//PGIW NTT Gelar Sidang Wilayah Tahun 2025, Angkat Isu Oikumene, Lingkungan alam Hingga Perlindungan terhadap Anak dan Keluarga

PGIW NTT Gelar Sidang Wilayah Tahun 2025, Angkat Isu Oikumene, Lingkungan alam Hingga Perlindungan terhadap Anak dan Keluarga

Kupang,www.sinodegmit.or.id, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Sidang Wilayah Tahun 2025 di Aula GMIT Center, Kota Kupang, pada 28-29 Oktober 2025. Sidang tersebut mengangkat isu oikumene, lingkungan alam, hingga perlindungan anak dan keluarga.

Dengan mengusung tema: “Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran” (Efesus 5:8b-9), dan sub tema: “Keluarga sebagai gereja menghayati Warisan Konsili Nicea,” sidang tersebut merupakan momen perayaan oikumene, evaluasi program, pembahasan dan penetapan pokok-pokok program tahun 2025-2030, pembahasan hal-hal umum dan rekomendasi, serta pemilihan Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGIW NTT Periode 2025-2030.

Sidang tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 peserta. Dari 20 angggota Sinode PGIW, 19 Sinode mengirim delegasinya untuk hadir dalam sidang tersebut. Turut hadir Ketua PGIW NTT, Pdt. Dr. Mery Kolimon dan pengurus lainnya, Majelis Pertimbangan PGIW NTT, Uskup Agung Kupang, Monsinyur Hironimus Pakaenoni, Sekretaris Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Dr. Sigit Triyono, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emi Nomleni dan pimpinan Kementrian Agama NTT. Hadir juga mitra-mitra PGIW NTT antara lain: UKAW Kupang, MPK, YCI/Compassion, WVI, CBN, Fukri, PGLII, GAMKI, GMKI, Perkantas, dan Rumah Belajar Ume Halan.

Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmani menyampaikan bahwa  beberapa isu sentral yang dibahas dalam persidangan tersebut antara lain mempersatukan gereja-gereja di lingkup PGIW NTT, menjaga bumi dan pesisir sebagai rumah bersama, melindungi anak dan keluarga, memberdayakan ekonomi Jemaat dan membela martabat manusia.

“Diharapkan gereja-gereja di lingkup PGIW bersatu, peduli terhadap ciptaan alam dan berbela rasa terhadap sesama,” kata Pdt. Zimrat.

Ia berharap agar dalam terang Kristus, gereja-gereja berkomitmen untuk menghadirkan kesaksian iman yang berdampak nyata.

Sementara itu Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Erni Simbolan dalam sambutannya mengatakan sidang ini merupakan ruang perjumpaan bagi seluruh gereja anggota untuk memperdalam panggilan pelayanan bersama. 

“Sidang ini menjadi ruang evaluasi dan penegasan panggilan kita bersama. Dalam lima tahun, kita telah berjalan bersama menabur benih pelayanan dan menjaga bara gerakan eukumene yang terus menyala,” kata Pdt. Lenta.

Ia juga mengapresiasi MPH PGIW NTT yang telah menjaga gerak oikumene yang nyata di NTT.

Hadir dalam acara pembukaan, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena berharap gereja terlibat dalam pembangunan moral dan spiritual masyarakat.

“Gereja hadir bukan hanya untuk menyelamatkan jiwa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran publik akan tanggung jawab bersama membangun peradaban…, aktif terlibat dalam isu-isu sosial seperti penanggulangan kemiskinan, perlindungan anak dan perempuan, literasi digital, serta pelestarian lingkungan,” pesan Gubernur Melki.

Salah satu peserta sidang asal GMIT, Pdt. Adolfina Kudji Lede turut menyampaikan harapannya.

“Saya berharap program yang diputuskan dalam sidang kali ini dapat terserap dan mendarat sesuai kebutuhan kita bersama untuk menjawab pelayanan. Demikian juga isu-isu sosial menjadi perhatian serius gereja,” ujar Pdt. Adolfina. ***