
SOE, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Tois Neno meluncurkan program Kampung Pendidikan GMIT di Stadion Mini Napoleon Faot, Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (19/10/2026). Program inovatif berbasis komunitas ini dihadirkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan melalui sinergi antara keluarga, gereja, pemerintah, dan masyarakat.
Kegiatan peluncuran tersebut dihadiri sekitar 1.500 peserta dari jenjang TK/PAUD hingga SMA/SMK yang mewakili kurang lebih 50 sekolah. Turut hadir dalam acara ini Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Bupati TTS Eduard Markus Lioe, Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman M. Nenohai, Ketua Yapenkris Tois Neno Pdt. Nelson M. Liem, jajaran Forkopimda, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten TTS, serta elemen masyarakat setempat.
Program Kampung Pendidikan GMIT mengusung konsep kolaborasi tripartit dengan tiga pilar utama. Pertama, menjadikan rumah sebagai sekolah pertama di mana orang tua berperan aktif membangun karakter dan disiplin anak. Kedua, menjadikan gereja sebagai pusat belajar dengan memanfaatkan fasilitas gereja untuk bimbingan belajar dan pengembangan potensi nonakademik. Ketiga, menjadikan masyarakat sebagai pengasuh bersama yang secara gotong royong menciptakan lingkungan aman dan mendukung proses tumbuh kembang generasi muda.
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, mengapresiasi inisiasi Yapenkris Tois Neno di Kecamatan Kuatnana. Ia menegaskan pentingnya dukungan komunitas lokal terhadap pengelolaan sekolah-sekolah GMIT.
“Di Kuatnana, satu tempat yang menurut saya paling unik di GMIT, karena Kuatnana menempatkan diri sebagai satu kampung pendidikan yang membuka mata kita bahwa sekolah-sekolah GMIT harus dapat topangan dari bawah,” ujar Pdt. Semuel.
Ia menambahkan, GMIT saat ini menaungi 624 sekolah dari jenjang TK hingga SMA/SMK. Dalam grand design pengembangan pendidikan GMIT menuju 2045, perhatian difokuskan pada peningkatan mutu. Selain itu,
Pdt. Semuel mendorong pemanfaatan lahan sekitar tujuh hektare di kawasan tersebut untuk sarana pembelajaran praktis, termasuk di bidang pertanian.
Sementara itu, Bupati TTS Eduard Markus Lioe menyampaikan apresiasi atas terobosan yang digagas oleh GMIT. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak dapat bertumpu sepenuhnya pada lembaga pendidikan formal semata.
Ia menekankan bahwa upaya meningkatkan kualitas pendidikan memerlukan keterlibatan aktif dari lingkungan keluarga, gereja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Pemerintah daerah berharap Kampung Pendidikan GMIT dapat memberikan dampak nyata dalam membentuk karakter, meningkatkan keterampilan, dan memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak di Kabupaten TTS.
Diinformasikan bahwa pada tahun ini, GMIT juga memperoleh program revitalisasi bagi 40 sekolah serta bantuan pemerintah daerah untuk 11 sekolah di Kabupaten TTS. *











