//MENULIS DALAM KEMARAHAN: DATA IMAJINASI DAN STUNTING IDENTITAS

MENULIS DALAM KEMARAHAN: DATA IMAJINASI DAN STUNTING IDENTITAS

Redaksi Kominfo Sinode GMIT

Gambar ilustrasi penggunaan media sosial sebagai sarana untuk mengkritik pelayanan publik. sumber foto: persfe.com

Pengantar Redaksi: Pdt. Kolsinus K. Benu- Sekbid UPP Kominfo Sinode GMIT

Tulisan opini berikut ini kami publikasikan di tengah maraknya postingan negatif dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tentang pelayanan Sinode GMIT di media sosial. Redaksi Kominfo Sinode GMIT memandang penting untuk menghadirkan gagasan ini secara utuh sebagai bahan refleksi, agar jemaat dapat melihat persoalan secara jernih dan tetap fokus pada panggilan kita bersama untuk saling membangun dalam kasih.

Tulisan ini membahas tentang bagaimana rasa marah, luka hati, dan kekecewaan sering kali disamarkan melalui penggunaan angka atau data palsu di ruang publik, yang disebut sebagai data imajinasi. Fenomena ini terjadi karena banyak orang tidak sedang mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas kemarahan atau rasa sakit mereka sendiri—sebuah kondisi psikologis di mana luka masa lalu berubah menjadi cara pandang negatif dalam melihat dunia. Akibatnya, kritik yang disampaikan sering kali berubah menjadi fitnah atau kebisingan kosong yang tidak didasari oleh fakta yang benar, yang oleh penulis disebut sebagai “stunting pengetahuan” dan “stunting identitas”. Sebagai jalan keluar, tulisan ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati dan kritik yang sehat seharusnya bertujuan untuk menyembuhkan, bukan untuk memperkeruh keadaan. Mencontoh teladan Kristus yang membawa luka tanpa racun dendam, manusia diajak untuk berani merawat luka batin dengan jujur agar pena dan tulisan yang dibagikan dapat menjadi sarana penyembuhan bagi sesama, alih-alih menjadi alat untuk menyebarkan luka baru. Selamat membaca. !!

Menulis Dalam Kemarahan: Data Imajinasi Dan Stunting Identitas

Kebenaran selalu menjadi kegelisahan tertua manusia. Filsafat lahir antara lain karena manusia tidak puas dengan apa yang tampak. Ia bertanya: apakah yang saya lihat sungguh benar? Apakah yang saya pikirkan sesuai dengan kenyataan? Apakah akal saya sedang mencari kebenaran, atau hanya sedang mencari alasan untuk membenarkan sesuatu yang sejak awal ingin saya percayai?

Dalam tradisi filsafat, kebenaran tidak cukup hanya terasa benar. Ia harus dapat dipertanggungjawabkan. Akal menguji, pengalaman memberi konteks, dan hati nurani menjaga agar pengetahuan tidak berubah menjadi senjata. Karena itu, kebenaran bukan sesuatu yang abstrak yang ada dalam pikiran dan perasaan, tetapi termanifestasi dalam ucapan dan tindakan nyata.

Angka sebagai Kostum

Problem zaman digital muncul ketika manusia menemukan kostum baru bagi kebohongan: angka. Angka mempunyai aura objektivitas. Kalimat “banyak orang mengeluh” masih dapat diperdebatkan. Tetapi begitu seseorang menulis “70 persen mengeluh”, pembaca tiba-tiba merasa sedang berhadapan dengan data hasil penelitian. Persentase memberikan kesan ilmiah, walaupun kita tidak pernah diberi tahu siapa respondennya, berapa sampelnya, bagaimana pertanyaannya, dari mana datanya, kapan pengumpulan datanya, dan metode apa yang digunakan. Di titik itu lahirlah sesuatu yang saya sebut data imajinasi: angka yang tidak dilahirkan penelitian, tetapi dilahirkan kemarahan.

Yuval Noah Harari pernah membicarakan munculnya Dataism, sebuah kecenderungan modern yang menempatkan data dalam posisi nyaris seperti otoritas tertinggi. Dalam dunia yang semakin memuja data, paradoksnya justru semakin berbahaya: kebohongan pun belajar memakai bahasa data. Maka pada zaman ini, hoaks tidak selalu datang dengan wajah bodoh. Kadang-kadang ia datang dengan grafik, persentase, tabel, dan kalimat yang terdengar akademis. Angka tanpa sumber bukan data. Ia hanyalah imajinasi yang mengenakan jas statistik.

Tetapi memeriksa angka saja belum cukup. Kita dapat membongkar satu persentase palsu hari ini, dan besok akan lahir sepuluh yang baru. Pertanyaan yang lebih filosofis bukan hanya “benarkah angka itu?”, melainkan “batin macam apa yang membutuhkan angka itu?” Di sini epistemologi harus turun satu lantai: dari ruang data ke ruang jiwa.

