/, BERITA GMIT, Khotbah, Slide show/Mengerjakan Pekerjaan Allah di Tengah Penderitaan (Yohanes 9:1-7) – Pdt. Frans A. Dillak

Mengerjakan Pekerjaan Allah di Tengah Penderitaan (Yohanes 9:1-7) – Pdt. Frans A. Dillak

Refleksi ini disusun berdasarkan hasil Pendalaman Alkitab (PA) dalam ibadah Jumat, 6 Oktober 2026 di GMIT Center Kupang, yang mengajak kita memahami bahwa di tengah penderitaan, pertanyaan penting bagi orang percaya bukan hanya mengapa penderitaan itu terjadi dan siapa yang harus dipersalahkan, melainkan apa yang dapat kita kerjakan agar pekerjaan Allah dinyatakan melaluinya? Memasuki minggu kedua pada Bulan Lingkungan Hidup GMIT, kita diajak untuk merefleksikan kisah mujizat yang Tuhan Yesus lakukan dengan menyembuhkan mata seseorang yang buta sejak lahir.

Jika kita memperhatikan berbagai mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus dalam Injil, ada satu pola menarik yang dapat kita temukan. Hampir dalam setiap peristiwa mujizat, selalu terdapat dua kenyataan yang saling berhadapan. Pada satu sisi terdapat masalah, penderitaan, atau pergumulan manusia. Pada sisi yang lain terdapat harapan untuk mengalami pemulihan.

Ada orang sakit yang berharap sembuh. Ada orang lapar yang membutuhkan makanan. Ada orang lumpuh yang merindukan kemampuan untuk berjalan. Ada orang yang kehilangan pengharapan dan membutuhkan kekuatan untuk bangkit kembali. Ada pula orang yang berada dalam kegelapan dan membutuhkan terang. Dengan demikian, setiap mujizat memperlihatkan perjumpaan antara kenyataan hidup yang penuh pergumulan dengan harapan akan pemulihan yang berasal dari Allah.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: Apa yang harus dilakukan agar masalah dan pergumulan dapat dijembatani menuju harapan dan pemulihan? Sebab, kita tidak dapat hanya berhenti pada kenyataan bahwa ada masalah dan pada saat yang sama kita mengharapkan pemulihan. Harus ada sesuatu yang menghubungkan keduanya. Harus ada jalan yang memungkinkan seseorang bergerak dari pergumulan menuju pemulihan.

Pertanyaan inilah yang menolong kita memahami Yohanes 9:1-7.

Dalam perikop ini, Yohanes memperkenalkan seorang laki-laki yang mengalami kebutaan sejak lahir. Ia tidak pernah melihat dunia dengan matanya. Ia tidak pernah menyaksikan indahnya matahari terbit, hijaunya pepohonan, birunya laut, ataupun wajah orang-orang yang dikasihinya.Pertama,

Kebutaan itu bukan sekadar persoalan fisik. Kondisi tersebut juga membuatnya berhadapan dengan berbagai keterbatasan sosial dan kehidupan sehari-hari. Ia hidup dalam keadaan yang tidak mudah.

Akan tetapi, di tengah pergumulannya, ada harapan untuk mengalami pemulihan. Tuhan Yesus hadir dan melakukan sesuatu yang mengubah seluruh kehidupannya. Dari peristiwa ini, kita menemukan tiga hal penting yang dapat menjadi jembatan dari pergumulan menuju pemulihan:

Pertama, Perubahan Pola Pikir: Jangan Terjebak pada Pertanyaan tentang Penyebab, tetapi Temukan Kehendak Allah di Tengah Pergumulan

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir, murid-murid Tuhan Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat menarik: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2).

Pertanyaan ini memperlihatkan cara berpikir masyarakat pada waktu itu. Mereka menghubungkan penderitaan seseorang dengan dosa. Jika seseorang mengalami penderitaan, pasti ada dosa yang menjadi penyebabnya. Bahkan, mereka mencoba mencari siapa yang harus dipersalahkan: apakah orang itu sendiri atau orang tuanya?

Menariknya, Tuhan Yesus tidak mengikuti pola pikir tersebut. Ia tidak menyalahkan orang yang buta itu. Ia juga tidak menyalahkan orang tuanya. Sebaliknya, Yesus menjawab:

“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yohanes 9:3).

Jawaban Tuhan Yesus mengubah arah pembicaraan. Murid-murid bertanya tentang penyebab penderitaan, tetapi Yesus mengarahkan perhatian mereka kepada pekerjaan Allah yang akan dinyatakan. Di sini kita menemukan sebuah pelajaran penting: Perubahan menuju pemulihan harus dimulai dengan perubahan pola pikir.

Sering kali, ketika menghadapi pergumulan, kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah, siapa yang harus disalahkan, mengapa hal ini terjadi, dan siapa yang menjadi penyebabnya. Kita menghabiskan begitu banyak energi untuk melihat ke belakang, tetapi lupa memikirkan apa yang harus dilakukan untuk bergerak ke depan. Pergumulan bukan akhir dari kehidupan. Keterbatasan bukan akhir dari pengharapan. Masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depan seseorang.

Karena itu, jembatan pertama menuju pemulihan adalah perubahan pola pikir: dari menyalahkan menuju memahami, dari menghakimi menuju merangkul, dan dari terjebak pada masalah menuju mencari kemungkinan karya Allah.

Kedua, Pemulihan adalah Inisiatif Allah yang Memerlukan Respons Manusia

Hal kedua yang kita temukan dalam Yohanes 9:1-7 adalah bahwa pemulihan merupakan inisiatif Allah yang kemudian membutuhkan respons manusia. Perhatikan bagaimana Tuhan Yesus bertindak dalam perikop ini.

