dan pemerintah.
Lebih lanjut, Pdt. Semuel menyoroti tantangan krisis air bersih di Kota Kupang yang dinilai sangat serius dan membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai elemen, mulai dari tokoh agama, PT PLN, pemerintah kota, hingga masyarakat. Ia menegaskan pentingnya langkah solutif konkret untuk merawat alam dan memahami makna penting air bagi kelangsungan hidup.
“Gereja yang membaptis dengan air tidak boleh acuh terhadap mata air yang mengering,” tegas Pdt. Semuel.
Ia menghimbau seluruh jemaat untuk aktif membentuk tim lingkungan, menabung air hujan, memediasi konflik, serta menjamin akses air bagi kelompok rentan. Di tingkat Klasis, dianjurkan membentuk forum Daerah Aliran Sungai (DAS) lintas jemaat dan menggelar pelatihan tata kelola air bagi majelis serta petani. Sementara di tingkat Sinode, teologi air diintegrasikan ke dalam Haluan Organisasi dan Kebijakan Umum Pelayanan (HKUP), literasi air di sekolah, serta penguatan advokasi bersama negara dan BMKG.

PC NTT CERAH Project Yayasan Plan International Indonesia, Juliani F. Talan, memaparkan bahwa pemantauan penanaman pohon di DAS Liliba dan DAS Kolhua mencatat keberhasilan pertumbuhan hingga 80 persen dari total 270 pohon yang tertanam. Pohon-pohon yang awalnya kecil kini telah tumbuh subur mencapai ketinggian sekitar dua meter berkat perawatan aktif jemaat.
Meski demikian, Juliani menyayangkan masih adanya gereja yang belum menunjukkan kepedulian nyata dalam membuat biopori dan mengelola sampah organik. Padahal, apresiasi tinggi patut diberikan kepada gereja seperti GMIT Betlehem dan Tiberias PDM yang melampaui target pembuatan lubang biopori secara mandiri hingga membagikannya ke rumah-rumah jemaat.
Juliani mengingatkan pentingnya edukasi biopori dan penanaman air sebagai kewajiban seluruh institusi keagamaan, sekolah, perkantoran, hingga tingkat RT sesuai arahan edaran Walikota Kupang.
Ketua Majelis Jemaat GMIT Kaisarea BTN Kolhua, Pdt. Aleida Y. Salean-Sola, yang berkomitmen memperbanyak lubang biopori secara gotong royong bersama 60 kepala keluarga jemaatnya sebagai wujud tanggung jawab melestarikan lingkungan.
Senada dengan itu, Pdt. Trovia Niap Ratu Edo dari Jemaat GMIT Elim Lasiana menggarisbawahi pentingnya merubah pola pikir para pelayan gereja di tengah tantangan lingkungan perkotaan yang didominasi tutupan semen dan ancaman pencemaran sampah di bantaran kali kering.

Materi yang diperoleh peserta antaralain: Sosialisasi Eksistensi Forum PSDAT oleh Dr. Ir. Roddialek Pollo, M.Si; Memaknai Air sebagai Anugerah Tuhan, Sang Pencipta oleh Pdt. Semuel B. Pandie, M.Th, MM; Kajian Teknis dan Ekonomis Teknologi Biopori oleh Juliani F. Talan.
Kegiatan diakhiri dengan praktik penanaman biopori di area kompleks Kantor Sinode GMIT Kupang. *











