
Jemaat Tuhan sekalian yang saya kasihi dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Hampir setiap hari di media massa, kita mendengar, membaca dan menonton berita tentang perselingkuhan, terjadinya berbagai tindakan kejahatan dan kekerasan, perilaku korupsi, penyalahgunaan jabatan, postingan di media sosial yang menjelekan sesama dan semakin maraknya pemakaian narkoba di kalangan muda. Semua tindakan ini adalah bentuk dari krisis moral. Emile Durkheim menjelaskan bahwa ini merupakan suatu kondisi ketika masyarakat mengalami ketiadaan norma atau runtuhnya pegangan norma sosial. Ketika norma, yakni ketentuan atau aturan yang berlaku dan mengikat kehidupan bersama agar setiap pribadi berlaku sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap baik, benar dan pantas sebagai yang boleh dan mana yang dilarang, tidak lagi dilakukan maka disitulah terjadi krisis moral. Jadi krisis moral berkaitan dengan merosotnya nilai kehidupan moral manusia dengan sesamanya mau pun alam. Saat krisis moral terjadi, maka pribadi seseorang yang dulunya baik berubah menjadi buruk karena persoalan kepribadian, meningkatnya berbagai perilaku kriminal di tengah masyarakat, hancurnya kehidupan keluarga dan secara luas menyebabkan ketidakstabilan dalam hidup bersama dan bermasyarakat. Krisis moral terjadi karena berbagai faktor dan itu dimulai dari kehidupan dalam keluarga. Keluarga yang tidak hidup bersama dalam kasih, menyebabkan pertengkaran yang akan berdampak pada kehidupan di luar rumah. Ditambah lagi perkembangan teknologi di mana semua orang dapat dengan mudah mengakses segala hal tanpa ada yang mengontrol. Selain itu juga karena ketidakmampuan untuk menegakan hukum dan kehidupan yang menekankan kebebasan pribadi.
Jemaat Tuhan sekalian,
Krisis moral yang terjadi hari ini rupanya juga terjadi pada masa Paulus. Sehingga ia perlu menuliskan secara khusus hal ini kepada Jemaat Tuhan di Korintus. Korintus adalah kota pelabuhan yang ramai. Selalu ada pendatangan baru dari berbagai bangsa untuk melakukan perdagangan. Di kota itu tumbuh dan berkembang berbagai agama dan kepercayaan. Termasuk penyembahan berhala yang melibatkan pelacuran keagamaan. Pendapat yang berkembang pada saat itu adalah semua orang bebas mempergunakan tubuhnya sesuai keinginannya. Dalam kondisi itu maka masalah terbesar yang timbul adalah percabulan. Cabul berarti melakukan sesuatu yang menjijikan, keji, kotor, tidak senonoh karena melanggar kesopanan dan kesusilaan. Paulus melarang hal ini terjadi dalam hidup orang percaya karena beberapa hal. Pertama, percabulan timbul karena salah memahami arti kebebasan. Kebebasan yang dimiliki bukanlah sesuatu yang memberi kesempatan untuk memakai dirinya secara sembarangan tetapi hanya untuk hal-hal yang berguna dan sesuai dengan nilai-nilai kepercayaannya kepada Yesus. Jika salah memahami arti kebebasan, maka dirinya akan diperbudak oleh keinginan. Perkataan Paulus ini mengingatkan kita bahwa betapa mudah seseorang memakai kebebasan dirinya sampai tanpa sadar sudah diperbudak hanya karena mencari kepuasan diri. Kedua, Tuhan telah memberikan kita tubuh yang sempurna dan kudus. Maka pakailah tubuh untuk memuliakan Tuhan. Kondisi hari ini, sangat memudahkan seseorang untuk tidak memakai tubuhnya dengan baik dan benar. Hanya karena faktor ekonomi, ketidakpuasan dalam kehidupan berkeluarga, maka ia memakai tubuhnya secara salah. Tubuh kita yang dahulu penuh dosa, kini telah bersih karena penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Maka, kini kita dipanggil untuk menjaga kekudusan hidup. Menjauhkan diri dari dosa.
