//Majelis Sinode GMIT Tahbiskan Gedung Ibadah Jemaat Lopo Matakus Manulai II

Majelis Sinode GMIT Tahbiskan Gedung Ibadah Jemaat Lopo Matakus Manulai II

Momen penandatanganan prasasti oleh Wakil Sekretaris Sinode GMIT. Foto: Pace F. Balukh

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menahbiskan Gedung Ibadah Jemaat Lopo Matakus Manulai II, Klasis Kota Kupang Barat, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Peresmian ini menjadi wujud ungkapan syukur jemaat atas penyertaan Tuhan hingga rampungnya proses pembangunan rumah ibadah tersebut.

Acara penahbisan ini dihadiri oleh Wakil Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Zimrat M.S. Karmany, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Fransiskus Kariyanto, S.Ag., M.Si., Majelis Klasis Kota Kupang Barat, BP4 Sinode GMIT, para pendeta GMIT, Camat Alak, serta jemaat setempat.

Rangkaian prosesi penahbisan dipimpin langsung oleh Pdt. Zimrat M.S. Karmany. Acara diawali dengan pembukaan selubung papan nama, penandatanganan prasasti, hingga pelepasan burung merpati sebagai simbol kedamaian dan sukacita jemaat.

Dalam khotbahnya, Pdt. Zimrat menekankan bahwa pembangunan rohani yang kokoh berakar dari kebersamaan di dalam keluarga dan persekutuan. Ia berpesan agar rumah Tuhan senantiasa berfungsi sebagai tempat yang menghidupkan, membawa kebaikan, serta menghadirkan suasana penerimaan yang setara bagi siapa saja tanpa terkecuali.

“Gedung gereja harus dirawat bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai wadah bersama untuk memelihara anak-anak Tuhan dan menumbuhkan generasi masa depan,” ujar Pdt. Zimrat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Fransiskus Kariyanto, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran gedung gereja harus mampu memberikan rasa aman, tentram, dan damai bagi masyarakat. Ia memaknai Jemaat Lopo Matakus sebagai Rumah Pengayoman, tempat di mana setiap orang mendapat tempat layak dan penyelesaian atas berbagai persoalan.

“Meski bangunan manusia tidak mungkin dapat menampung kebesaran Tuhan, namun Tuhan berkenan hadir di gedung ini untuk menemui setiap orang yang datang mencari-Nya,” ujar Fransiskus.

Ia menambahkan, kemegahan fisik bangunan bukanlah ukuran keimanan, melainkan kualitas hidup pribadi masing-masing jemaat untuk menjadi terang di tengah masyarakat.

Jemaat Lopo Matakus Manulai II sendiri memiliki sejarah pelayanan yang panjang. Berdiri sejak 93 tahun lalu, jemaat ini kini menaungi 147 kepala keluarga (KK) yang terbagi dalam 7 rayon dan dilayani oleh pelayan jemaat Pdt. Nedli N. Manimakani – Non, S.Si-Teol. *