//MENGINGAT KARYA TUHAN, BERSYUKUR, DAN MENYEMBUHKAN LUKA (MAZMUR 77) – PDT. MERKURY D. SINE

MENGINGAT KARYA TUHAN, BERSYUKUR, DAN MENYEMBUHKAN LUKA (MAZMUR 77) – PDT. MERKURY D. SINE

1. Pendahuluan

Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Setiap manusia pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya. Ada luka yang terlihat oleh orang lain, tetapi ada pula luka yang tersembunyi jauh di dalam hati. Luka karena kehilangan orang yang dikasihi, kekecewaan terhadap sesama, pengkhianatan, pergumulan keluarga, masalah pekerjaan, sakit penyakit, atau doa-doa yang belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan.  Dalam keadaan seperti itu, terkadang kita bertanya kepada Tuhan, “Mengapa semua ini terjadi dalam hidup saya? Sampai kapan saya harus mengalami pergumulan ini? Apakah Tuhan masih mengingat saya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan iman. Bahkan, pemazmur dalam Mazmur 77 juga mengalami pergumulan batin yang mendalam. Ia berseru kepada Tuhan, mengingat penderitaannya, dan bergumul dengan pertanyaan tentang pertolongan Tuhan. Namun, di tengah pergumulannya, pemazmur mengambil langkah penting: ia mulai mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan pada masa lampau.

Dari pengalaman pemazmur, kita belajar bahwa mengingat karya Tuhan dapat menolong kita menemukan kembali pengharapan, bersyukur di tengah pergumulan, dan menjalani proses penyembuhan luka batin bersama Tuhan.

Bapa – mama suadara-i terkasish, hari ini Kita sedang berada dalam suasana akhir Bulan Keluarga. Suasana HUT GMIT 79 DAN HARI REFORMASI 509, Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali merenungkan arti keluarga, perjalanan pelayanan GMIT dan reformasi sampai sekarang ini , banyak tantangan dan cobaan silih datang berganti,  kita di ajarkan saling mengasihi, menerima kekurangan, mengampuni, dan memperbaiki hubungan., kita dipanggil untuk membangun kehidupan bersama sebagai satu keluarga dan pelayanan.

Namun, kita harus jujur bahwa dalam kehidupan keluarga dan pelayanan, terkadang ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, kekecewaan, dan luka hati. Kita bisa bekerja bersama setiap hari, tetapi belum tentu semua perasaan kita baik-baik saja.

Melalui Mazmur 77, kita diajak untuk kembali mengingat karya Tuhan, belajar bersyukur, dan membuka hati bagi pemulihan.

2. Mengingat Karya Tuhan

Dalam Mazmur 77, pemazmur sedang mengalami pergumulan. Namun, ia memilih untuk mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan merenungkan karya-Nya.

Saudara-saudari, Ketika melihat perjalanan keluarga kita, berapa banyak pertolongan Tuhan yang sudah kita alami? Ketika melihat perjalanan GMIT, berapa banyak tantangan yang telah dilewati hingga kita tiba pada hari ini?

GMIT tidak bertumbuh dalam perjalanan yang selalu mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, pelayanan, air mata, dan kesetiaan banyak orang. Ada para pendahulu yang telah bekerja dan melayani, bahkan ketika hasilnya belum dapat mereka nikmati sendiri.Demikian juga keluarga kita. Kita bisa bertahan sampai hari ini bukan semata-mata karena kekuatan kita sendiri, melainkan juga karena kasih karunia Tuhan.

Karena itu, menjelang HUT ke-79 GMIT, kita tidak hanya menghitung usia organisasi, tetapi juga mengingat karya Tuhan melalui orang-orang yang telah melayani dengan setia. Kita juga di ingatkan Jangan hanya mengingat masalah dalam perjalanan, tetapi ingatlah juga pertolongan Tuhan yang membuat kita tetap berjalan sampai hari ini.

3. Bersyukur dalam Kehidupan Bersama

Pemazmur berkata dalam Mazmur 77:12 bahwa ia hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan merenungkan segala pekerjaan-Nya. Bersyukur bukan berarti kehidupan kita tidak memiliki masalah. Bersyukur berarti kita masih mampu melihat kebaikan Tuhan di tengah berbagai keterbatasan. Dalam keluarga, kita belajar bersyukur atas pasangan, anak-anak, dan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Kita memiliki latar belakang, karakter, pemikiran, dan tanggung jawab yang berbeda. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya membuat kita saling menjauh. Kita tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama. Akan tetapi, kita dapat belajar untuk tetap saling menghormati, mendengarkan, dan bekerja sama. Terkadang, kita terlalu mudah melihat kekurangan rekan kerja, tetapi lupa menghargai kebaikannya. Kita cepat mengkritik, tetapi lambat mengucapkan terima kasih.

Bulan Keluarga mengingatkan kita untuk kembali membangun kebiasaan sederhana: menyapa dengan tulus, mendengarkan dengan sabar, menghargai pekerjaan orang lain, dan mengucapkan terima kasih.  Keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa perbedaan, melainkan keluarga yang tetap memilih untuk saling mengasihi di tengah perbedaan.

4. Menyembuhkan Luka dan Memulihkan Hubungan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa dalam hati. Ada perkataan yang masih diingat, sikap yang mengecewakan, dan persoalan yang belum selesai.

Luka seperti ini dapat terjadi di rumah, dalam persekutuan jemaat, maupun di tempat kerja. Kita mungkin duduk bersama, bekerja bersama, bahkan berdoa bersama, tetapi masih menyimpan kekecewaan terhadap satu sama lain.

