
KUPANG,www.sinodegmit.or.id,– “Di tengah gempuran algoritma media sosial yang kerap memicu polarisasi dan “penghakiman liar” terhadap institusi, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mengambil langkah progresif dengan memperkuat resiliensi digital.” Demikian disampaikan Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi saat menyampaikan laporan pelayanan tahun 2025 pada Persidangan Majelis Sinode (PMS) LIV, Selasa (10/2/2026).
Pdt. Lay menegaskan bahwa gereja tidak boleh sekadar hadir sebagai pembuat konten, melainkan harus menjadi komunitas yang menawarkan keteduhan di tengah banjir disinformasi. Karena itu, GMIT secara resmi menetapkan transformasi digital dan penguatan etika teknologi sebagai pilar strategis untuk menghadapi fenomena “bad news is good news” yang marak di ruang publik.
“Adanya pergeseran pola komunikasi di mana masalah yang dulunya diselesaikan secara kekeluargaan di ruang konsistori, kini justru menjadi perdebatan terbuka di dunia maya. “Media sosial bisa menjadi alat kontrol sosial yang baik, namun ia bisa berubah menjadi ‘penghakiman’ tanpa dasar sebab basisnya adalah opini liar, bukan data dan fakta. Opini liar di media sosial yang berpotensi merusak kepercayaan jemaat hingga memicu eksodus,” kata Pdt. Abdi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, GMIT merumuskan tiga poin utama dalam akselerasi strategis digitalnya:
Peluncuran Aplikasi “Kawan Cerita”: Platform yang sebelumnya berbasis web kini bertransformasi menjadi aplikasi seluler yang lebih intuitif. Aplikasi ini memungkinkan jemaat terhubung secara real-time dengan konselor profesional untuk pendampingan pastoral, memastikan pelayanan tetap hadir meskipun tidak melalui perjumpaan fisik.
Pengembangan Etika Teknologi: GMIT menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai alat pelayanan, bukan pusat makna hidup. Sikap ilmiah-teologis ini menuntut pengembangan etika yang berakar pada martabat manusia sebagai imago Dei (gambar Allah) guna melawan dehumanisasi di ruang digital.
Sistem Informasi Eksekutif (SIE): Sebagai bagian dari digitalisasi tata kelola, diperkenalkan pula sistem SIE Sinode GMIT untuk mengintegrasikan data dan informasi secara lebih akurat dan transparan.
Persidangan tersebut juga menyoroti ambivalensi media sosial yang cenderung menggiring publik menikmati berita bohong dan konflik melalui algoritma yang rekayasa. GMIT melihat bahwa ketergantungan berlebihan pada layar ponsel berpotensi menggerus relasi personal dan memperdangkal spiritualitas jemaat.
Menanggapi meningkatnya tantangan kesehatan mental di masyarakat, Ketua Unit Pelayanan Pastoral, Pdt. Erlynardi T. F. Riwu Rame Radja Dima, menegaskan komitmen GMIT dalam memberikan solusi nyata
“Di tengah kompleksitas tekanan hidup yang memicu kecemasan dan keputusasaan, GMIT menghadirkan ‘Kawan Cerita’. Aplikasi ini merupakan media konseling yang aman dan rahasia untuk memberikan dukungan psikospiritual bagi sesama. Layanan ini sudah dapat diunduh melalui Play Store,” kata Pdt. Erlynardi.
Transformasi digital ini merupakan bagian dari penguatan 5 Pilar Pelayanan GMIT periode 2024-2027. Selain aspek digital, laporan yang disampaikan di GMIT Center Kupang ini juga mencakup evaluasi terhadap 57 Pokok Ajaran Gereja yang telah ditetapkan untuk memagari jemaat dari pengajaran asing di ruang-ruang digital. ***











