//Genap 68 Tahun, Majelis Sinode GMIT Resmikan Pemandirian Jemaat Kefas Kaipera di Alor Timur

Genap 68 Tahun, Majelis Sinode GMIT Resmikan Pemandirian Jemaat Kefas Kaipera di Alor Timur

Penyambutan Ketua Sinode GMIT bersama rombongan di Jemaat Kefas Kaipera, Rabu (29/7)(Foto: Kalvin Benu)

ALOR TIMUR,www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) resmi memandirikan Jemaat GMIT Kefas Kaipera, Klasis Alor Timur pada Rabu (29/7/2026). Momen bersejarah ini dirangkai dengan perayaan Syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Jemaat Kefas Kaipera yang telah berdiri sejak 11 Juli 1958, sekaligus perhadapan Pdt. Noni Monit Bistolen sebagai pelayan yang baru.

Perjalanan iman Jemaat Kefas Kaipera yang bermakna “Batu Karang” ini tidak lepas dari sejarah panjang yang penuh tantangan sejak di Kampung Agalamang. Jemaat ini tercatat pernah mengalami enam kali perpindahan tempat ibadah serta berbagai bencana, mulai dari kebakaran gedung gereja darurat hingga musibah gempa bumi di Kulami I pada 2004 dan Kulami II pada 2015. Meski demikian, jemaat terus bangkit melalui dedikasi 24 hamba Tuhan, baik pendeta, guru jemaat, maupun vikaris yang pernah melayani.

Proses pemisahan administratif dari Jemaat Pasangsona resmi dimulai pada 15 April 2026 hingga akhirnya dinyatakan mandiri. Saat ini, Jemaat GMIT Kefas Kaipera menaungi 487 anggota jemaat dari 110 Kepala Keluarga (KK), dibantu oleh 23 Majelis Jemaat, serta didukung fasilitas satu unit gedung kebaktian dan satu unit pastori.

Pemandirian Jemaat Kefas Kaipera dari Jemaat Bermata Jemaat Pasangsona ditandai dengan pembukaan selubung papan nama gereja, dan penandatanganan prasasti oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie. Rangkaian acara turut diwarnai dengan tarian penyambutan, tradisi Lego-Lego bersama, ibadah syukur, pemotongan tumpeng, serta penanaman anakan pohon di lingkungan gereja oleh Ketua Sinode GMIT dan para tamu undangan.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B Pandie menandatangani prasasti pemandirian Gereja Kefas Kaipera (Foto: Kalvin Benu)

Ibadah syukur dipimpin oleh Pdt. Sofia Kause sebagai liturgos dan Pdt. Semuel B. Pandie selaku pengkhotbah. Berdasarkan Mazmur 126:1-5, Pdt. Semuel menegaskan bahwa kebaikan sejati (tov) bukanlah tentang mencari kebanggaan diri atau balasan, melainkan sebuah komitmen hati yang takut akan Tuhan dalam kondisi apa pun. Meskipun tidak ada manusia atau bahkan murid Yesus yang sempurna dari kesalahan, orang yang sungguh-sungguh baik akan tetap menjaga hatinya dari kejahatan.

“Keberlangsungan gereja serta pengabdian yang berdampak panjang tidak ditentukan oleh kepintaran, jabatan, atau kekayaan, melainkan oleh rantai kebaikan dan jemaat yang memiliki rasa takut akan Tuhan,” ujar Pdt. Semuel.

Sementara itu, Pdt. Dewi Santi Gerimu selaku Ketua Majelis Jemaat yang lama mengungkapkan rasa terima kasih mendalam atas terlaksananya momen pemandirian dan perhadapkan ini. Menurutnya, kehadiran pimpinan sinode di Alor Timur menepis anggapan bahwa pelayanan pimpinan gereja hanya terpusat di kawasan perkotaan. Ia juga mengapresiasi panitia, pemerintah setempat, serta seluruh jemaat yang menopang pelayanan sejak 12 Desember 2022 hingga 29 Juli 2026, – serta berpesan agar jemaat setia dalam pelayanan dan saling menjaga persekutuan.

Serah terima jabatan dari Pdt. Dewi S. Gerimu kepada Pdt. Noni M. Bistolen. (Foto: Kalvin Benu)

Pada kesempatan yang sama, Pdt. Noni Monit Bistolen menyampaikan komitmennya untuk menggembalakan jemaat yang baru dimandirikan tersebut.

“Terima kasih kepada Majelis Sinode GMIT yang telah menempatkan saya di Klasis Alor Timur. Mari kita saling mendukung dan bergandengan tangan memulai langkah baru ini untuk melayani serta memuliakan Tuhan bersama-sama,” tutur Pdt. Noni.

Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Klasis (KMK) Alor Timur, KMK Alor Barat Laut, KMK Pantar Barat, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Alor, Camat Alor Timur, para Kepala Desa se-Kecamatan Alor Timur, Kapolsek Alor Timur, serta para pendeta dan jemaat setempat.*