//Merdeka dari Jerat Kecerobohan (Amsal 6:1-11) – Ongki Rivaldo Adu, S. Th

Merdeka dari Jerat Kecerobohan (Amsal 6:1-11) – Ongki Rivaldo Adu, S. Th

PENGANTAR

Terkadang kita seringkali mulut menyakiti hati orang lain sementara keadaan mereka sedang tidak baik-baik. Mulut mengeluarkan kata-kata yang baik, yang positif, yang membangun, bukan malah menjadi ceroboh untuk membinasakan orang lain. Bagian itu terlihat dari janji-janji kita terhadap orang lain, kadang kita bilang janji dulu baru atur waktu. Kita belum liat jadwal mana yang kosong, tapi mulai janji akhirnya bagian itu tidak tercover. Setidaknya tangan sonde sampai nah, mulut jangan sakiti. Negara akhir-akhir ini hadir dengan berbagai macam persoalan Amsal 6:1-11 memuat rangkaian nasihat/hikmat yang sangat praktis. Berbeda dengan bagian sebelumnya, perikop ini tidak secara eksplisit menafsirkan hikmat secara teologis, melainkan langsung menyentuh realitas hidup sehari-hari. Pengajarannya pun beragam: peringatan agar berhati-hati menjadi penanggung bagi sesama (ay. 1-5) dan nasihat keras terhadap kemalasan (ay. 6-11 Keseluruhan nasihat ini mencerminkan dunia pendidikan hikmat pada masa Kerajaan, yang bertujuan membentuk sikap hidup murid secara konkret.

Hikmat mengajarkan kita untuk berhati-hati atau selalu mawas diri dalam menjalani kehidupan. Kasih terhadap sesama tidak boleh menutupi pertimbangan akal sehat mengenai konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi dalam pengambilan keputusan.

Penjelasan Teks

Bacaan ahri ini memberikan kita dua penjelasan yang kuat. Pertama, seperti pengajaran lainnya, pengajaran tentang menjadi penanggung ini diawali dengan sapaan” hai anakku”. Tampaknya kondisi menjadi seorang penanggung bagi sesama bagian ini menjelaskan bahwa Amsal 6:1–5 merupakan peringatan agar seseorang berhati-hati ketika menjadi penanggung atau penjamin utang orang lain. Nasihat dimulai dengan sapaan “hai anakku”, kemudian menggambarkan kondisi ketika seseorang menjamin orang lain melalui suatu persetujuan. Maka bagian itu meiliki keukatan hukum yang sangat kuat. Sehingga seseorang yang telah mengikat dirinya dengan janji dan sumpah dengan orang lain, akan menanggung segala akibat. Pengamsal menekankan bahwa menjadi penanggung dapat membawa seseorang kepada masalah dan beban keuangan yang serius.

Kondisi yang mengikat itu Adalah janji-janji formal yang telah ia ucapkan sesuai dengan kewajiban dan tuntutan bagi seorang penanggung. Janji-janji itu menjadi jerat yang akan mencelakakan, sebab harus dipenuhi bila sesama yang dijamin itu tidak memenuhi kewajibannya. Bila yang meminjam tidak membayar utang tersebut dalam bentuk uang atau perbudakan.

Jangan memberikan jaminan secara sembarangan, karena setiap janji membawa tanggung jawab dan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan

Karena itu, di ayat 3–5 orang tersebut diperintahkan untuk segera melepaskan diri dari tanggungan tersebut, bertindak dengan sungguh-sungguh, dan tidak menunda-nunda. Bila hari ini kita terjebak pada bagian itu maka, Amsal mengajarkan bahwa harus melepaskan diri dari jebakkan itu. Jangan Lelah memohon tanpa harus malu, karena harga diri, atau gengsi dengan kedudukan jabatan yang dimiliki, jangan merasa malu dengan sesuatu hal yang tidak membangun. Menolong sesama adalah hal yang baik, tetapi harus dilakukan dengan bijaksana.

Kedua, Peringatan tentang kemalasan

Pemalas dapat kategorikan sebagai ornag yang suka tidur berlebihan (ay.9 dan 10. Dalam sudut pandang Amsal, tidur sebagai bentuk pemuliahn bagi tubuh bukan sesuatu yang dilarang. Namun tidur yang menjadi alasan untuk menunda pekerjaan. Sebab dampak dari menunda-nunda pekerjaan dengan tidur memang memberi kenyamanan namun dapat berkahir dengan kemiskinan dan kekurangan (Ay. 11) oleh sebab itu, Bagian ini memberi perintah yang berisi dorongan untuk meneladani kerajinan semut. Dorongan ini dilengkapi dengan peringatan agar tidak masuk ke dalam kemiskinan. Ayat 6-11 pengajaran yang disampaikan melalui keteladanan semut, karena semut sangatlah rajin dan disiplin. Orang yang malas harus melihat sikap dan tingkah laku semut lalu belajar dari semut. Sehubungan dengan keteladanan semut, di daerah Timor Tengah Kuno penggunaan Binatang atau tumbuhan sebagai perumpamaan amatlah umum. Khususnya sastra hikmat Timur Tengah Kuno kebanyakan ditemui anjuran untuk mempelajari sikap dan tingkah laku semut atau binatang lainnya sebagai teladan bagi manusia. Pengangkatan tingkah laku semut dalam hal kerajinan dan disiplin pada prikop ini lebih bersifat pengajaran langsung dari pada perumpamaan.

Sikap dan tingkah laku semut yang perlu diobservasi serta diteladani. Ungkapan melalui ayt 7-8: Biarpun tidak ada pemimpinnya, penagtur atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, ia mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

Pesan firman: Pertama: Jangan terburu-buru untuk berjanji. Menjadi penanggung hutang orang lain bukaan sebagai niat jahat untuk menjatuhkan orang lain. Namun Ketika itu menjadi jerat bagi si penunggang maka diperlukan Upaya cepat untuk mebebaskan diri. Pesan kuat ialah jangan asal bunyi, karena bisa masuk lobang. Kedua, bebaskan diri dari kemalasan. Ornag yang malas bukan tidak melakukan apa-apa tetapi gagal mempergunakan kesempatan yang Tuhan Anugerahkan kepadanya. Karena itu apa yang dilakukan oleh semut memberti Pelajaran yang bernilai kepada manusia untuk bekerja keras. Tidak ada manusia yang duduk santai kemudian tiba-tiba makanan dimulut, semua dimulai dengan kerja keras yang baik. Ada satu kalimat bilang Kerja na dadi a babu, te hu Mua boe na dadi a Mane. Artinya kerja sama ke pembantu, makan sama ke raja.

Aplikasi

  1. Jaga mulut. Orang bbilang lidah tak bertulang, namun berbahaya. Ini bisa bawa kita pada jurang. Mulut yang suka berjanji akan membuat kita terjebak. Pada seuatu yang bukan tanggung jawab kita.
  2. Kebiasaan kecil yang perlu dihindari. Seringkali kita berpikir masih ada waku jang buru-buru. Kebiasaan tidur-tidur, bisa menjadi kecerobohan jika tidak diperbaiki sejak dini. Orang yang bijaksana harus menanggaalkn kemalasan yang akan membawa seseorang kepada malapetaka kemiskinan. Bersedia meneladani semut dalam hal kerajinan, keteraturan, dan disiplinnya.

TUHAN MEMBERKATI. Shalom!!!