
Kupang, www.sinodegmit.or.id, Duka mendalam menyelimuti Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Salah satu pelayannya, Pdt. Emanuel Mbui, S.Th, meninggal dunia di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang pada Jumat (11/9/2026) akibat sakit. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada usia 43 tahun 7 bulan, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Jenazah Pdt. Emanuel Mbui dikuburkan pada Senin (14/9/2026). Kebaktian penguburan berlangsung di Gereja Emaus Liliba, Klasis Kota Kupang Timur. Ibadah tersebut dipimpin oleh Pdt. Monna Detaq, selaku liturgos dan Pdt. Tonias Nalle, selaku pengkhotbah. Acara penguburan dihadiri oleh pimpinan klasis, sesama pendeta GMIT, BPP Sinode dan UPP Majelis Sinode GMIT, perwakilan jemaat tempat almarhum pernah bertugas, serta keluarga besar.
Dalam suara gembalanya, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi mengenang almarhum yang akrab disapa Pendeta Iman sebagai sosok hangat yang selalu membawa keceriaan dan senyuman di tengah pelayanan. Di balik duka yang mendalam, Pdt. Lay Abdi menekankan bahwa peristiwa ini menjadi bahan refleksi dan evaluasi penting bagi para pelayan gereja terkait perawatan kesehatan fisik maupun mental.
“Pendeta bukanlah superhero—mereka juga manusia biasa yang bisa lelah, sakit, dan terluka. Oleh karena itu, penting bagi setiap pendeta untuk jujur terhadap kondisi fisik maupun mental mereka, merawat tubuh, serta terbuka kepada keluarga dan jemaat,” ujar Pdt. Lay.
Selain itu, Pdt. Lay menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan, khususnya sang istri, Pdt. Nevis A. Menad Rihi Tugu, beserta ketiga anak mereka: Zefano Ebenhaezer Mbui, Zifana Welhemina Mbui, dan Zaneta Ariesta Mbui. Mengutip konsep Theology of Grief, ia menjelaskan bahwa kedukaan dalam iman Kristen memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yaitu lament (ratapan) dan hope (harapan).
“Ratapan memberi ruang yang sah untuk mengekspresikan kesedihan dan air mata tanpa perlu menganggapnya sebagai bentuk kegagalan iman. Di sisi lain, harapan dalam Kristus mencegah ratapan tersebut berubah menjadi keputusasaan,” tambahnya.

Pdt. Emanuel Mbui lahir di Atambua pada 17 Januari 1983. Setelah menyelesaikan pendidikan teologi di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang pada tahun 2008, ia ditahbiskan menjadi Pendeta GMIT pada tahun 2012. Awal pelayanannya dimulai di Jemaat Mesara Barat Laut, Klasis Sabu Barat (2012–2023). Ia kemudian dimutasi ke Jemaat Ebenhaezer Lederaba, Klasis Sabu Barat Raijua (2023–2024). Terakhir, Majelis Sinode GMIT menempatkannya di Jemaat Bermata Kaneknutu, Klasis Amarasi Barat sejak 21 Agustus 2024 hingga akhir hayatnya.
Secara keseluruhan, almarhum mengabdikan dirinya dalam pelayanan GMIT selama 15 tahun 1 bulan. *











