
Pendahuluan: Satu Malam, Tiga Perayaan
Tanggal 31 Oktober menyimpan dua kelahiran sekaligus. Pada 31 Oktober 1517 seorang biarawan di Wittenberg menulis 95 dalil dan menggugat gereja yang lupa pada anugerah. Pada 31 Oktober 1947, di Jemaat Syalom Airnona Kupang, GMIT berdiri sebagai gereja yang mandiri. Tahun ini kita merayakan 509 tahun Reformasi dan 79 tahun GMIT, sambil menutup Bulan Keluarga.
Tetapi perayaan tidak selalu datang dalam suasana pesta. Banyak dari kita membawa ke ibadah ini bukan hanya syukur, tetapi juga lelah. Sekolah-sekolah GMIT bergumul dengan guru yang kurang dan gaji yang belum layak. Aset gereja perlu dibenahi. Media sosial penuh kritik, kadang juga hinaan. Di rumah-rumah, ada keluarga yang terpisah karena merantau, ada anak yang menunggu orang tua pulang.
Karena itu Mazmur 77 terasa sangat jujur. Ini nyanyian untuk gereja yang merayakan sambil terluka. Asaf membuka mazmurnya dengan malam: tangannya terulur sepanjang malam, dan jiwanya enggan dihibur (ay. 3). Ia tidak berpura-pura kuat. Ia berdoa dari ambang pintu, apa yang oleh antropolog Victor Turner disebut liminalitas: tidak lagi di tempat lama, belum tiba di tempat baru.
Mazmur ini tidak menjawab pertanyaan “di mana jejak Tuhan?” dengan menunjuk bekas kaki di pasir. Ia memindahkan mata kita dari luka kita kepada tangan kanan dan lengan Tuhan. Lalu, secara mengejutkan, ia menutup kisahnya dengan menyerahkan tongkat penggembalaan ke tangan manusia: Musa dan Harun. Di situlah pesan kita. Jejak Tuhan tidak kelihatan di atas air, tetapi Ia mau jejak-Nya kelihatan melalui tangan umat-Nya.
Dari “Aku” ke “Engkau”: Anatomi Sebuah Malam
Mazmur 77 bergerak dari diri yang tenggelam dalam luka menuju Allah yang bertindak dalam sejarah. Yohanes Calvin menyebut kitab Mazmur sebagai semacam peta anatomi jiwa manusia; Mazmur 77 adalah salah satu bedahannya yang paling jujur.
Perhatikan alurnya :
- Ayat 2–10: malam “aku”. Kata “aku” dan “-ku” muncul bertubi-tubi: aku berseru, tanganku terulur, jiwaku enggan dihibur, aku gelisah. Allah hadir, tetapi sebagai pertanyaan: “Untuk selamanyakah Tuhan menolak?”
- Ayat 11-13: engsel. Ada keputusan untuk mengingat secara berbeda.
- Ayat 14-21: siang “Engkau”. Kata ganti bergeser: jalan-Mu, lengan-Mu, jejak-Mu. Nyanyian berubah menjadi kesaksian tentang Laut Teberau.
Walter Brueggemann membaca mazmur seperti ini sebagai perjalanan dari disorientasi menuju orientasi baru. Imannya tidak kembali ke titik semula. Ia tiba di tempat baru, dengan bekas luka yang tetap ada.
Yang menarik, kata kerjanya sama. Di ayat 4 Asaf berkata, “Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang; apabila aku merenung, makin lemah semangatku.” Di ayat 12-13 ia memakai kata yang sama, zakar (mengingat) dan siach (merenung), tetapi kali ini ingatan itu menyembuhkan. Mengapa? Karena objeknya berubah. Di awal, ia mengingat Allah dari dalam penderitaannya sendiri. Kemudian, ia mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN.