Yesus tidak menunggu orang buta itu datang meminta pertolongan. Tidak diceritakan bahwa orang tersebut memohon agar disembuhkan. Justru Yesus yang lebih dahulu mengambil inisiatif. Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta itu. Setelah itu, Yesus berkata: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” (Yohanes 9:7).

Ada dua tindakan yang menarik dalam proses pemulihan tersebut. Pertama, Yesus mengambil inisiatif untuk memulihkan. Orang buta itu tidak memulai proses penyembuhan. Yesuslah yang memulainya. Ini memperlihatkan bahwa kasih dan anugerah Allah selalu mendahului respons manusia. Pemulihan bukan pertama-tama hasil kehebatan manusia, melainkan karya kasih Allah yang menjumpai manusia dalam pergumulannya.

Kedua, inisiatif Allah memerlukan respons manusia. Setelah mengoleskan campuran tanah dan ludah pada mata orang buta itu, Yesus memberikan sebuah perintah sederhana: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Ada dua kata kerja penting dalam perintah tersebut: pergi dan membasuh diri.

Orang buta itu dapat saja berhenti pada tindakan Yesus yang telah mengoleskan tanah pada matanya. Ia dapat saja bertanya mengapa harus pergi ke kolam Siloam. Ia dapat saja menolak karena merasa tidak masuk akal bahwa tanah dan ludah dapat menyembuhkan kebutaannya. Namun, ayat 7 mencatat bahwa ia pergi, membasuh dirinya, lalu kembali dengan mata yang sudah melihat.

Allah mengambil inisiatif untuk memulihkan, manusia dipanggil untuk merespons. Iman tidak berhenti pada keyakinan, tetapi bergerak dalam tindakan.

Ketiga, Pertobatan Ekologis: Memulihkan Tanah dan Air sebagai Media Kehidupan dan Pemulihan Ciptaan

Hal ketiga yang perlu kita renungkan dari Yohanes 9:1-7 memiliki hubungan yang sangat kuat dengan peringatan Bulan Lingkungan Hidup GMIT pada bulan November. Ada sesuatu yang menarik dalam proses penyembuhan orang buta tersebut. Tuhan Yesus menggunakan dua media utama, yakni tanah dan air.

Yesus meludah ke tanah, mencampurkan ludah-Nya dengan tanah, kemudian mengoleskannya pada mata orang buta itu. Setelah itu, Ia memerintahkan orang tersebut pergi membasuh diri di kolam Siloam. Mengapa hal ini penting?

Tanah dan air bukan sekadar benda yang kebetulan digunakan dalam mujizat tersebut. Keduanya merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Dalam kisah penciptaan, Kejadian 2:7 menggambarkan bagaimana Allah membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan napas kehidupan ke dalam hidungnya. Tanah dan kehidupan manusia memiliki hubungan yang sangat mendasar. Sementara itu, air merupakan unsur penting yang menopang seluruh kehidupan. Tanpa air, kehidupan tidak dapat berlangsung.

Dengan demikian, melalui peristiwa penyembuhan dalam Yohanes 9, kita dapat melihat bagaimana unsur-unsur alam yang sederhana berada dalam tangan Tuhan dan dipakai menjadi bagian dari karya pemulihan-Nya.

Hal ini mengingatkan kita pada pemikiran Yohanes Calvin dalam Institutio Christianae Religionis. Calvin menggunakan gambaran alam semesta sebagai theatrum gloriae Dei, yakni panggung kemuliaan Allah. Seluruh ciptaan menjadi tempat manusia menyaksikan kebesaran, kuasa, dan kemuliaan Sang Pencipta.

Alam bukan sekadar objek yang dapat digunakan manusia sesuka hati. Alam merupakan ciptaan Allah yang menyatakan kemuliaan-Nya dan dipercayakan kepada manusia untuk dipelihara. Tanah dan air yang digunakan Tuhan Yesus sebagai media pemulihan dalam perikop ini justru sering kali menjadi media kerusakan di tangan manusia.

Tanah yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Tanah yang seharusnya menghasilkan makanan tercemar oleh limbah dan penggunaan bahan kimia yang tidak terkendali. Air yang seharusnya memberikan kehidupan berubah menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga, sampah plastik, dan berbagai bahan berbahaya. Sungai tercemar. Mata air terancam. Laut dipenuhi sampah. Tanah kehilangan kesuburannya. Hutan dibuka tanpa memperhatikan keseimbangan ekologis.

Kita menghadapi sebuah ironi: Tuhan menciptakan tanah dan air untuk menopang kehidupan, tetapi manusia justru merusak keduanya sehingga menjadi ancaman bagi kehidupan.

Karena itu, peristiwa Yohanes 9:1-7 mengajak kita membangun sebuah kesadaran ekologis. Jika Tuhan Yesus menggunakan tanah dan air dalam karya pemulihan manusia, maka manusia seharusnya tidak menjadikan tanah dan air sebagai sumber kerusakan. Di sinilah pentingnya pertobatan ekologis. Pertobatan ekologis bukan hanya berarti merasa bersalah karena telah merusak alam. Pertobatan ekologis adalah perubahan cara berpikir, perubahan sikap, dan perubahan tindakan terhadap seluruh ciptaan.

Bulan Lingkungan Hidup GMIT seharusnya tidak berhenti sebagai agenda gerejawi yang dirayakan setiap November. Bulan ini harus menjadi momentum pertobatan dan perubahan perilaku ekologis yang berlangsung sepanjang tahun. Sebab, tidak mungkin kita berbicara tentang pemulihan kehidupan manusia sambil membiarkan lingkungan yang menopang kehidupan manusia terus mengalami kerusakan. Memulihkan manusia harus berjalan bersama memulihkan alam. Menjaga kehidupan manusia berarti juga menjaga tanah dan air yang menopang kehidupannya.