//TINGGAL DALAM KRISTUS, BERBUAH SEPANJANG HIDUP (YOHANES 15:1-8) –  PDT. MELKY JONI ULU

TINGGAL DALAM KRISTUS, BERBUAH SEPANJANG HIDUP (YOHANES 15:1-8) –  PDT. MELKY JONI ULU

A. Pengantar Umum tentang Injil Yohanes

    Injil Yohanes menuliskan perjalanan kehidupan Yesus sejak awal sampai kepada peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya, seperti halnya Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas). Namun, Injil Yohanes memiliki perbedaan yang khas dan unik, karena menuliskan hal-hal mengenai pelayanan Yesus di sekitar Yudea dan Yerusalem; yang tidak terdapat dalam Injil lainnya. Injil Yohanes juga mengungkapkan secara lebih jelas mengenai kepribadian Yesus, menggambarkan Yesus sebagai Mesias Yang Diutus, menyajikan-Nya sebagai figur yang mulia, berwibawa, Mahatahu, dan dapat melakukan segala sesuatu.

    Konteks agama, pada saat Injil ini ditulis sangat penting untuk dipahami, karena Injil Yohanes mencerminkan ketegangan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Banyak perdebatan teologis mengenai siapa Yesus yang sebenarnya, yang tercermin dalam diskursus mengenai “Mesias” dan “Anak Allah” dalam Injil ini. Pada saat itu, “Bait Suci” masih menjadi pusat kehidupan keagamaan orang Yahudi sampai kehancurannya pada tahun 70 Masehi, dan Hukum Taurat masih dianggap sebagai dasar moral dan agama.

    Injil Yohanes ditulis di Kota Efesus, sekitar tahun 85-95 Masehi. Menurut tradisi yang berkembang dan diterima secara umum bahwa penulis Injil Yohanes adalah Yohanes anak Zebedeus; salah satu dari murid Yesus. Maksud penulisan Injil Yohanes diungkapkan dalam Yohanes 20:31, bahwa “Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”.

    Terdapat dua pandangan mengenai alamat/pembaca Injil Yohanes, yaitu orang Yahudi dan non-Yahudi. Pandangan pertama, menyatakan bahwa Injil Yohanes ditujukan untuk sekelompok orang beriman yang berbahasa Yunani di luar Palestina, tetapi mereka adalah orang Yahudi. Sedangkan pandangan kedua, berpendapat bahwa Injil ini ditujukan kepada orang non-Yahudi, karena di dalamnya terdapat penjelasan berbagai istilah dan adat-istiadat Yahudi.

    B. Pemahaman Teks Yohanes 15:1-8

    Setelah menelusuri secara umum Injil Yohanes, maka bagian ini secara khusus akan mendalami teks Yohanes 15:1-8. Teks ini dinarasikan (diceritakan) dalam bentuk perumpamaan. Perumpamaan merupakan salah satu cara pendekatan yang mendapat perhatian dalam pengajaran Yesus. Perumpamaan sering muncul dalam dua bentuk, yaitu kiasan dan metafora, Setiap perumpamaan memiliki makna yang sangat mendalam, bukan sekedar sebagai pelengkap ilustrasi pengajaran Yesus, atau sekedar agar para pendengar-Nya gampang mengerti apa yang dikatakan-Nya, melainkan terdapat maksud yang lebih penting. Penggunaan perumpamaan memiliki tujuan; bukan sekedar untuk memperjelas suatu maksud dari apa yang dikatakan. Perumpamaan sebagai bentuk pengajaran Yesus yang penting untuk dipahami, menarik untuk dikaji dan perlu untuk dihidupi. Melalui perumpamaan narasi kehidupan dikomunikasikan secara efektif dan kreatif untuk menyampaikan pesan spiritual dan keselamatan. Melalui perumpamaan, Yesus menyatakan siapa diri-Nya secara ontologis, dan karya-Nya secara fungsional. Artinya, memahami perumpamaan berarti memahami Yesus secara utuh.

                Pentingnya memahami perumpamaan Yesus sebagai salah satu kunci pembuka untuk masuk ke ruang kristologi, di mana kita mengenal hidup dan karya-Nya secara utuh bukan secara parsial. Perlu dikaji, karena seperempat dari keseluruhan Injil Yohanes adalah perumpamaan. Perumpamaan memiliki makna perbandingan yang relevan digunakan dalam konteks kini. Perlu dihidupi, karena perumpamaan digunakan Yesus berdasarkan esensi kehidupan yang bukan hanya untuk kita mengerti, tetapi untuk kita hidup di dalamnya. Perumpamaan memiliki karakter yang memberi pesan bagaimana menjalani kehidupan.

