//Pelayanan dan Kepemimpinan Gereja Berbasis Riset Teologis – Elia Maggang

Pelayanan dan Kepemimpinan Gereja Berbasis Riset Teologis – Elia Maggang

Mengapa seorang pendeta perlu studi lanjut teologi?

Beberapa hari terakhir ini, saya berkomunikasi dan berdiskusi dengan dua orang kakak pendeta yang sedang mempersiapkan diri untuk studi lanjut program magister teologi di UKAW. Dengan senang hati saya menjawab berbagai pertanyaan, termasuk berdiskusi tentang karya ilmiah yang sedang mereka tulis sebagai salah satu dokumen persyaratan untuk pendaftaran. Dari kampus, kami membutuhkan dokumen ini untuk mengenal calon mahasiswa/i yang akan masuk, tentang isu teologis yang mereka temukan dan bagaimana mereka berupaya berteologi dalam menggumuli isu itu.

Dalam dua tahun terakhir, saya ikut membaca karya-karya ilmiah calon mahasiswa/i. Secara khusus bagi para pendeta yang mau melanjutkan studi ini, saya menemukan kesungguhan menggumuli pelayanan mereka. Biasanya, isu yang diangkat adalah isu dalam pelayanan yang sedang mereka geluti. Tentu, terdapat keterbatasan dalam hal diskursus akademik yang mempengaruhi bangunan refleksi teologis yang mereka hasilkan. Tetapi, pergumulan riil di jemaat yang dibawa ke dalam karya ilmiah itu sangat berharga.

Para pendeta yang melanjutkan studi akan membawa kekayaan pengalaman umat dan pengalaman mereka sendiri untuk memperkaya percakapan teologis. Itu semua yang kemudian akan didialogkan dengan berbagai perspektif teologis yang dipelajari di kampus secara timbal balik. Di UKAW, para dosen program magister teologi aktif meneliti dan mempublikasikan artikel di jurnal ilmiah yang top di Indonesia dan dunia. Para dosen juga aktif mengikuti dan berbicara di seminar serta konferensi ilmiah di Tanah Air dan luar negeri, sehingga mereka selalu terlibat dalam diskursus teologis terkini. Itu semua yang dibawa para dosen ke dalam dialog dengan pengalaman dan isu yang dibawa para mahasiswa. Dialog itu menghasilkan kekayaan refleksi teologis bagi para pendeta dalam menggumuli persoalan pelayanan.

Di kelas, percakapan terhadap isu-isu terjadi, yang kemudian meningkatkan keterampilan berteologi para pendeta. Studi lanjut itu bukan hanya sekadar menambah pengetahuan atau disegarkan dengan percakapan baru dalam teologi. Lebih dari itu, studi lanjut sebenarnya adalah meningkatkan keterampilan berteologi seorang pendeta. Ini yang sering kali tidak dipahami. Kalau sekadar pengetahuan teologis, seseorang bisa membaca saja literatur yang ada, walaupun tanpa akses kepada literatur terbaru, pengetahuan pendeta hanya akan berputar-putar di literatur yang sudah ada. Tetapi, studi lanjut itu mengasah keterampilan berteologi melalui diskusi-diskusi analitis-kritis di kelas dengan sesama mahasiswa dan dosen tentang berbagai pendekatan teologi dengan segala perdebatannya. Tugas-tugas serta tesis yang dikerjakan dengan bimbingan para dosen itu mengasah keterampilan berteologi. Keterampilan ini tidak akan diperoleh hanya dengan membaca.

Keterampilan berteologi inilah menjadi bekal para pendeta untuk bergumul dengan berbagai isu pelayanan gereja ke depan. Keterampilan ini yang dibawa ke jemaat untuk berkolaborasi dengan anggota jemaat yang ahli di bidang ilmu lain. Di kampus teologi UKAW, semua kajian yang dibuat itu berdasarkan analisis interdisipliner. Ilmu lain dipakai untuk memahami isu yang diangkat dan solusi atau aksi yang dibutuhkan. Tetapi, studi teologi tidak berakhir di situ sebab yang dibutuhkan gereja adalah apakah itu sesuai kehendak Allah; apakah itu yang diajarkan dan dilakukan Yesus Kristus, sang Pemilik dan Kepala Gereja? Itulah sebabnya, studi teologi selalu bermuara pada refleksi teologis berdasarkan Alkitab.

Refleksi teologis yang dihasilkan dari keterampilan berteologi itu membuat para pendeta semakin mengenal Allah dan kehendak-Nya dalam pelayanan, khususnya dalam persoalan pelayanan gereja yang digumuli. Jadi, sekali lagi, walaupun isu atau persoalan yang digumuli perlu dijawab dengan berbagai pendekatan keilmuan, jawaban akhir yang diharapkan adalah jawaban teologis. Jawaban teologis itulah yang kemudian menjadi basis dari setiap keputusan dan tindakan gereja.