Psikologi menyebut yang pertama ruminasi: pikiran yang berputar-putar pada luka sendiri. Alkitab menyebut yang kedua anamnesis: ingatan iman yang menghadirkan kembali karya Allah. Gereja bisa melakukan keduanya. Kita bisa sibuk mengingat masalah, kekurangan, dan siapa yang salah. Atau kita mengingat jalan Tuhan yang telah membawa kita sejauh ini.
Tiga kali mazmur ini memberi jeda Sela (ay. 4, 10, 16). Iman memerlukan tarikan napas. Gereja yang sehat bukan gereja yang tidak pernah bertanya, melainkan gereja yang memberi ruang untuk berhenti, mendengar, lalu berjalan lagi.
Ayat 11: Tangan yang “Berubah” atau “Tahun-Tahun” Tangan Kanan? Titik terdalam mazmur ini sekaligus menjadi titik baliknya, dan semuanya bergantung pada satu kata Ibrani. TB menerjemahkan ayat 11: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.” Itu luka paling dalam seorang beriman: bukan karena hidup sulit, tetapi karena curiga bahwa Tuhan sudah tidak sama lagi.
Namun kata Ibrani shenot dapat dibaca dua cara. Dari akar shanah “berubah”, artinya “berubahnya tangan kanan”. Dari kata shanah “tahun”, artinya “tahun-tahun tangan kanan Yang Mahatinggi”, seperti dibaca sejumlah terjemahan lama. Dua bacaan ini tidak saling meniadakan. Justru di situlah keindahannya. Kalimat yang sama yang mengungkapkan keputusasaan juga membuka pintu harapan: Asaf mulai menghitung bukan tahun-tahun lukanya, melainkan tahun-tahun tangan kanan Tuhan. Karena itu ayat berikutnya berbunyi, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN… keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.”
Inilah cara membaca sejarah gereja. 79 tahun GMIT bukanlah tahun-tahun tangan kita. 509 tahun Reformasi bukanlah tahun-tahun tangan Luther atau Calvin. Semuanya adalah tahun-tahun tangan kanan Yang Mahatinggi. Yang sering berubah bukan tangan Tuhan, melainkan genggaman kita.
Mazmur ini memakai dua gambaran:
- Tangan kanan (yamin): lambang otoritas, kuasa, dan perlindungan. Kata ini menggemakan nyanyian Musa di tepi Laut Teberau: “Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu” (Kel. 15:6).
- Lengan (zeroa): lambang pembebasan. “Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu” (ay. 16). Kata kerjanya ga’al, menebus sebagai kerabat, seperti seorang go’el yang membela keluarganya yang terjual.
Perhatikan, Allah menebus sebagai kerabat. Pembebasan dalam Alkitab adalah urusan keluarga. Tidak heran jika pengakuan iman tertua Israel, yang diucapkan setiap keluarga ketika membawa hasil pertama, berbunyi: “TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan dengan lengan yang teracung” (Ul. 26:8). Inilah syahadat keluarga yang dibacakan di depan mezbah. Tangan dan lengan Tuhan tidak hanya menulis sejarah bangsa, tetapi juga sejarah rumah tangga.
Jejak yang Tidak Kelihatan: Spiritualitas Reformasi 509 Tahun
Ayat 20 adalah salah satu kalimat paling berani dalam Alkitab: “Melalui laut jalan-Mu… tetapi jejak-Mu tidak kelihatan.” Allah benar-benar lewat, laut benar-benar terbelah, tetapi air menutup kembali bekas kaki-Nya. Allah tidak absen; Ia tersembunyi. Di sinilah Mazmur 77 berjumpa dengan jantung spiritualitas Reformasi.
Pertama, Allah yang tersembunyi dan dinyatakan. Martin Luther berbicara tentang Deus absconditus, Allah yang tersembunyi, dan Deus revelatus, Allah yang menyatakan diri. Dalam Disputasi Heidelberg (1518), ia membedakan teolog kemuliaan yang mencari Allah dalam keberhasilan dan kemegahan, dari teolog salib yang mengenal Allah justru melalui penderitaan dan salib. Allah sering bekerja sub contrario, di balik rupa yang berlawanan. Laut yang menakutkan menjadi jalan. Salib yang memalukan menjadi keselamatan. Jejak yang tidak kelihatan bukan tanda Allah pergi, melainkan cara Allah mengajar kita beriman.
