
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menahbiskan Gedung Ibadah Jemaat Tiberias Tuak Daun Merah (TDM), Klasis Kota Kupang Timur, pada Sabtu (31/10/2026). Peresmian ini menandai tuntasnya pembangunan fisik gedung gereja yang telah berjalan selama 21 tahun sejak 2005, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT GMIT ke-79.
Selain HUT GMIT ke-79, momentum bersejarah ini juga dirangkaikan dengan Peletakan Batu Pertama Pastori II, Peluncuran Buku Sejarah Jemaat GMIT Tiberias TDM, peringatan HUT Reformasi ke-509, serta Penutupan Bulan Keluarga GMIT.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Ketua Majelis Klasis Kota Kupang Timur Pdt. Mercy Kaipioru-Pattikawa, Walikota Kupang dr. Christian Widodo, para pendeta GMIT, serta jemaat setempat dan undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan secara adat natoni kepada para tamu undangan, diikuti peletakan batu pertama pembangunan Pastori II, pembukaan selubung papan nama gereja, penandatanganan prasasti, penyerahan kunci gedung, dan pengguntingan pita. Pdt. Semuel B. Pandie menerima gedung ibadah tersebut secara simbolis kemudian menahbiskannya.
Dalam khotbahnya yang didasarkan pada Kitab Mazmur 77, Pdt. Semuel B. Pandie mengulas tentang liminalitas iman, yakni pergumulan dan ketakutan manusia saat merasakan keberadaan Tuhan seolah menjauh, meskipun penyertaan-Nya begitu nyata dalam sejarah. Pemazmur menggambarkan bagaimana Allah memelihara dan membebaskan umat-Nya melalui peristiwa-peristiwa besar, mulai dari perjanjian dengan Yakub, pemeliharaan Yusuf, hingga mukjizat terbelahnya Laut Teberau. Namun, seiring berjalannya waktu, pengalaman akan kebesaran Tuhan rentan dilupakan, sehingga timbul ketakutan akan kemungkinan hilangnya jejak karya Allah dalam kehidupan manusia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa jejak sejarah sangat bergantung pada sudut pandang dan kepentingan pihak yang menuliskannya. Hal ini digambarkan melalui kontroversi penulisan sejarah yang dapat menyampingkan karya Tuhan, seperti halnya fenomena alam yang menutup kembali jejak terbelahnya Laut Teberau atau ulasan ilmiah yang meragukan keberadaan Israel di Gosyen. Pemikiran ini menjadi peringatan keras agar manusia tidak secara sengaja menghapus peran Tuhan dari panggung sejarah demi kepentingan tertentu atau karena terbuai oleh perjalanan waktu.
Secara khusus, tentang HUT GMIT ke-79, ia menyampaikan bahwa keteguhan jejak pelayanan GMIT yang tidak dapat dihapus oleh kritik maupun tantangan zaman. Meskipun GMIT diakui secara resmi oleh negara pada tahun 1947, jejak penginjilan dan kontribusi nyatanya—seperti hadirnya sekolah untuk rakyat miskin di Kupang—telah terukir jauh sebelumnya sejak tahun 1613. Di tengah berbagai persoalan kompleks saat ini terkait pengelolaan aset tanah, pendidikan, kemiskinan, hingga isu sosial-ekonomi, khotbah ini optimistis bahwa selama GMIT setia berjalan dalam misi Allah, waktu tidak akan pernah mampu menghapus jejak pelayanan dan kesaksian Injil di Timor.
Dalam kesempatan yang sama, Walikota Kupang dr. Christian Widodo menyampaikan apresiasi atas selesainya pembangunan gedung ibadah tersebut.
“Gedung ibadah ini tidak hanya dibangun dari beton, semen, pasir, dan besi, tetapi dibangun oleh iman, kasih, dan harapan melalui kolaborasi banyak pihak, doa tulus, cinta yang tak lelah, dan semangat yang tak padam,” ujar dr. Christian Widodo.
Ia menambahkan bahwa peresmian tersebut merupakan hadirnya rumah bagi masyarakat untuk berkeluh kesah, penguatan bagi yang lemah, serta tempat merawat pengharapan. Ia berpesan agar persekutuan dalam Tuhan terus dikerjakan seumur hidup meskipun pembangunan gedung telah selesai.
Sementara itu, perwakilan jemaat, Yulius Patola, menyampaikan rasa syukur atas tercapainya pembangunan fisik gedung gereja tersebut. Ia mengajak jemaat untuk terus mendukung keberlanjutan pembangunan fasilitas gereja ke depan, khususnya pembangunan Pastori II yang baru saja dimulai.
Saat ini, Jemaat GMIT Tiberias TDM memiliki 371 kepala keluarga atau sebanyak 1.610 jiwa yang terbagi dalam 16 rayon pelayanan dan dilayani oleh Pdt. Aplonia A. Salukhfeto-Kou.*