Mazmur 77 mengajak kita membawa pergumulan kepada Tuhan dan kembali mengingat karya-Nya. Dalam semangat Bulan Keluarga, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ada orang yang perlu kita ajak berbicara dengan baik? Apakah ada kesalahan yang perlu kita akui? Apakah ada ucapan terima kasih yang belum kita sampaikan? Apakah ada hubungan yang perlu kita pulihkan?

Memulihkan hubungan tidak selalu mudah. Kadang-kadang kita harus belajar merendahkan hati, meminta maaf, dan bersedia mendengarkan sudut pandang orang lain. Mengampuni juga tidak berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan ketidakadilan. Mengampuni berarti kita tidak ingin terus-menerus dikuasai oleh kebencian, sambil tetap berusaha menyelesaikan persoalan secara benar dan bertanggung jawab. Sebagai keluarga besar GMIT, kita perlu membangun budaya pelayanan yang tidak hanya menekankan tugas dan aturan, tetapi juga kepedulian, keadilan, penghargaan, dan tanggung jawab bersama.

Jangan biarkan luka kemarin merusak kesempatan kita untuk membangun kebersamaan hari ini.

5. Bulan Keluarga, HUT ke-79 GMIT, dan Hari Reformasi 509: Kembali Membarui Diri

Saudara-saudari, Bulan Keluarga mengajak kita membarui kehidupan dalam keluarga. HUT ke-79 GMIT mengajak kita mengingat perjalanan pelayanan dan tanggung jawab kita ke depan. Sementara itu, Hari Reformasi mengingatkan gereja untuk terus membarui diri berdasarkan firman Tuhan. Semangat Reformasi sering dirangkum dalam ungkapan Ecclesia Reformata, Semper Reformanda, yang berarti gereja yang telah direformasi harus terus-menerus diperbarui.

Pembaharuan itu bukan hanya tentang perubahan aturan, struktur, atau program. Pembaharuan juga harus terjadi dalam hati dan cara kita memperlakukan sesama. Jika kita berbicara tentang kasih, marilah kita menunjukkan kasih melalui tindakan. Jika kita berbicara tentang pelayanan, marilah kita melayani dengan tulus. Jika kita berbicara tentang keluarga, marilah kita menciptakan suasana yang membuat setiap orang merasa dihargai.

Jika kita mengharapkan perubahan dalam GMIT, marilah kita memulainya dari diri sendiri.

Kita tidak dapat membangun gereja yang penuh kasih jika kita terus memelihara kebencian. Kita tidak dapat membangun keluarga yang sehat jika kita tidak mau saling mendengarkan. Kita tidak dapat membangun pelayanan yang baik jika kita hanya menuntut orang lain berubah, tetapi tidak bersedia memperbaiki diri.

Pesan bagi kita: Pembaruan gereja dimulai ketika setiap orang bersedia membarui hati, memperbaiki sikap, dan melayani dengan kasih.

6. Penutup

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,Melalui Mazmur 77, kita belajar tiga hal sederhana.

Pertama, mengingat karya Tuhan, supaya kita tidak melupakan pertolongan-Nya dalam perjalanan keluarga dan GMIT.

Kedua, bersyukur, supaya kita belajar menghargai kehadiran dan pelayanan setiap orang.

Ketiga, menyembuhkan luka, supaya kita tidak terus hidup dalam kekecewaan, tetapi berani membangun kembali hubungan yang rusak.

Dalam suasana Bulan Keluarga, mari kita mulai dari rumah kita masing-masing. Dalam kehidupan di Kantor Sinode GMIT, mari kita membangun suasana yang mencerminkan keluarga: saling menghargai, saling mendukung, dan saling bertanggung jawab. Dalam menyongsong HUT ke-79 GMIT, mari kita meneruskan warisan pelayanan dengan hati yang bersyukur dan semangat yang diperbarui. Dalam memperingati Hari Reformasi, mari kita kembali kepada firman Tuhan dan membiarkan-Nya membarui kehidupan kita.

Sebab, gereja yang kuat bukan hanya gereja yang memiliki program yang baik, melainkan gereja yang anggotanya bersedia hidup dalam kasih, keadilan, dan kesetiaan.

Mari mengingat karya Tuhan, mensyukuri kebersamaan, dan menyembuhkan luka. Dari keluarga, ke Kantor Sinode, hingga seluruh pelayanan GMIT, kita dipanggil untuk menjadi satu keluarga yang terus bertumbuh dalam kasih Tuhan.

Kesimpulan

Berdasarkan Mazmur 77, kita belajar bahwa mengingat karya Tuhan menolong kita tetap memiliki pengharapan, bersyukur menolong kita menghargai kebersamaan, dan menyembuhkan luka membuka jalan bagi pemulihan hubungan.

Sebagai keluarga besar GMIT, kita dipanggil bukan hanya untuk bekerja bersama dalam satu kantor, tetapi juga untuk membangun kehidupan sebagai saudara dalam satu rumah pelayanan. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk belajar memahami dan menghargai satu sama lain.

Dalam semangat Bulan Keluarga, menyongsong HUT ke-79 GMIT, dan memperingati Hari Reformasi, pembaruan harus dimulai dari diri sendiri. Kita perlu berani memperbaiki sikap, mengakui kesalahan, mengampuni dengan bijaksana, dan melayani dengan tulus.

Jangan hanya mewarisi sejarah GMIT, tetapi teruskanlah kasihnya. Jangan hanya merayakan usianya, tetapi perbaruilah pelayanannya. Jangan hanya bekerja bersama dalam satu kantor, tetapi hiduplah sebagai saudara dalam satu rumah pelayanan. *