//Pendeta Emeritus Imanuel Snae Tutup Usia, GMIT Kenang Pelayanan 33 Tahun

Pendeta Emeritus Imanuel Snae Tutup Usia, GMIT Kenang Pelayanan 33 Tahun

Soe, www.sinodegmit.or.id, — Keluarga besar Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berduka atas meninggalnya Pendeta Emeritus Imanuel Snae, S.Th. Mendiang mengembuskan napas terakhir pada Rabu (26/6/2026) karena sakit. Jenazah dikuburkan pada Jumat (28/8/2026) di rumah duka Nonohonis, Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Rangkaian prosesi penguburan diawali dengan Ibadah Pelepasan di rumah duka yang dipimpin oleh Ketua Majelis Klasis Mollo Barat, Pdt. Yan Yun Obed Octovianus Leimany. Kebaktian penguburan dilanjutkan di Jemaat Ebenhaezer Oefau, Mollo Barat, dengan Pdt. Frenny Bessie, bertindak sebagai liturgos dan Pdt. Emr. Benjamin Nara Lulu sebagai pengkhotbah.

Lahir di Oefau pada 6 Februari 1963, Mendiang Pdt. Emr. Imanuel Snae menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Theologia Universitas Artha Wacana Kupang pada 1989. Ia resmi ditahbiskan menjadi Pendeta GMIT pada 31 Oktober 1990 dan memulai masa pengabdian panjangnya di GMIT.

Selama 33 tahun 2 bulan masa kerja, Mendiang melayani di pelbagai wilayah. Pengabdian diawali sebagai Ketua Majelis Jemaat di Jemaat Wilayah Tobin, Klasis Amanatun Utara (1990–1995). Selanjutnya, ia bertugas di Jemaat Wilayah Ngada Bajawa, Klasis Flores (1994–1996), sebelum berpindah ke Klasis Mollo Utara.

Di Mollo Utara, ia dipercayakan menjabat berbagai posisi strategis, antara lain Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Mollo Utara (1996–2001), Koordinator Pelayanan Wilayah Klasis (KPWK) Mollo Utara (2001–2004 dan 2005–2009), serta pelayanan di Jemaat Wilayah Bijaepunu (2005–2010). Ia juga dipercaya sebagai Ketua Majelis Klasis (KMK) Mollo Utara (2011–2015 dan 2015–2019).

Pdt. Emr. Imanuel Snae mengakhiri kepemimpinannya di Klasis tersebut pada 7 Januari 2020. Selanjutnya, pada 6 Februari 2023, ia resmi diberhentikan dengan hormat sebagai karyawan GMIT penuh waktu karena memasuki masa pensiun.

Dalam kehidupannya, mendiang menikah dengan Mashira Priskila Nenohaifeto. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai enam orang anak: Nino Monit Snae, Naomat Piut Snae, Mutisman Mepu Snae, S.Th., Haitotis Homanek Snae, Hosalit Lonamas Snae, dan Sofiana Mone.

Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi dalam suara gembalanya, ia mengenang almarhum sebagai sosok pelayanan yang kontekstual dan autentik.

“Mendiang dikenang sebagai sosok yang autentik dan kontekstual dalam pelayanan gereja, mampu merangkul jemaat tanpa membawa konsep yang asing, sehingga diterima dan dicintai di berbagai daerah pelayanannya. Perjalanan pelayanannya yang panjang dan berdedikasi menjadi bukti keteguhan dan integritas pribadinya,” ujar Pdt. Lay Abdi K. Wenyi.

Pdt. Lay menambahkan bahwa rekam jejak almarhum tidak hanya berdampak pada struktur organisasi gereja, melainkan juga pada keluarga dan murid-murid yang dibimbingnya. Menurutnya, mendiang mengajarkan hakikat hidup yang sejati dengan berpegang teguh pada Alkitab.

“Kematian bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan momen refleksi eksistensial tempat segala jabatan, harta, dan prestasi duniawi kehilangan kuasanya. Mendiang dinilai telah menemukan hakikat hidup yang sejati karena tidak hidup untuk dirinya sendiri (man for himself), melainkan hidup untuk memberi dampak bagi sesama (man for the other men),” tutur Pdt. Lay.

Ia juga menguatkan keluarga agar duka dan air mata dimaknai sebagai wujud kasih, serta melanjutkan semangat dan mimpi mendiang yang telah tenang bersama Bapa di sorga. *