Ressentiment: Ketika Luka Mulai Berfilsafat

Di sinilah kita berhadapan dengan sejenis “filsafat” baru, tentu bukan filsafat dalam pengertian akademis, yang dapat disebut filsafat hoaks: pertama-tama membangun kesimpulan, kemudian mencari cerita yang cocok untuk menopangnya; menciptakan angka untuk memberikan kesan ilmiah; dan setelah itu meminta publik menerima kemarahan sebagai kebenaran.

Filsafat modern sebenarnya sudah lama memberi nama pada gejala ini: ressentiment. Friedrich Nietzsche memperkenalkannya dalam Zur Genealogie der Moral (1887), dan Max Scheler, fenomenolog Jerman, mempertajamnya dalam Das Ressentiment im Aufbau der Moralen (1912/1915). Kata Prancis itu sengaja tidak diterjemahkan, sebab ia lebih dari sekadar dendam. Re-sentiment berarti merasakan kembali: sebuah reaksi emosional yang tidak pernah selesai, yang dikunyah ulang terus-menerus sampai ia terlepas dari peristiwa asalnya dan menetap sebagai watak.

Scheler merumuskannya dengan kalimat yang nyaris klinis: ressentiment adalah peracunan diri jiwa (seelische Selbstvergiftung). Ia lahir ketika dorongan membalas, iri, dan benci tidak dapat diungkapkan secara terbuka karena seseorang merasa tidak berdaya, lalu ditekan, lalu mengendap. Yang paling penting bagi kita adalah akibatnya: endapan itu, kata Scheler, melahirkan kecenderungan yang menetap kepada delusi nilai dan kepada penilaian yang mengikutinya. Contoh klasiknya ialah rubah dalam fabel lama. Karena tidak sanggup meraih anggur, ia memutuskan bahwa anggur itu asam. Rubah tidak merasa berbohong. Ia hanya telah menemukan cara agar ketidakberdayaannya tidak lagi terasa sakit.

Di titik inilah Scheler memberi kita konsep yang, menurut saya, paling tajam untuk membaca data imajinasi: kedustaan organik (organische Verlogenheit). Di balik semua dusta yang disengaja, tulisnya, ada dusta yang lebih dalam, yaitu pemalsuan yang tidak dibentuk di dalam kesadaran, melainkan sudah terjadi dalam perjalanan pengalaman menuju kesadaran. Pembohong biasa masih mengenal kebenaran; ia hanya menyembunyikannya. Orang yang dikuasai ressentiment tidak perlu lagi berbohong, sebab kenyataan sudah tiba di benaknya dalam keadaan terpilah. Yang menguatkan kemarahan diloloskan. Yang membantahnya tersaring sebelum sempat dipertimbangkan.

Itulah sebabnya “70 persen” dapat ditulis dengan hati yang terasa tulus. Angka itu bukan hasil hitungan. Ia adalah takaran perasaan yang diterjemahkan ke dalam bahasa statistik. Ketika seseorang menulis “70 persen mengeluh”, yang sesungguhnya ia laporkan adalah: kekecewaan saya sudah sebesar ini. Maka sanggahan faktual sering tidak mempan. Kita menyodorkan data, padahal yang kita hadapi bukan kekurangan data, melainkan kebutuhan batin akan angka itu. Kemarahan tidak sedang mencari kebenaran. Ia sedang mencari saksi.

Paulus sudah mengenali pola yang mirip ketika ia mengingatkan jemaat Kolose agar tidak ditawan oleh “filsafat yang kosong dan palsu” (Kolose 2:8). Kritik Paulus tentu bukan serangan terhadap filsafat sebagai kegiatan berpikir. Yang ditolaknya ialah pemikiran yang tampak bernas tetapi kehilangan pusat kebenarannya; argumentasi yang mengesankan, tetapi kosong. Kosong tidak selalu berarti tidak banyak kata. Yang kosong bukan kalimatnya, melainkan hubungannya dengan kenyataan.

Seseorang dapat menulis sangat panjang dan tetap kosong. Ia dapat penuh angka tetapi miskin fakta. Ia dapat terdengar berani, tetapi sesungguhnya sedang berperkara dengan kegelisahannya sendiri.

