//Matahari Baru di Jemaat Sekupang-Batam: Saat Iman Menemukan Kemandirian di Tanah Rantau

Matahari Baru di Jemaat Sekupang-Batam: Saat Iman Menemukan Kemandirian di Tanah Rantau

Foto: Wiliradith Maniley

BATAM, www.sinodegmit.or.id, – Di bawah langit Sekupang yang hangat pada Minggu, 22 Februari 2026, sebuah babak baru tertulis dalam sejarah pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Bukan sekadar ibadah Minggu Sengsara II biasa, hari itu menjadi saksi bisu bagi “kelahiran” mandiri Jemaat Ebenhaezer Sekupang, yang kini tak lagi berdiri di bawah asuhan induknya, GMIT Eklesia Batam.

Suasana khidmat menyelimuti ruang ibadah saat Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Samuel B. Pandie, S.Th, berdiri di mimbar. Bagi jemaat yang mayoritas adalah perantau dari tanah Timor di Kepulauan Riau ini, momen pemandirian bukan sekadar urusan administrasi gerejawi, melainkan sebuah pengakuan atas kedewasaan iman.

Mengutip kitab Keluaran 14:15-31, Pdt. Samuel membawa jemaat menyelami kisah bangsa Israel di depan Laut Teberau. Sebuah metafora yang sangat relevan bagi jemaat yang sedang bertumbuh di tengah tantangan kota industri seperti Batam.

“Allah menyuruh bangsa Israel untuk masuk dalam ketakutan, supaya dalam ketakutan itu mereka melihat bagaimana Allah memulihkan dan menyembuhkan,” ujar Pdt. Samuel dengan nada tenang namun berwibawa.

Pesan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa kemandirian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Jemaat diajak untuk keluar dari persoalan masa lalu dan melangkah membawa berkat Tuhan, bukan membawa beban lama.

Momen haru pecah saat prosesi pelepasan Pdt. Sumiyati N. Hasan, S.Th, yang telah setia menuntun jemaat hingga titik ini. Estafet pelayanan kini beralih ke pundak Pdt. Wiliradith Maniley, S.Th. Sebagai nakhoda baru, Pdt. Wiliradith menyadari bahwa laut yang akan ia arungi tidak selalu tenang.

“Sungguh indah dan menyenangkan berada di tempat yang Tuhan inginkan, namun kami sadar tiada jemaat tanpa pergumulan. Kami terbatas, karena itu bekerja bersama seluruh pihak adalah kekuatan kami dalam menemukan kehendak Tuhan,” ungkap Pdt. Wiliradith dalam sambutannya yang menyentuh hati.

Kerja sama yang dimaksud bukan sekadar kata-kata. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Fary Djemy Francis dari BP Batam dan Serena Francis selaku Wakil Walikota Kupang menjadi bukti nyata sinergi antara gereja dan pemerintah. Dukungan satu unit sepeda motor operasional dan bantuan dana sebesar Rp34.000.000 dari Klasis Kota Kupang menjadi “bekal” awal bagi jemaat ini untuk berlari lebih kencang dalam pelayanan.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi jemaat di tanah rantau adalah tempat ibadah. Pdt. Samuel Pandie menegaskan bahwa GMIT akan terus berupaya membangun relasi dengan pemerintah agar setiap jemaat di Batam memiliki legalitas gedung yang layak. Ini adalah tentang martabat dalam beribadah.

Pemandirian Jemaat Ebenhaezer Sekupang adalah simbol bahwa di mana pun kaki berpijak, akar iman harus tetap kuat menghunjam. Kini, dengan status baru dan kepemimpinan yang segar, jemaat ini siap membuktikan bahwa mereka bukan sekadar “cabang”, melainkan pohon yang siap berbuah dan meneduhi sesama di tanah Batam.

Ibadah berakhir, namun semangat kemandirian itu baru saja menyala. Seperti doa yang dipanjatkan siang itu: kiranya melalui peristiwa ini, iman jemaat tidak hanya menetap, tetapi terus bertumbuh melampaui batas-batas gedung gereja. * (Kontributor: Pdt. Wiliradith Maniley)