Kedua, Mazmur 77 adalah sekolah teologi. Luther pernah merumuskan tiga hal yang membentuk seorang teolog: oratio (doa), meditatio (perenungan atas Firman), dan tentatio (pergumulan, Anfechtung). Ketiganya ada dalam Mazmur 77. Asaf berseru (oratio, ay. 2-3), ia bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang (tentatio, ay. 8-11), lalu merenungkan karya Allah (meditatio, ay. 12-13). Reformasi lahir dari malam semacam ini: dari seorang biarawan yang gelisah dan jiwanya enggan dihibur oleh penghiburan murah bernama surat indulgensi.
Ketiga, Reformasi adalah tindakan mengingat. Seruan ad fontes, kembali ke sumber, bukan nostalgia. Itu adalah anamnesis: menggali kembali “keajaiban-keajaiban dari zaman purbakala” supaya gereja dapat berjalan ke depan. Rumusan ecclesia reformata semper reformanda, yang berkembang dalam tradisi Reformed Belanda abad ke-17, berarti gereja terus dibarui oleh Firman. Bukan gereja yang membarui dirinya menurut selera zaman.
Keempat, penghiburan yang sejati. Asaf berkata jiwanya enggan dihibur. Jawaban tradisi Reformed atas malam seperti itu tertulis pada pertanyaan pertama Katekismus Heidelberg (1563): satu-satunya penghiburan kita, dalam hidup dan dalam mati, ialah bahwa kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamat yang setia. Penghiburan Reformasi bukan perasaan nyaman. Itu kepastian tentang siapa pemilik hidup kita.
Kelima, imamat am orang percaya. Reformasi menolak gagasan bahwa hanya sedikit orang yang berhak dekat dengan Allah. Tidak ada yang paling berotoritas selain Firman. Itulah akar tata gereja presbiterial-sinodal GMIT: Kristus memerintah gereja-Nya melalui para presbiter yang melayani bersama. Dalam bahasa kita: barenti bilang “beta”, mulai bilang “katong”.
Angka 509 bukan angka bulat. Tidak ada pesta besar untuk ulang tahun ke-509. Mungkin justru itu pesannya: reformasi tidak terjadi pada tahun-tahun istimewa, tetapi pada tahun-tahun biasa, ketika gereja setia memeriksa dirinya di hadapan Firman.
Tujuh Puluh Sembilan Tahun: Jejak Tangan Tuhan dalam Sejarah GMIT
Sejarah GMIT adalah Mazmur 77 yang ditulis di tanah Timor: ada masa ketika jejak Tuhan seolah hilang, tetapi lengan-Nya tetap bekerja.
Pendeta Belanda pertama datang ke Timor pada awal abad ke-17. Namun selama hampir dua abad tidak ada pelayanan yang berkesinambungan, sebagian karena kepentingan dagang lebih diutamakan daripada umat. Dua ratus tahun jejak itu seperti ditutup air. Baru sejak 1821 pelayanan berjalan terus, melalui lembaga zending Belanda hingga 1863, lalu oleh Indische Kerk hingga 1942. Injil menyebar ke Rote dan Sabu, dan sejak 1930-an masuk ke pedalaman Timor dan Alor. Gereja bertumbuh begitu cepat sehingga kekurangan pemimpin untuk melayani umat.