Kritik dan Proyeksi

Itulah sebabnya ruang publik hari ini perlu membedakan antara kritik dan proyeksi. Kritik berangkat dari kenyataan lalu menghasilkan penilaian. Proyeksi berangkat dari luka, kemarahan, atau prasangka lalu memaksa kenyataan mengikuti bayangannya. Orang yang berdiri terlalu lama di depan cermin kadang lupa bahwa yang sedang dilihatnya bukan dunia. Itu hanya pantulan dirinya. Maka masalahnya bukan lagi sekadar apakah seseorang mampu membuat sebuah sermon, tetapi apakah ia sadar bahwa yang sedang dikhotbahkannya jangan-jangan hanyalah bayangan dari dalam cerminnya sendiri.

Dalam ruang demokratis, siapa pun berhak mengkritik gereja. Hak mengkritik tidak ditentukan oleh kartu anggota gereja. Orang dari luar pun dapat melihat sesuatu yang gagal dilihat oleh mereka yang berada di dalam. Gereja bahkan membutuhkan kritik. Media sosial adalah bentuk paling murni dari keadaan itu: semua orang memegang pengeras suara yang sama, tetapi tidak semua orang merasa didengar. Artinya setiap lembaga, termasuk gereja, perlu bertanya dengan rendah hati: adakah pintu yang kami tutup, sehingga keluhan yang wajar terpaksa mencari jalan belakang? Keluhan yang didengar pada waktunya jarang berubah menjadi racun. Yang meracuni adalah keluhan yang tidak menemukan alamat.

Namun hak mengkritik tidak pernah identik dengan hak memfitnah. Kritik mempunyai disiplin moral: periksa fakta, bedakan pengalaman pribadi dari realitas umum, nyatakan sumber, hindari generalisasi, dan bersedia mengoreksi diri ketika terbukti keliru. Tanpa disiplin tersebut, kritik mudah berubah menjadi bunyi. Dan salah satu penyakit komunikasi publik kita adalah mental ikut bunyi: seseorang berteriak, yang lain ikut menggemakan, lalu gema dianggap bukti.

Fenomena ini dapat disebut, secara metaforis, sebagai stunting pengetahuan. Bukan kekurangan informasi, melainkan kegagalan mengolah informasi sampai dewasa. Orang membaca tetapi tidak memeriksa. Mendengar tetapi tidak menguji. Memiliki opini tetapi tidak mempunyai metodologi. Akibatnya, objektivitas hanya menjadi make-up. Di baliknya tetap terdapat wajah prasangka yang sama.

Luka yang Menjadi Lensa

Lebih dalam lagi, persoalan semacam ini menyentuh soal identitas. Paul Ricoeur, salah satu filsuf besar abad ke-20, banyak membicarakan hubungan antara ingatan, luka, dan identitas. Dalam Memory, History, Forgetting, Ricoeur menunjukkan bahwa ingatan dapat terluka dan bahkan dimanipulasi. Luka masa lalu bukan hanya sesuatu yang kita ingat; ia dapat ikut membentuk cara kita menafsirkan dunia sekarang.

Ricoeur menunjukkan bahwa ingatan dapat terluka. Apa yang terjadi bila luka itu tidak pernah diberi kesempatan berbicara dengan jujur: ia tidak hilang, ia berganti pekerjaan. Dari sesuatu yang dirasakan, ia menjadi sesuatu yang dipakai untuk melihat. Luka yang tidak diolah berubah menjadi lensa. Dan ketika luka menjadi lensa, semua orang terlihat sebagai musuh. Semua institusi terlihat busuk. Semua tindakan dibaca sebagai konspirasi. Semua informasi dicari hanya untuk mengonfirmasi kemarahan.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: luka itu milik siapa? Tidak setiap luka yang kita rasakan diciptakan oleh orang yang kita serang hari ini. Bisa jadi sebagian luka adalah warisan pengalaman, kegagalan relasi, rasa ditolak, kekecewaan, atau pertempuran batin yang belum selesai. Karena itu kedewasaan dimulai ketika seseorang berani berkata: ini luka saya; saya tidak akan memaksa orang lain menjadi penyebabnya hanya supaya saya mempunyai musuh untuk disalahkan.

Kebenaran seharusnya membawa manusia kepada penyembuhan, bukan membuat kita menjadi penebar infeksi luka. Ada orang yang menyembuhkan lukanya. Ada pula yang memelihara luka sampai luka itu menjadi identitas. Lebih berbahaya lagi apabila seseorang terus mengorek lukanya sendiri, kemudian memakai darahnya untuk menggambar wajah musuh pada orang lain.

“Beta Sapa?” dan Stunting Identitas

Di titik itu, pertanyaan “beta sapa?” menjadi menarik. “Beta sapa?” dapat menjadi ungkapan kerendahan hati: saya bukan siapa-siapa; karena itu saya harus hati-hati berbicara tentang orang lain. Tetapi “beta sapa?” juga dapat berubah menjadi bunker moral: setelah melempar tuduhan, seseorang bersembunyi di balik ketidakpentingannya sendiri agar tidak diminta mempertanggungjawabkan kata-katanya. Padahal justru karena beta sapa, maka beta harus bertanggung jawab atas apa yang beta tulis. Nama kecil tidak membuat kebohongan menjadi kecil. Akun pribadi tidak menghapus akibat publik. Dan kemarahan tidak pernah menjadi metodologi penelitian.

