
Surat ini merupakan yang pertama dari dua surat Perjanjian Baru (PB) yang ditulis oleh rasul Petrus (1Pet. 1:1; 2Pet. 1:1). Nada dan isi surat ini cocok dengan apa yang kita ketahui tentang Simon Petrus. Persekutuannya yang akrab dengan Tuhan Yesus selama bertahun-tahun melandasi ingatannya kembali akan kematian (1Pet. 1:11,19; 1Pet. 2:21-24; 1Pet. 3:18; 1Pet. 5:1) dan kebangkitan Yesus (1Pet. 1:3,21; 1Pet. 3:21); secara tidak langsung Petrus tampaknya juga menunjuk kepada penampakan diri Yesus kepadanya di Galilea setelah kebangkitan (1Pet. 2:25; 1Pet. 5:2a; bd. Yoh. 21:15-23).
Petrus mengalamatkan surat ini kepada “orang-orang pendatang yang tersebar” di seluruh propinsi Asia Kecil kekaisaran Romawi (1Pet. 1:1). Beberapa di antara mereka ini mungkin adalah orang bertobat yang menanggapi khotbahnya pada hari Pentakosta dan telah kembali ke kota masing-masing dengan iman yang baru (bnd. Kis. 2:9-11). Orang percaya ini disebut “pendatang dan perantau” (1Pet. 2:11) untuk mengingatkan mereka bahwa perziarahan mereka sebagai orang Kristen adalah di dalam dunia yang membenci Yesus Kristus dan mereka dapat mengalami penganiayaan darinya. Mungkin Petrus menulis surat ini sebagai tanggapan terhadap laporan dari orang percaya di Asia Kecil tentang peningkatan perlawanan (1Pet. 4:12-16) yang belum didukung resmi oleh pemerintah (1Pet. 2:12-17).
Renungan 1 Petrus 1:3-12 menekankan pengharapan hidup yang pasti karena kebangkitan Yesus, bahkan di tengah pencobaan. Orang percaya dipanggil untuk bersukacita karena iman yang dimurnikan menghasilkan keselamatan jiwa, meskipun menderita. Pengharapan adalah keinginan, antisipasi, atau keyakinan kuat akan terjadinya sesuatu yang baik di masa depan, yang berfungsi sebagai sauh (jangkar) jiwa dan kunci ketahanan hidup. Berasal dari kata dasar “harap,” ini mencakup doa, keinginan, dan sikap optimistis. Secara alkitabiah, pengharapan adalah kepastian akan janji Tuhan, bukan sekadar impian. Dalam ayat 3-5, kebangkitan Yesus Kristus memberi kita kehidupan baru dan pengharapan yang hidup, bukan sekadar teori. Warisan kekal yang tidak dapat binasa sudah disiapkan di surga (ay. 6-7). Penderitaan sering kali tidak terhindarkan, namun orang percaya didorong untuk tetap bersukacita. Ujian iman ini bertujuan memurnikan iman kita, seperti emas yang diuji api, jauh lebih berharga daripada harta duniawi. Meskipun tidak melihat Yesus secara fisik, kita mengasihi-Nya dan percaya kepada-Nya. Hal ini menghasilkan sukacita yang mulia dan puncaknya adalah keselamatan jiwa (ay. 8-9). Keselamatan ini adalah puncak dari apa yang diselidiki para nabi zaman dahulu. Kasih karunia ini begitu besar hingga malaikat pun ingin melihatnya. Jadikan pengharapan akan warisan surga sebagai motivasi untuk bertahan dalam ujian hidup. Jangan fokus pada penderitaan, tetapi fokus pada jaminan keselamatan. Tetap bersukacita karena iman kita sedang dimurnikan oleh Allah. Bila seseorang kehilangan pengharapan membuat seseorang seperti perahu tanpa sauh yang terombang-ambing, sedangkan memiliki pengharapan memberikan alasan untuk bertahan. Kebangkitan bukan hanya kemenangan atas maut, tetapi juga jaminan bahwa pengharapan kita tidak sia-sia. Pengharapan warga GMIT saat ini berpusat pada penguatan iman, karakter, dan ketahanan di tengah tantangan zaman, menjadikan gereja sebagai sumber pengharapan dan agen perubahan sosial. Amin.











