//Penamatan Akbar Skol Bife di TTS, 713 Perempuan Desa Siap Bawa Perubahan

Penamatan Akbar Skol Bife di TTS, 713 Perempuan Desa Siap Bawa Perubahan

Foto: Neti Benu

Niki-niki-TTS, www.sinodegmit.or.id, Sebanyak 713 peserta dari 27 kelompok Sekolah Perempuan (Skol Bife) se-Klasis Amanuban Tengah Utara (ATU) resmi mengikuti penamatan akbar yang dipusatkan di Gereja Jemaat GMIT Sonhalan Niki-Niki, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT). Rangkaian kegiatan yang berlangsung meriah pada Senin hingga Selasa (14–15 September 2026) ini menjadi salah satu penamatan terbesar di tingkat kabupaten dengan kelulusan ratusan peserta.

Mengusung tema “Perempuan Berdaya, Keluarga Sejahtera, Indonesia Jaya”, agenda tahunan kerja sama Klasis ATU dan Pemerintah Kabupaten TTS ini menjadi momentum penting bagi kaum perempuan desa. Program Skol Bife terbukti berhasil meningkatkan kapasitas, kemandirian ekonomi, serta keberanian perempuan dalam menyuarakan hak-hak mereka sekaligus mencegah isu domestik seperti kekerasan dan pernikahan anak.

Momen penting ini dihadiri oleh Anggota Majelis Sinode GMIT Bidang Politik sekaligus Ketua DPRD Provinsi NTT, Ir. Emelia Julia Nomleni. Turut hadir Sekda Kabupaten TTS Drs. Seperius E. Sipa, M.Si., Ketua Majelis Klasis ATU Pdt. Seprianus Adonis, para pendeta GMIT, Kasdim 1621/TTS Kapten Cpl Lalu Muhammad Ridwan, Kepala Dinas P3A, jajaran camat, serta perwakilan NGO pendamping seperti Land4Lives (CIFOR-ICRAF).

Dalam suara gembalanya, Emelia Nomleni menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Majelis Klasis Amanuban Tengah Utara atas konsistensi penyelenggaraan Skol Bife.

“Sekolah Perempuan atau Skol Bife bisa menjadi contoh bagaimana membangun sebuah spirit teologis dengan sebuah tekad untuk berbagi dengan perempuan-perempuan hebat yang ada,” ujar Emelia.

Ia menekankan bahwa proses belajar selama hampir dua tahun yang dijalani peserta bukan sekadar teori, melainkan wadah pertukaran praktik baik antar-lingkungan.

“Bagi semua perempuan hebat yang ada, hari ini mesti menjadi momentum awal untuk kembali pada kehidupan nyata di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. Keberanian, pengalaman, pengetahuan, serta relasi yang diperoleh harus menjadi bekal untuk menata kehidupan keluarga, rumah tangga, dan masa depan anak-anak,” tambahnya.

Rangkaian acara diawali pada hari pertama melalui pameran produk lokal serta workshop sebagai ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran. Pameran tersebut menampilkan beragam bahan makanan lokal dan karya tangan hasil olahan jemaat serta desa setempat.*