Lalu datang perang dan pendudukan. Struktur kolonial runtuh. Tetapi gereja tidak runtuh, karena sejak awal di Timor iman banyak dirawat oleh tangan-tangan lokal: guru jemaat, penginjil, ibu-ibu yang mengajar anak berdoa. Pada 31 Oktober 1947 GMIT berdiri sebagai gereja mandiri dengan sekitar 224.000 anggota, 315 jemaat, dan hanya 80 pendeta. Delapan puluh pendeta untuk ratusan ribu jiwa di pulau-pulau yang dipisahkan laut. Secara manusiawi itu mustahil. Tetapi itulah “tahun-tahun tangan kanan Yang Mahatinggi”.
Pada 1966 Tuhan mengunjungi GMIT melalui kebangunan rohani. Dari situ lahir ribuan persekutuan doa, yang kemudian diakui GMIT sebagai salah satu unit pelayanan fungsional. Kini GMIT melayani di 2.426 jemaat dan 57 klasis. Pada Juli 2026, dengan ditahbiskannya 114 pendeta baru, jumlah pendeta GMIT menjadi 1.853 orang. Dari 80 menjadi 1.853. Kalau ada yang bertanya “Masih adakah jejak Tuhan di GMIT?”, inilah jawabannya.
Namun Asaf mengajar kita jujur. Bertambahnya angka tidak otomatis berarti bertambahnya kesetiaan. Kita masih bergumul dengan sekolah yang kekurangan guru dan guru yang kekurangan gaji, dengan aset yang belum tertata, dengan kemiskinan, stunting, perdagangan orang, dan kekeringan di tanah kita. Kita juga bergumul dengan godaan untuk melihat gereja hanya dari diri sendiri, seperti Asaf di malam pertamanya.
Sejak awal GMIT tidak dipanggil untuk menjadi gereja menara gading. GMIT lahir untuk hadir di ruang publik: melalui sekolah, layanan kesehatan, panti asuhan, pemberdayaan ekonomi, dan suara kenabian. Jejak Tuhan dalam sejarah misi GMIT jarang tercetak di monumen. Jejak itu tertulis pada anak petani yang menjadi guru karena sekolah GMIT, pada jemaat kecil yang tetap beribadah meski pendetanya datang sebulan sekali, pada majelis yang memikul persembahan rupiah demi rupiah sampai rumah Tuhan berdiri.
Bulan Keluarga: Ayah yang Enggan Dihibur, Anak yang Ditebus
Ungkapan “jiwaku enggan dihibur” (ay. 3) bukan ungkapan biasa. Dalam bahasa Ibrani, ungkapan yang sama dipakai untuk dua tokoh keluarga yang paling remuk dalam Alkitab.
Yang pertama adalah Yakub. Ketika anak-anaknya membawa jubah Yusuf yang berlumur darah, “semua anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan” (Kej. 37:35). Seorang ayah kehilangan anak karena iri hati saudara-saudaranya sendiri. Yang kedua adalah Rahel, ibu Yusuf, yang menangisi anak-anaknya dan “tidak mau dihibur” (Yer. 31:15).
Sekarang perhatikan ayat 16: “Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf.” Mazmur yang dimulai dengan bahasa duka keluarga Yakub ditutup dengan menyebut keluarga itu juga sebagai keluarga yang ditebus. Keluarga yang dulu retak oleh iri hati, kebohongan, dan kehilangan, kini disebut bersama dalam satu kalimat keselamatan. Lengan Tuhan tidak hanya membelah laut; lengan itu memulihkan rumah.
Inilah kabar baik untuk keluarga-keluarga GMIT. Ada ayah dan ibu yang bekerja jauh di Malaysia atau di kota lain, dan anak-anak yang tumbuh dengan rindu. Ada keluarga yang kehilangan anak karena perdagangan orang. Ada rumah yang terluka oleh kekerasan, utang, atau kata-kata yang menyakitkan. Ada janda dan duda yang memasuki bulan keluarga dengan kursi kosong di meja makan. Kepada mereka Mazmur 77 tidak berkata, “Jangan menangis.” Ia berkata: bawalah tangisanmu kepada Tuhan, sebab nama keluargamu bisa disebut dalam kalimat penebusan.