                Perumpamaan yang disampaikan Yesus tidak bersumber dari dongeng atau cerita-cerita rakyat, tetapi dari kehidupan nyata yang dapat ditemui setiap hari melalui pengamatan-Nya secara langsung selama hidup-Nya di tanah Galilea. Hal ini terbukti dalam teks Yohanes 15:1-8. Pada teks ini, Yesus menjelaskan tentang “Siapa Diri-Nya”. Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar”, dan murid-murid-Nya (para pengikut-Nya) sebagai ranting-ranting pohon anggur. Hal ini berkaitan dengan istilah “kebun anggur” yang sangat akrab dengan kehidupan keseharian orang Yahudi (atau bangsa Israel) pada saat itu. Dalam kehidupan peribadahan keagamaan mereka, istilah “kebuh anggur” juga sangat akrab di pendengaran mereka; sebab berulang kali muncul dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel dianggap sebagai kebun anggur (Mzm. 80:8-16; Yes. 5:1-7; Yer. 2:21; Yeh. 19:10; Hos. 10:1). Bangsa Israel seringkali gagal menghasilkan buah oleh karena ketidaktaatan mereka kepada Allah sebagai pemilik (pokok) dari kebun anggur. Jadi, perkataan Yesus yang menggambarkan diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar” merupakan anti-thesis atau suatu pertentangan dari bangsa Israel yang oleh karena ketidaktaatan mereka telah menjadi kebun anggur yang menghasilkan “buah yang asam” (Yes. 5:4) dan berbau busuk (Yer. 2:21). Sehingga ketika Yesus berbicara tentang “Akulah pokok anggur yang benar dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 1), maka penggunaan istilah ini tidaklah asing di pendengaran mereka.

                Hubungan antara pokok anggur (Yesus) dan ranting-rantingnya (murid/para pengikut-Nya) adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Kalau para murid/pengikut-Nya (ranting-ranting) terpisah dari Yesus (pokok anggur), maka ranting-ranting itu tidak dapat menghasilkan buah. Ranting yang tidak menghasilkan buah dipotong (ayat 2), dibuang keluar dan dicampakkan ke dalam api (ayat 6). Sementara ranting yang menghasilkan buah akan dibersihkan supaya lebih banyak berbuah (ayat 2). Jadi, jalan untuk dapat menghasilkan buah yang baik adalah ranting-ranting itu harus tetap “melekat langsung” dengan sumber kehidupan (pokok anggur yang benar), yaitu Yesus. Itulah maksud dari perkataan Yesus “tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu (ayat 4-5). Ketika para murid/para pengikut-Nya tinggal di dalam Yesus, dan menjalani hidup di dalam firman-Nya (ayat 7), maka hal itu tidak hanya menjadi kemuliaan bagi Allah, tetapi juga menjadi kesaksian bahwa mereka adalah murid Yesus (ayat 8).

    C. Bahan Perenungan

    Dari teks Yohanes 15:1-8, terdapat beberapa bahan perenungan yang dapat dijadikan sebagai aplikasi/relevansi, yaitu:

    (1). Yesus menyebut diri-Nya pokok anggur yang benar, dan kita sebagai murid/pengikut-Nya  diibaratkan dengan ranting. Di antara ranting yang melekat pada pokok anggur itu ada yang tidak berbuah, lalu dipotong, bahkan dibuang dan dibakar. Hal ini berarti bahwa yang penting bukan hanya sekedar menjadi ranting, bukan sekedar menjadi orang Kristen secara formal, melainkan harus berbuah. Ranting yang berbuah justru dirawat dan dibersihkan, supaya lebih banyak lagi berbuah. Jadi, yang disebut sebagai ranting yang bersih dan berbuah adalah mereka yang tetap setia mengikut Yesus dan melakukan Firman-Nya; apapun cobaan/godaan yang datang, baik berupa ancaman/bahaya ataupun tawaran yang tampaknya memikat.

    (2). Hidup kita di dunia ini mempunyai fungsi yaitu untuk berbuah. Ranting harus berbuah. Jenis buah yang dikehendaki oleh Yesus untuk dihasilkan murid/pengikut-Nya adalah mengasihi Allah, sesama manusia dan alam semesta. Hidup yang menghasilkan buah adalah hidup yang mempermuliakan Allah. Semakin banyak buah yang kita hasilkan menunjukkan kesungguhan kita sebagai murid dan pengikut-Nya.

    (3). Tinggal di dalam Yesus bukan hanya sekedar slogan, tetapi harus benar-benar menjadi budaya hidup kita. Kita percaya dan menyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kepala Gereja. Pengakuan ini merupakan penegasan bahwa kita tinggal di dalam Yesus dalam mewujudnyatakan panca pelayanan (koinonia/persekutuan, marturia/kesaksian, diakonia/pelayanan kasih, liturgia/ibadah, dan oikonomia/penatalayanan). Panca pelayanan ini hanya dapat menghasilkan buah, jika kita tinggal di dalam Yesus; karena di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa.

    D. Penutup

    Seberapa dalam kita mengenal Yesus, sang pokok anggur yang benar itu? Apakah kita sudah berbuah dan berdampak? Semakin mengenal berarti semakin melekat. Semakin melekat berarti persekutuan dengan Yesus semakin kuat. Kerinduan dan kesetiaan untuk tinggal dalam Yesus inilah yang akan membuat kehidupan para murid (para pengikut-Nya) untuk semakin berbuah dan berdampak sepanjang hidup.

                Syair lagu Kidung Jemaat No. 356 ayat 1 dan 2 “Tinggallah dalam Yesus”, memberi pesan menarik bagi para murid/para pengikut-Nya yang tinggal di dalam Yesus sebagai pokok anggur yang benar adalah ranting yang pasti akan berbuah.

    Ayat 1:

    Tinggallah dalam Yesus, jadilah murid-Nya. B’lajarlah Firman Tuhan, taat kepada-Nya. Tinggallah dalam Yesus, andalkan kuasa-Nya. Dialah pokok yang benar, kitalah ranting-Nya.

    Ayat 2:

    Kita sebagai ranting pasti berbuahlah, asal dengan setia tinggal di dalam-Nya. Tinggallah dalam Yesus, muliakan nama-Nya: hidup berlimpah kurnia hanya di dalam-Nya.