
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Paduan Suara Angelorum tampil memukau dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dengan membawakan lagu daerah berbahasa Dawan berjudul “Emnai Alkit si” di GMIT Center Kupang, 8 Oktober 2026. Penampilan kategori etnik tersebut tidak hanya menonjolkan keindahan olah vokal, tetapi juga menyajikan pertunjukan budaya yang kaya akan simbolisme spiritual dan tradisi masyarakat Timor.
Anthony Frans, pelatih dan dirigen Paduan Suara tersebut menyampaikan bahwa Judul lagu “Emnai Alkit si” memiliki arti ajakan untuk bernyanyi memuji Tuhan di tengah berbagai bencana kehidupan.
“Lagu ini mengisahkan keteguhan dan rasa syukur masyarakat Pulau Timor dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, mulai dari kondisi cuaca ekstrem, ancaman kekeringan, hingga bencana alam. Meskipun berada dalam situasi yang serba terbatas, masyarakat diajak untuk tetap bersukacita karena berkat Tuhan selalu hadir melalui hasil bumi dan alam sekitar,” kata Anthony.
Dalam pertunjukannya, Paduan Suara Angelorum menghadirkan sejumlah properti simbolis di atas panggung, seperti tanaman lahan kering, lentera, serta tradisi sirih pinang. Nyala lentera melambangkan cahaya kasih Tuhan yang senantiasa menaungi kehidupan umat, sedangkan tradisi memakan sirih pinang merefleksikan kekuatan ikatan batin dan semangat kebersamaan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk saling membantu.
Anthony menjelaskan bahwa proses persiapan hingga tampil di panggung Pesparawi memakan waktu sekitar dua bulan. Proses latihan tersebut menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam hal pelafalan bahasa Dawan serta menyelaraskan vokal dengan koreografi tarian di atas panggung. Sebagian besar anggota paduan suara merupakan kaum muda perkotaan di Kota Kupang yang sebelumnya tidak terbiasa menggunakan bahasa daerah tersebut.
“Untuk mengerti makna lagu itu memang kita harus menerjemahkannya dulu, kemudian kita mengaktualisasikannya lewat peran-peran di panggung sehingga maknanya bisa lebih dapat,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa partisipasi mereka dalam kategori etnik bukan semata-mata demi mengejar gelar juara dalam perlombaan, melainkan sebagai bentuk perayaan iman dan apresiasi terhadap kebaikan Tuhan. Melalui penampilan ini, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah berbagai cobaan hidup, masyarakat Timor senantiasa merasakan pemeliharaan Tuhan melalui cara-Nya yang unik.
Tim paduan suara ini berkekuatan total 35 orang, yang terdiri dari 30 orang penyanyi, 4 orang pemusik, serta 1 orang dirigen. Ajang Pesparawi GMIT sendiri diikuti oleh berbagai kontingen dari berbagai daerah dan klasis, seperti Soe, Alor, Rote, dan Sabu.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kualitas pelayanan musik gereja di tingkat jemaat dan kampung-kampung dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi pembinaan iman umat. *