Keluarga juga adalah tempat pertama ingatan diwariskan. Mazmur sesudahnya, juga mazmur Asaf, meminta orang tua menceritakan perbuatan TUHAN kepada angkatan berikutnya, supaya anak-anak menaruh kepercayaan kepada Allah (Mzm. 78:4-7). Syahadat “tangan yang kuat dan lengan yang teracung” (Ul. 26:8) diucapkan oleh kepala keluarga di depan mezbah. Gereja purba menyebut rumah sebagai ecclesia domestica, gereja rumah tangga. Brother Lawrence, juru masak di biara Karmelit Paris abad ke-17, belajar bahwa dapur bisa sama kudusnya dengan altar. Meja makan adalah altar kecil.
Setiap keluarga punya “Laut Teberau”-nya sendiri: sakit yang disembuhkan, sekolah anak yang tetap terbayar, panen yang cukup di tahun kering. Pada penutupan Bulan Keluarga ini, mari jadikan rumah kita ruang anamnesis, bukan ruminasi. Ceritakan kepada anak dan cucu bagaimana Tuhan membawa keluarga ini melewati air. Sebab anak-anak yang tidak mendengar kisah tangan Tuhan di rumah akan mudah percaya bahwa tangan itu sudah berubah.
Tangan Musa dan Harun: Lengan Tuhan dalam Panca Pelayanan GMIT
Ayat terakhir Mazmur 77 berbunyi: “Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun.” Kata “dengan perantaraan” dalam bahasa Ibrani adalah beyad, secara harfiah “dengan tangan” Musa dan Harun.
Perhatikan, mazmur ini dibingkai oleh tangan. Di awal ada tangan Asaf yang terulur dalam doa sepanjang malam (ay. 3). Di tengah ada tangan kanan dan lengan Allah yang membebaskan (ay. 11, 16). Di akhir ada tangan Musa dan Harun yang menggembalakan (ay. 21). Tangan yang berdoa, tangan yang membebaskan, tangan yang melayani. Lengan Tuhan yang kuat memilih bekerja melalui tangan manusia yang rapuh.
Dan betapa rapuhnya tangan itu. Harun membuat lembu emas ketika umat mendesak (Kel. 32). Musa memukul batu padahal Tuhan menyuruhnya berbicara (Bil. 20:1–13). Namun mazmur ini tetap menyebut nama mereka. Inilah anugerah dalam sejarah misi: Allah tidak menunggu pelayan yang sempurna. Ia memakai tangan yang pernah salah, asalkan tangan itu tidak berhenti terulur kepada-Nya. Mazmur ini juga berakhir mendadak, tanpa penutup yang rapi. Seolah kisahnya sengaja dibiarkan terbuka, untuk diteruskan oleh tangan-tangan berikutnya: tangan kita.
Di GMIT, tangan itu punya lima jari: Panca Pelayanan. Lima jari bukan lima tangan. Satu jari saja tidak dapat menggenggam; tangan baru kuat ketika kelima jarinya bekerja bersama.
- Liturgia, ibu jari. Ibu jari berhadapan dengan semua jari lain dan membuat tangan bisa menggenggam. Ibadah memberi pegangan bagi seluruh pelayanan. Mazmur 77 sendiri adalah liturgi yang memberi ruang bagi ratapan. Ibadah GMIT harus jujur: bukan sebuah sandiwara, harus ada tempat untuk air mata dan Sela (menghela nafas).
- Marturia, jari telunjuk. Telunjuk menunjuk, bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada Kristus. Karl Barth menyimpan gambar Yohanes Pembaptis dari altar Isenheim karya Grünewald, dengan telunjuk panjang yang mengarah kepada Yesus yang tersalib. Allah “menyatakan kuasa-Nya di antara bangsa-bangsa” (ay. 15). Kesaksian GMIT di ruang publik berarti menunjuk kepada keadilan Allah di tengah korupsi, perdagangan orang, dan kerusakan alam. Bahkan juga tentang masa depan Indoenesia di tengah ambisi ideologi dan cara kerja yang menakutkan.
