
KUPANG,www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyelenggarakan pembekalan Katekisasi Pranikah dan Percakapan Pastoral Pranikah Tahap II Tahun 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk pendampingan konkret gereja dalam merespons tingginya tantangan kehidupan rumah tangga para pelayan yang berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan di tengah jemaat.
Pelaksanaan pembekalan dilaksanakan dalam dua metode terpadu, yakni sesi daring via Zoom pada 7–9 Juli 2026 serta pembekalan tatap muka di Aula Kantor Sinode GMIT, Kupang, pada 14–17 Juli 2026. Program tahunan yang difasilitasi oleh Unit Pelaksana Pelayanan (UPP) Pastoral cq. Sekbid Pastoral Personil ini dirancang untuk membekali calon pasangan pendeta maupun non-pendeta agar memiliki kesiapan yang matang secara spiritual, emosional, mental, fisik, hingga sosial.
Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menegaskan bahwa krisis dan dinamika dalam keluarga pelayan gereja merupakan tantangan serius yang perlu disikapi secara preventif dan terstruktur. Menurutnya, kesiapan untuk membangun kehidupan rumah tangga harus didasari oleh pemahaman iman yang kokoh dan kesadaran mendalam, bukan sekadar mengikuti tren atau dorongan sosial lingkungan sekitar.
“Masalah yang paling banyak dihadapi oleh para pendeta itu, salah satunya adalah masalah rumah tangga… yang berdampak pada pelayanan. Sehingga, di periode ini betul-betul memang kita mendorong para pendeta itu mesti disiapkan dengan lebih baik lagi untuk membentuk kehidupan rumah tangga. Jangan menikah hanya karena orang lain menikah,” ujar Pdt. Lay Abdi K. Wenyi.
Pdt. Lay menekankan bahwa rumah tangga pendeta merupakan garis depan sekaligus ruang kesaksian iman yang paling mendasar sebelum para pelayan melaksanakan tugas pastoralnya kepada masyarakat luas. Kualitas pelayanan, bobot khotbah, dan kredibilitas pastoral sangat ditentukan oleh bagaimana keteladanan itu dihidupi di dalam lingkungan keluarga sendiri.
“Ruang kesaksian utama dari para pendeta GMIT itu bukan pada pelayanan di luar, tapi pelayanannya dimulai dari rumah tangganya sendiri. Kehebatan pelayananmu, khotbahmu, pastoralmu, akan tidak berarti kalau kemudian [tidak menjadi] role model dari rumah tangga jemaat,” tegasnya.
Menjawab kebutuhan mendesak tersebut, kurikulum Katekisasi Pranikah 2026 disusun secara komprehensif. Pada sesi daring, peserta menerima materi mengenai Dasar dan Karakter Pernikahan Kristen, dinamika “Pernikahan Kristen di Pusaran Zaman” seperti dampak media sosial dan gaya hidup, relasi sosial, hingga safeguarding.
Sementara itu, pada sesi luring di Aula Sinode, peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan dari Laboratorium Provinsi, psikotes kesehatan mental bersama Sepe Growth, literasi manajemen keuangan keluarga kerja sama Wahana Visi Indonesia (WVI), serta materi kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting dari BKKBN. Selain itu, ada juga materi tentang Spiritualitas keluarga Pendeta, Pasangan sebagai sahabat dalam perjalanan, serta Anak dan keluarga Pendeta.
Rangkaian kegiatan tersebut ditutup dengan sesi Percakapan Pastoral mendalam serta meditasi komitmen iman bersama.
Melalui pembekalan yang menyeluruh ini, Sinode GMIT berharap setiap keluarga pendeta yang terbentuk tidak hanya memiliki pertahanan kokoh di tengah tekanan modernisasi, melainkan mampu menjadi cermin kasih dan kesetiaan Allah di tengah pelayanan jemaat. (Kontributor: Erlynardi Theoris Fullderita Radja Dima)*











