//Kesetiaan Tuhan di Tengah Badai Hidup (Matius 14:22-33) – Pdt. Ariance Naitasi

Kesetiaan Tuhan di Tengah Badai Hidup (Matius 14:22-33) – Pdt. Ariance Naitasi

PENGANTAR

Di dalam kehidupan kita tak satupun yang luput dari badai kehidupan.  Merasa cemas, takut, bingung dan merasa tidak berdaya sama sekali, merasa kehilangan kendali dan tidak tahu harus berbuat apa? Beratnya badai hidup kadang membuat kita makin berserah pada kuasa Tuhan, tapi tidak sedikit orang terkadang tergerus badai dan hanyut.  Pengalaman yang serupa yang digambarkan dalam Firman Tuhan hari ini.

PENJELASAN TEKS

Bacaan Alkitab kita hari ini diawali dengan kisah terbunuhnya Yohanes Pembaptis yang telah mempersiapkan jalan bagi Yesus, dilanjutkan dengan Yesus mengajar banyak orang dan melakukan mujizat memberi makan lima ribu orang dengan 5 roti dan 2 ikan.

Setelah melayani orang banyak, Yesus mengambil waktu berdoa sedangkan para murid naik ke perahu sekitar sore hari untuk bertolak ke seberang (Kapernaum). Biasanya perjalanan ini ditempuh satu sampai dua jam, namun Matius menarasikan bahwa mereka bergelut hingga jam 3 pagipun ombak belum redah.

Waktu pukul 3 pagi merupakan fase jaga malam yang terakhir. Waktu jaga malam menurut tradisi Romawi terdiri dari 4 masa; fase pertama dimulai dari pukul 6 sore – pukul 9 malam, fase kedua pukul 9- pukul 12 malam, fase ketiga pukul 12- pukul 3 pagi dan fase kekmpat/ terakhir pukul 3- pukul 6. Apalagi jam 3 dini hari sering dianggap sebagai waktunya roh-roh jahat menyatakan diri mereka. Dengan kata lain, Yesus datang pada saat waktu jaga terakhir dan waktu di mana kuasa roh jahat mulai bereaksi.

Bayangkan bahwa para murid mungkin berjuang semalam suntuk di kapal dari terjangan ombak dan badai. Segala kecakapan dan keahlian mereka sebagai nelayan pasti dikerahkan untuk hadapi badai saat itu. Mereka menyadari bahwa guru mereka tidak bersama mereka, sehingga tidak dapat meminta tolong kepada-Nya

Mereka tidak menduga Sang guru akan datang di waktu terakhir itu, waktu di mana harapan mungkin mulai pupus. Dalam situasi tak terduga itu, justru mereka melihat sosok yang berjalan di atas air, sehingga mereka mengira bahwa itu adalah hantu (ay.26). Namun, kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay.27) Kata “tenang” atau tharséō:

  • sering dipakai Yesus ketika Dia menguatkan orang-orang sakit yang datang kepada-Nya. Dia mengatakan kepada orang lumpuh (lih. Mat 9:2) dan kepada perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan (lih. Mat 9:22) agar mereka tenang, percaya, sehingga mereka dapat memperoleh kesembuhan. Dari sini kita dapat belajar, bahwa kehadiran Yesus memberi pengharapan dan pemulihan.
  • Kata tharséō juga digunakan oleh Yesus ketika Dia mengatakan kepada para murid bahwa jangan sampai mereka takut kalau terjadi penganiayaan di dunia ini (Yoh 16:33), Kepada Rasul Paulus (Kis 23:11). Ini berarti dalam menghadapi masalah kehidupan dan juga masalah-masalah dalam menjalankan karya-karya kerasulan Allah hadir memberi kita kekuatan dan keberanian serta semangat untuk terus bersaksi.

Mendengar perkataan Yesus “tenang” atau tharséō: para murid mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapatkan ketenangan dan harapan. Petrus mengatakan, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay.28) Sungguh pernyataan yang terdengar berani dan mungkin cenderung terburu-buru. Namun, St. Hilarius dan St. Krisostomus melihat bahwa Petrus dipenuhi dengan kasih dan iman akan Kristus.

Melihat kedalaman hati Petrus, maka Yesus menjawab “Datanglah!” (ay.29) Dan dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus, Petrus turun dari perahu, menapakkan kakinya dan kemudian berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Pada mulanya airnya cenderung tenang dan Petrus cukup yakin bahwa ia dapat berjalan di atas air dengan aman. Namun, ketika Petrus tidak lagi berfokus pada Yesus, namun pada apa yang terjadi di sekitarnya. Petrus mulai fokus pada tiupan angin kencang sekali dan badai besar sedang datang ke arahnya Petrus pun mulai panik. Insting dia sebagai nelayan langsung menguasai pikirannya. Dia mulai meragukan kehadiran dan penyertaan Tuhan untuk dapat tetap di atas air dan badai tersebut. Dan segeralah Petrus mulai tenggelam ke dalam air. Dalam kerapuhan itu Petrus berseru kepada Yesus, “Tuhan tolonglah aku!” Dan Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menarik dia dari dalam air.”

