
Konsultasi Nasional (KONAS) Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Mitigasi – Adaptasi Perubahan Iklim (MAPI) berlangsung tanggal 15-17 Oktober 2025. Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjadi tempat penyelenggaraan Konas tersebut. “Meneguhkan Kemandirian Oikumenis untuk Keadilan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana” menjadi tema dalam KONAS pertama ini.
Krisis iklim dan meningkatnya frekuensi bencana alam, banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang panas, dan badai tropis menghadirkan luka ekologis bagi kelompok rentan. Krisis iklim telah menjadi krisis kemanusiaan yang menyentuh dimensi moral, spiritual, dan keadilan sosial. Dalam realitas seperti ini, Gereja dipanggil untuk hadir sebagai agen ketangguhan dan keadilan. Ada mandat iman untuk menghadirkan kabar baik dengan membangun kesadaran ekologis, menguatkan kesiapsiagaan komunitas, mendampingi pemulihan, serta mendorong perubahan kebijakan publik yang lebih adil bagi bumi dan manusia. Aksi nyata gereja demi kehidupan yang lebih bermartabat.
Di tengah urgensi inilah, KONAS Gereja-Gereja hadir sebagai ruang perjumpaan, refleksi, dan konsolidasi bersama. KONAS menjadi wadah di mana Gereja-gereja dan lembaga Kristen dapat saling berbagi pengalaman, mengidentifikasi tantangan, merumuskan strategi baru, dan menyusun arah gerakan oikumenis yang lebih mandiri. Melalui ibadah, diskusi teologis, gelar wicara (talk show), refleksi kelompok, dan pleno, KONAS dapat melahirkan rumusan teologi yang meneguhkan komitmen pada keadilan iklim dan pengurangan risiko bencana. Ada aksi bersama yang dapat diwujudkan hingga ke jemaat dan lembaga di tingkat lokal.
GMIT melalui Badan Pengurangan Risiko Bencana Sinode (BPRBS) hadir dengan ceritera tentang peta kerentanan dan kapasitas GMIT. Pelatihan Gereja Tangguh Bencana (GTB) di 57 Klasis yakni, pertama,Teritori Kupang Daratan dan Semau, pada 9-10 Juli 2024. Kedua,Teritori Alor Tribuana pada 22-24 Oktober 2024. Ketiga,Teritori TTS, TTU, Belu dan Malaka pada 10-12 Desember 2024. Keempat, Teritori Rote Ndao pada 20-22 Mei 2025. Kelima,Teritori Sabu Raijua pada 24 oktober 2025.
Selain Pelatihan GTB, GMIT melakukan survei Gereja Tangguh bencana untuk melihat kapasitas jemaat-jemaat dan klasis-klasis se-GMIT dalam menghadapi bencana. Ada Kerjasama BPRBS, BP4S dan Jakomkris PBI. Responden sebayak 1.403 orang (57 KMK, 1.326 (KMJ) dan 20 (wakil KMJ). Hasil survei dari 1.089 responden memetakan 214 jemaat yang tidak siap menghadapi bencana, 680 jemaat yang cukup siap menghadapi bencana dan 195 jemaat yang sangat siap menghadapi bencana. Hasil survei ini akan dipakai oleh GMIT dalam menata pelayanan berkaitan dengan Pengurangan Risiko Bencana yang ada. GMIT juga melakukan tanggap darurat dalam bencana erupsi Gunung Lewotobi laki-laki di Flores Timur, Banjir di Fatuleu Barat, sulamu dan Amfoang Selatan dan Tanah longsor di Kuatae-Soe. GMIT siap berjejaring dengan semua pihak yang ada.
Topik-topik menarik dibahas bersama dalam KONAS tersebut. Teologi Diakonia Ekumenis: Ketangguhan Gereja Menghadapi Krisis Bencana dan Iklim dari J.B. Banawiratma. Chthulucene sebagai istilah dari bidang “science and technology studies”. Chthulucene merupakan kisah-kisah dan aktivitas-akstivitas yang sedang berlanjut dari multispecies yang sedang “bersama-sama menjadi” dalam waktu yang tidak pasti, di mana dunia belum selesai. Chthulucene adalah membangun gaya hidup dan bertindak bersama-sama (sym-poiesis) dengan segala species, bukan hidup dan bergerak sendirian (auto-poiesis, self-making). Semua species terhubung dalam merespons bersama-sama (co-response-ability). Bagi saya gereja perlu mengembangkan gaya hidup Chutulucene sebagai gaya hidup yang mempertimbangkan dampak baik atau buruk untuk keputusan bertindak terhadap alam semesta ini.
Meneguhkan Kemandirian Oikoumenis untuk Keadilan Iklim dan PRB disampaikan oleh Sekum PGI (Pdt.Darwin Darmawan). PGI telah mengidentifikasi salah satu polikrisis adalah krisis ekologi. Karena itu, PGI memandang PRB sebagai respon rohani yang mendesak diupayakan. Diakonia Oikoumenis, bermakna ganda yakni aksi pemulihan bumi dan penyelamatan manusia. Hal menanam pohon, mengadvokasi petani yang kehilangan lahan, membangun sistem peringatan dini bencana adalah doa, ibadah dan bentuk hormat kita kepada Allah sekaligus kasih kepada sesama manusia. Kemandirian Oikumenis diantaranya mengembangkan kesadaran kebencanaan melalui khotbah, kurikulum sekolah minggu, dan pendidikan publik. Mengarusutamakan teologi kebencanaan dan literasi bencana di setiap aras pelayanan. Berjejaring dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha untuk mempromosikan kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan
Kolaborasi Universitas dan Eklesiastik dalam Advokasi Perubahan Iklim disampaikan oleh Imelda Masni Juniaty Sianipar, S.IP., M.A., Ph.D. (Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia). Landasan Kolaborasi universitas dan Lembaga eklesiastik yakniUniversitas berperan sebagai pusat pengetahuan ilmiah dan inovasi teknologi yang mampu mengidentifikasi penyebab, dampak, dan solusi berbasis data untuk krisis iklim. Lembaga eklesiastik memiliki otoritas moral, jaringan sosial yang luas, dan pengaruh spiritual dalam menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Bidang-Bidang Kolaborasi Strategis yakniRiset dan Edukasi Publik, Pemberdayaan Komunitas Lokal, Advokasi Kebijakan Publik, Gerakan Ekoteologis dan Liturgi Hijau. Pemateri lainnya yakni Djoko Rahardjo (Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta) pandangan kolaborasi yang sungguh meneguhkan hati.
KONAS PRB dan MAPI PGI telah usai, KONAS tersebut telah memberi harapan baru bagi GMIT untuk turut serta dalam aksi-aksi nyata secara bersama. Bulan November dimaknai sebagai bulan lingkungan oleh seluruh anggota GMIT dimana saja berada, nyatakanlah panggilan iman kita secara persekutuan dan kelembagaan untuk menghadirkan shalom Allah di tengah-tengah dunia ini. Salam Tangguh, Tuhan Yesus berkati. Sekian.