Jemaat Tuhan sekalian,
Ketidakmampuan mengelola pikiran dan menjaga mata dengan baik, selalu ada keinginan yang timbul saat melihat, menjadikan seseorang jatuh ada krisis moral. Paulus secara tegas mengingatkan untuk menjaga kesetiaan jasmani saat ia mengatakan tentang perzinahan. Bagi Yesus, dalam pikiran saja sudah merupakan tindakan jatuh dalam dosa. Bagaimana caranya supaya kita bebas dari krisis moral ini? Pertama, menjauhkan diri dari setiap hal yang dapat membuat kita jatuh dalam percabulan. Percabulan itu bukan sekedar perzinahan tetapi berkaitan dengan pikiran dan perkataan. Entah sudah menikah atau pun belum, terikat pada kehendak Allah untuk menjaga kekudusan hidup. Cara memandang dan berkata-kata dapat menimbulkan seseorang jatuh dosa. Bila ada dalam kumpulan yang dapat membuat diri jatuh dalam hal tersebut, maka hindarilah. Selalu berkumpul secara terus menerus dengan mereka maka akan mempengaruhi cara pandang dan berakibat jatuh dalam tindakan yang melanggar kehendak Allah. Dalam ikatan pernikahan, maka hal yang mesti menguasai diri adalah kesetiaan terhadap janji pernikahan. Sudah banyak kita mendengar bahkan mungkin ada di antara kita yang sendiri mengalami ketidaksetiaan. Daya rusaknya sangat kuat dalam kehidupan berkeluarga. Ketidaksetiaan adalah sesuatu yang sering menjadi alasan hancurnya kehidupan berkeluarga. Sulit bagi seseorang untuk menerima pasangan yang jatuh dalam ketidaksetiaan. Ingatlah satu hal bahwa sekali pun kita tidak setia, tetapi Tuhan selalu setia dengan kita. Bagi yang belum menikah, maka sudah menjadi kehendak Allah untuk setiap orang menjaga dirinya untuk tetap hidup kudus. Kedua, tubuh kita sesungguhnya bukan miliki kita lagi. Ketika Yesus membebaskan diri kita dari kuasa dosa, maka tubuh dan hidup kita sepenuhnya adalah milik Yesus. Kita telah dibeli dan lunas.
Jemaat Tuhan sekalian, Ayat 20 secara tegas menyatakan bahwa karena sudah lunas maka kewajiban kita adalah memuliakan Allah dengan tubuh kita. Maka kita menyukurinya dengan merawat tubuh dengan baik. Caranya adalah pertama, menjaga diri untuk tidak jatuh dalam tindakan pencabulan. Sangat mudah kita menemukan situs-situs yang tidak patut untuk dilihat. Teknologi yang seharusnya dipakai untuk mempermudah pekerjaan, kini dipakai untuk hal-hal yang merusakan nilai-nilai moral. Memiliki daya pengaruh yang menjadikan seseorang terperangkap dalam pikiran buruk, mengikuti tindakan-tindakan yang merusak. Maka, jagalah mata untuk melihat hal-hal yang baik dan pikiran untuk selalu berpikir positif. Memandang segala sesuatu dengan rasa syukur kepada Tuhan. Mulut untuk mengatakan hal-hal yang baik dan tidak lagi mengeluarkan kata-kata kebencian. Kedua, menjaga seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang merusak kesucian. Pakai dengan ungkapan syukur kepada Tuhan. Roh Allah juga sedang berdiam dalam tubuh kita. Maka, biarkanlah Roh Tuhan yang sepenuhnya menentukan apa yang harus kita perbuat. Sesuaikan diri dengan Firman Tuhan. Ketiga, dalam kaitan dengan bulan keluarga dan perayaan hari Pasangan Suami Isteri Kristen, maka ketika sudah terikat dalam pernikahan, jagalah kekudusan pernikahan. Bukan hal yang aneh untuk masa kini jika kita mendengar, melihat dan mungkin mengalami bagaimana rumah tangga tidak mampu menjaga kekudusan pernikahan. Keharmonisan sebuah rumah tangga, relasi yang mesra dengan anak-anak, mau pun dengan sesama dan di mana saja bekerja, ketika relasi suami isteri itu sedang baik. Dalam rumah tangga yang menjauhkan diri dari setiap hal yang bisa menyebabkan dan menjauhkan dari krisis moral, maka di sanalah Tuhan akan memerintahkan dan melimpahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya, amin.