Dalam hal itulah, studi lanjut teologi sangat dibutuhkan untuk menyelami lebih dalam apa yang Kristus kehendaki bagi gereja-Nya. Saya tidak mengatakan bahwa studi lanjut adalah satu-satunya cara menyelami kehendak Allah. Tetapi, studi lanjut itu sangat menolong untuk meningkatkan keterampilan berteologi, yaitu menggumuli kehendak Allah dalam kompleksitas kehidupan hari ini untuk dilakukan gereja. Ketika para pendeta kuliah lanjut teologi, mereka semakin menyelami kehendak Allah dalam pelayanan gereja.

Jika demikian, studi lanjut di jenjang magister teologi adalah kebutuhan gereja. Pendeta yang studi lanjut teologi akan menolong jemaat dalam menggumuli isu-isu pelayanan dengan kajian teologis secara interdisipliner secara bertanggung jawab. Karena itu, jemaat-jemaat GMIT sudah harus mulai memasukkan riset ke dalam Pokok-Pokok Program Pelayanan dan kemudian Program-Program Tahunan. Isu-isu dalam panca pelayanan perlu digumuli dengan riset teologis yang bertanggung jawab.

Siapa yang melakukan riset? Ya pendeta di jemaat itu, atau bisa juga pendeta di jemaat lain yang diminta untuk melakukan riset itu dengan dukungan fasilitas riset yang memadai. Persidangan menetapkan isu-isu yang perlu kajian teologis mendalam. Kemudian, anggarkan dana riset yang sesuai untuk mengirim pendeta jemaat ke kampus teologi dan berstudi di sana. Biasanya untuk menulis sejarah gereja, jemaat-jemaat menganggarkan minimal 30 juta rupiah. Itu bisa menjadi acuan (bisa kurang, bisa lebih, sesuai kemampuan jemaat) bagi biaya riset para pendeta melalui studi S2 teologi di kampus. Kalau biaya sejarah gereja hanya dapat satu buku sejarah gereja, biaya riset yang jemaat keluarkan untuk pendeta berstudi lanjut itu akan menghasilkan kajian-kajian mendalam terhadap berbagai isu pelayanan melalui karya-karya ilmiah di setiap mata kuliah, dan tentu saja tesis pendeta yang diutus untuk studi.

Lalu, bagaimana kalau pendetanya pindah atau dimutasi setelah periode pelayanannya berakhir? Itu bukan masalah sebab jemaat telah mendapatkan belasan karya ilmiah dan satu tesis untuk isu-isu pelayanan di jemaat tersebut. Pendeta mendapatkan keterampilan berteologi, dan jemaat mendapatkan kajian-kajian teologis berkualitas untuk pelayanannya.

Maka, memang sudah saatnya para pendeta GMIT yang masih sarjana melanjutkan studi ke jenjang magister teologi agar pelayanan di jemaat-jemaat dilakukan dan dikembangkan berdasarkan kajian teologis yang lebih dalam. Sudah saatnya jemaat-jemaat di perkotaan atau pusat-pusat klasis menata pelayanan dengan basis riset yang kuat apalagi konteks wilayah pelayanan itu sangat dinamis. Yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan teologis baru, tetapi keterampilan berteologi dari para pendeta yang semakin berkembang. Sudah bukan masanya lagi pelayanan para pendeta hanya dipahami sebagai kegiatan pimpin ibadah, berkhotbah, dll. Itu semua penting. Tetapi, hari ini, kalau pelayanan mau maju, jemaat-jemaat perlu memberikan waktu dan fasilitas kepada para pendeta untuk melakukan riset demi pengembangan pelayanan di jemaat-jemaat. Toh, riset itu akan meningkatkan kualitas ibadah yang dipimpin dan khotbah yang disampaikan dan kepemimpinan pendeta dengan basis teologi yang kuat.

Model kuliah S2 Teologi di UKAW sambil melayani yang disiapkan GMIT itu mungkin bukan model paling ideal, tetapi itu model terbaik yang bisa dipakai saat ini. Kurikulum dan metode perkuliahan yang dipakai di UKAW memang didesain untuk mendukung para pendeta yang melayani di jemaat sambil berkuliah. Kadang pendeta atau jemaat mengeluh karena kuliah seperti mengorbankan pelayanan. Tetapi, tidak harus seperti itu cara berpikirnya. Apa yang saya bahas di atas menunjukkan bahwa kuliah S2 Teologi itu adalah bagian dari pelayanan pendeta yang perlu didukung secara sengaja. Apalagi, kalau jemaat sudah membiayai kuliah pendetanya, jemaat tentu berhak menuntut kualitas studi yang terbaik dari pendetanya untuk kepentingan pelayanan di jemaat.

Jadi, jemaat mana yang siap mengirim pendetanya untuk lanjut studi S2 Teologi, khususnya di UKAW?

Penulis adalah Pendeta GMIT dan Dosen Prodi Magister Teologi UKAW.