
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Menyemarakkan perayaan Bulan Keluarga GMIT 2026, Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Priskila Kota Kupang menggelar ajang perlombaan antar-SD GMIT se-Kota Kupang, Jumat (2/10/2026). Rangkaian kegiatan festival dibuka di SD GMIT Manulai II, Kecamatan Alak ini menghadirkan beragam ajang kreatif, mulai dari turnamen futsal, tari kreasi, kuis keluarga, fashion show, talent show, pameran hasil karya siswa, hingga ibadah bersama yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 24 Oktober 2026.
Mengusung tema “Memulai dengan Langkah Kecil untuk Perubahan yang Besar”, festival ini melibatkan 12 Sekolah Dasar GMIT di wilayah Kota Kupang. Selain menjadi sarana unjuk bakat, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembentukan karakter serta wadah mempererat kebersamaan antar sekolah.
Pembukaan perhelatan ini dihadiri Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, jajaran Badan Pendidikan Sinode GMIT, Ketua Majelis Klasis (KMK) Kota Kupang Barat, KMK Kota Kupang Timur, Pembina dan Pengawas Yapenkris Priskila, para kepala sekolah, serta perwakilan siswa. Turut hadir Lurah Manulai II, Pendeta Jemaat GMIT Martomas Manulai II, Kakanwil Kementerian Agama Kota Kupang, dan Pengurus Forum Guru dan Tenaga Kependidikan SD GMIT Kota Kupang.

Dalam suara gembalanya, Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap organ Yapenkris Priskila atas inovasi dan langkah integrasi yang dinilainya sangat visioner.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi dan inovasi yang luar biasa kepada organ Yapenkris Priskila. Terobosan dan inovasi dari pengurus untuk mensinergikan perayaan-perayaan di gereja dengan sekolah ini sesuatu yang saya angkat empat jempol. Kenapa? Karena selama ini orang merasa bahwa ini hanya perayaan gereja, lalu badan-badan pembantu pelayanan milik GMIT itu seolah-olah ada di rel tersendiri. Namun hari ini kita melihat kesungguhan bagaimana pengurus melakukan integrasi,” puji Pdt. Lay Abdi.
Lebih lanjut, Pdt. Lay Abdi mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) agar siswa/i tidak memercayainya secara buta. Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah pembentukan karakter anak sesuai pengajaran Kitab Ulangan bab 6 dan 11, yang mengedepankan keselarasan antara perkataan dan perbuatan.
“Penggunaan gawai yang berlebihan membuat anak-anak kurang bergerak, rentan stres, dan mengalami tantrum akibat kurangnya aktivitas fisik serta interaksi sosial secara langsung. Oleh karena itu, penyelenggaraan kegiatan atau perlombaan yang mendorong aktivitas fisik sangat penting untuk menyelaraskan kecerdasan kinetik dan intelektual anak. Melalui aktivitas luar ruangan dan ruang bersosialisasi dengan sesama, anak-anak terhindar dari sifat individualis dan tidak tumbuh menjadi pribadi yang kaku seperti robot,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Yapenkris Priskila Kota Kupang, Ariyandi Benygerius Mauko, S.Pd., M.Hum., menyatakan bahwa komitmen pengurus berangkat dari refleksi mendalam atas kritikan publik terhadap mutu layanan sekolah-sekolah GMIT.
“Ketika kami dipercayakan memimpin, kondisi sekolah GMIT menjadi perhatian serius terkait isu penurunan siswa hingga merger. Kepercayaan ini sangat mahal nilainya bagi kami. Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, baik manusia maupun dana, kami berkomitmen mengolah dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan,” ujar Ariyandi.

Ketua Panitia Pelaksana, Rian Nggaluama, Guru SD GMIT Oebufu, menambahkan bahwa festival ini diselenggarakan oleh Forum Guru dan Tenaga Kependidikan guna meningkatkan kebersamaan, sportifitas, kreativitas, serta rasa percaya diri para siswa di lingkungan Yapenkris Priskila.
Sebagai penanda dimulainya seluruh rangkaian perlombaan, acara diakhiri dengan prosesi kick-off atau tendangan pertama turnamen futsal yang dilakukan langsung oleh Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi. *