Lawan dari ketakutan adalah keberanian (audacity), yaitu sikap berani untuk menghadapi tantangan atau ancaman. Keberanian dimaksud bukanlah bersumber pada diri kita, bukan berani asal-asal seperti berani udang tetapi takut periuk. Keberanian dimaksud adalah keberanian yang bersumber pada spirit Kristus sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita takut, maka kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita, yaitu Kristus sendiri. Saat kita takut dan lemah, kita butuh datang kepada Tuhan untuk menimba semangat baru. Inilah yang dilakukan oleh rasul Petrus, ketika dia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay.30)

Menarik bahwa pada saat Petrus meminta tolong kepada Tuhan, maka Tuhan menghampirinya, memegang tangan dan menariknya dari keterpurukan.  Yesus menghapus ketakutan dan kemudian naik perahu bersama mereka, maka dikatakan bahwa anginpun redah. Hanya ketenangan di dalam Tuhanlah yang dapat meredakan ketakutan kita

Apa makna mujizat Yesus berjalan di atas air dan pernyataan: Aku ini, tenanglah?

  • Yesus mengerjakan mukjizat-Nya bukan karena Dia mau mempertontonkan hal yang spektakuler. Tuhan Yesus bukan ahli sihir yang hanya ingin pamer hal- hal yang memukau.
  • Yesus bukan sekedar membangun identitas sebagai Raja untuk dikenal.
  • Yesus tidak mencari popularitas dan pengakuan manusia. Cukup mereka tahu dan lihat dengan mata bahwa Yesus sedang menyatakan firman Allah. Agar orang mengerti siapa Dia sesuai dengan firman Allah. Yesus berjalan di atas air. Ini sangat penting untuk diketahui oleh orang Israel. Karena samudra raya sering kali diidentikkan dengan kekacauan, kuasa yang memberontak kepada Tuhan. Dia adalah Allah yang menenangkan ombak lautan dan samudera raya.
  • Tetapi apakah tujuan Yesus berjalan di atas air dan mujizat lainnya hanya untuk menyatakan tanda bahwa Dialah Sang Anak Allah, Raja atas alam semesta? Tidak.
  • Kasih-Nya dan solidaritas-Nya mendorong Dia untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat.
  • Dia melakukan itu karena Dia mengasihi para murid yang terombang-ambing di dalam perahu. Dia hadir memberi mereka penyertaan-Nya. Mujizat Yesus tidak hanya menyatakan tanda, tetapi juga menyatakan belas kasihan. Dia mengasihani murid-murid-Nya dan ingin menolong mereka agar mereka tidak binasa.
  • Terlalu amat bisa Yesus menolong para murid dengan berseru dari pinggir danau agar airnya berhenti berombak? Yesus bisa saja pakai kuasa untuk redahkan badai dari tepi danau dan tidak harus dating di tengah badai. Bisa sekali, tetapi Dia tidak melakukan itu. Dia selalu menyatakan kehadiran-Nya, lebih daripada apa pun. Yesus mau hadir dan bergumul bersama dalam badai hingga melewati badai itu dan tiba di tepian dengan selamat bersama mereka. Ini sebuah keindahan penyertaan dan kehadiran yang luar biasa. Yesus beri kita teladan untuk hanya omong- omong dan main kuasa saja tanpa hadir dan bergumul bersama orang- orang yang berjuang dalam badai hidup. Ini menjadi refleksi bagi kita sebagai pelayan, apa makna kehadiran kita di tengah- tengah badai hidup?
  • Tuhan Yesus tidak ingin mencabut ombak dengan sembarangan. Terkadang ombak perlu untuk menguji iman kita dan kesetiaan kita kepada Allah. Tuhan Yesus lebih ingin memberikan penyertaan-Nya agar kita dapat menghadapi ombak itu bersama-sama dengan Dia di dalam perahu kehidupan kita.

PENUTUP

Perikop Yesus berjalan di atas air memberikan pelajaran kepada kita,

  • Badai hidup akan selalu ada, Gereja bergumul dengan madai media social, hoax, peningkatan grafik HIV AIDS, KDRT dan lain sebagainya. Firman Tuhan saat ini menolong kita agar kita senantiasa menaruh kepercayaan kita kepada Yesus, sehingga kita dapat mengarungi gelombang kehidupan dengan penuh iman dan pengharapan.
  • Tuhan tidak hanya berdaulat atas badai, tetapi hadir di dalam badai itu sendiri. Jadi, badai tidak selalu identik dengan kehancuran atau ancaman. Bisa jadi, badai justru menjadi saluran kehadiran Allah dalam hidup kita. Oleh sebab itu, iman dan kepercayaan kepada Tuhan menjadi kunci untuk melihat dan mengalami pertolongan-Nya di tengah badai.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Identifikasi badai apa saja yang sedang di hadapi GMIT, di rumah bersama dan keluarga kita hari ini dan bagaimana menyikapi semua hal itu?
  2. Apakah yang membedakan orang percaya dengan orang yang tidak percaya dalam hal memaknai arti kehadiran Tuhan. Tuhan berkata “Aku ini, Tenanglah? Seberapa jauh kita merasa tenang dalam badai kehidupan kita, atau kita justru cemas dan tergerus badai?
  3. Sebutkan kekuatan dan kelemahan dari sebuah tantangan/badai kehidupan baik untuk pelayanan kita maupun bagi keluarga kita.