- Koinonia, jari tengah. Jari yang paling panjang berdiri di tengah dan menjaga keseimbangan. Persekutuan adalah pusat gereja. Kata ekklesia berasal dari sidang warga kota Yunani, tempat warga berkumpul dan berbicara. Gereja dirancang sejak awal sebagai persekutuan yang partisipatif, bukan panggung satu orang.
- Diakonia, jari manis. Di jari inilah cincin perjanjian dipasang. Diakonia adalah kasih yang terikat perjanjian, seperti go’el yang menebus kerabatnya. Gereja menolong tetangga tanpa lebih dahulu menanyakan agamanya; gereja membangun jembatan, bukan pagar.
- Oikonomia, jari kelingking. Jari terkecil, tempat orang membuat “janji kelingking”. Penatalayanan adalah kesetiaan dalam perkara kecil (Luk. 16:10): rupiah demi rupiah persembahan, sertifikat tanah sekolah, gaji guru, data jemaat, dan pemeliharaan bumi. Kelingking tampak kecil, tetapi tanpanya genggaman menjadi lemah.
Panca Pelayanan bukan lima program yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan satu tangan yang diserahkan kepada Tuhan. Ketika liturgi terputus dari diakonia, ibadah menjadi seremoni. Ketika diakonia terputus dari oikonomia, pelayanan menjadi proyek sesaat. Ketika marturia terputus dari koinonia, kesaksian berubah menjadi suara satu orang. Tangan GMIT hanya kuat untuk menggenggam tangan Tuhan dan tangan sesama bila kelima jarinya saling menopang.
Penutup: Menjadi Jejak Tuhan
Ada satu permainan kata yang indah dalam bahasa Ibrani. Kata “jejak” pada ayat 20 adalah ‘iqqevot, berasal dari ‘aqev, tumit. Dari akar yang sama lahir nama Ya’aqov, Yakub, “si pemegang tumit”. Jejak tumit Allah tidak kelihatan di atas air (ay. 20), tetapi beberapa ayat sebelumnya disebut “bani Yakub” (ay. 16), anak-anak sang tumit. Secara homiletis kita boleh berkata: jejak Allah yang tidak kelihatan di laut, kelihatan pada umat yang telah ditebus-Nya.
Karena itu, pada usia 79 tahun, pertanyaan GMIT yang lebih dalam adalah: “Apakah kita menjadi jejak Tuhan?” Apakah orang NTT dapat melihat bekas tangan Tuhan pada sekolah GMIT, pada pelayanan kita kepada orang miskin, pada cara kita mengelola aset dan anggaran, pada rumah tangga Kristen yang penuh kasih, pada keberanian kita membela korban?
Mazmur 77 mengajak kita melakukan tiga gerakan:
- Mengingat. Berpindah dari ruminasi kepada anamnesis. Ingatlah tahun-tahun tangan kanan Yang Mahatinggi: 1947, 1966, dan setiap tahun ketika Tuhan membawa GMIT melewati air.
- Bersandar. Bukan pada kekuatan struktur, angka, atau gedung, tetapi pada tangan kanan dan lengan Tuhan yang tidak berubah. Yang berubah adalah genggaman kita; tangan-Nya tetap.
- Berjalan. Mengulurkan tangan kita, seperti Musa dan Harun yang rapuh, sebagai tangan yang melayani dalam Panca Pelayanan, di rumah, di jemaat, dan di ruang publik.
Selamat ulang tahun ke-79, GMIT. Selamat merayakan 509 tahun Reformasi. Selamat menutup Bulan Keluarga. Jejak Tuhan tidak kelihatan di atas air, tetapi kiranya mulai malam ini jejak-Nya kelihatan di tangan kita.