Inilah yang saya maksud dengan stunting identitas. Seperti tubuh yang kekurangan gizi pada masa pertumbuhan, diri yang hanya diberi makan permusuhan tidak pernah mencapai tinggi yang semestinya. Ia bertambah usia, bertambah lantang, bertambah pengikut, tetapi tidak bertambah dewasa. Stunting pengetahuan tadi hanyalah gejalanya: orang tidak memeriksa data karena yang sedang dipertaruhkan bukan data, melainkan dirinya. Dan mungkin di sanalah “beta sapa?” menemukan bentuknya yang paling tragis: bukan lagi kerendahan hati, melainkan kebingungan identitas. Seseorang membutuhkan musuh agar merasa dirinya ada.

Luka yang Tidak Menjadi Racun

Kekristenan menawarkan arah yang sama sekali berbeda: balas dendam orang lemah yang menyamar sebagai kebajikan. Sikap kasih orang Kristen, tidak mengalir dari kekurangan, melainkan dari kelimpahan. Ia membungkuk kepada yang lemah bukan karena iri kepada yang kuat, tetapi karena hidupnya sendiri cukup penuh untuk dibagikan.

Salib adalah bukti paling telanjang dari perbedaan itu. Pusat iman Kristen adalah Kristus yang terluka. Di Golgota tersedia semua bahan baku ressentiment: ketidakadilan, penghinaan, dan ketidakberdayaan di mata dunia. Tetapi yang keluar dari sana bukan racun. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki” (1 Petrus 2:23), dan satu ayat kemudian: “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). Kristus tidak menjadikan luka-Nya alasan untuk membalas dunia. Ia menjadikan luka sebagai jalan penyembuhan dunia.

Kristus yang bangkit pun tetap membawa bekas luka-Nya dan memperlihatkannya kepada Tomas (Yohanes 20:27). Luka itu tidak dihapus, tetapi juga tidak bernanah. Ia menjadi tanda pengenal, bukan senjata. Inilah lawan yang tepat dari ressentiment: bukan melupakan luka, melainkan mengingatnya tanpa racun. Itulah, bagi saya, salah satu filsafat kebenaran yang paling radikal dalam kekristenan: luka tidak harus melahirkan luka baru. Orang yang sungguh sembuh tidak perlu membuat orang lain berdarah untuk membuktikan bahwa dirinya pernah terluka.

Karena itu kritik yang lahir dari kebenaran mempunyai aroma berbeda. Ia tegas tetapi tidak manipulatif. Ia keras terhadap kesalahan tetapi tidak membutuhkan fitnah. Ia menggunakan data bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menerangi. Ia tidak takut memeriksa lembaga, tetapi juga tidak takut memeriksa dirinya sendiri. Sebelum kita mencium kebusukan di tubuh orang lain, mungkin ada baiknya kita berani mencium bau luka kita sendiri. Sebab luka yang ditutup kosmetik tidak otomatis sembuh. Ia dapat membusuk diam-diam, lalu membuat seluruh dunia terasa berbau sama.

Tulisan ini pun tidak kebal. Menulis tentang kemarahan orang lain adalah cara paling mudah untuk menyembunyikan kemarahan sendiri. Karena itu, pertanyaannya ialah apakah saya akan bersukacita bila orang yang saya kritik hari ini menemukan kesembuhannya? Jika ya, tulisan ini adalah kritik. Jika tidak, ia hanyalah ressentiment yang lebih rapi bahasanya.

Kita membutuhkan ruang publik yang lebih dewasa. Kita membutuhkan kritik, tetapi kritik yang berakal. Kita membutuhkan kemarahan, tetapi kemarahan yang bermoral. Kita membutuhkan data, tetapi data yang dapat diperiksa. Dan terutama, kita membutuhkan manusia-manusia yang berani menyembuhkan luka sebelum menjadikannya tulisan. Sebab pena dapat menjadi pisau. Tetapi pena juga dapat menjadi jarum operasi. Pilihan itu selalu berada di tangan penulis.

Tulisan yang lahir dari luka yang belum disembuhkan akan mencari siapa yang dapat disalahkan. Tulisan yang lahir dari kebenaran akan mencari apa yang dapat disembuhkan. Dan di situlah perbedaan antara fitnah dan kritik, antara kebisingan dan kebenaran, antara orang yang menyebarkan luka dan Kristus yang membawa luka untuk menyembuhkan dunia.*