
Leo Tolstoy, seorang sastrawan Kristen Rusia dalam cerita pendek “How Much Land Does a Man Need? (Seberapa banyak tanah yang dibutuhkan manusi?), berkisah tentang seorang petani bernama Pahom yang sangat serakah, dan tak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Suatu hari Pahom mendengar tentang suatu suku nomaden yang memiliki tanah luas. Kepala suku itu menawarkan sebuah kesepakatan yang tampak sangat menguntungkan bagi Pahom. Aturannya sederhana: Pahom boleh berjalan mengelilingi tanah sejauh yang ia mampu dalam satu hari. Ia harus kembali ke titik awal sebelum matahari terbenam. Seluruh tanah yang berhasil ia lingkari sepanjang hari itu akan menjadi miliknya. Pagi-pagi sekali ia mulai berjalan. Awalnya langkahnya tenang. Tetapi setiap kali melihat tanah yang subur, ia berpikir, “Sayang sekali jika tidak kumasukkan juga.” Ia terus berjalan lebih jauh, semakin jauh, dan semakin jauh lagi.
Ketika matahari mulai condong ke barat, ia baru mulai sadar bahwa ia telah berjalan terlalu jauh dari titik awal. Dengan panik ia berlari kembali sekuat tenaga ke titik awal start. Dengan napas terengah-engah ia akhirnya mencapai titik awal tepat sebelum matahari tenggelam. Namun begitu sampai, ia jatuh dan meninggal karena kelelahan. Seseorang kemudian menggali kubur untuknya. Kubur itu hanya sepanjang enam kaki (2 meter). Lalu Tolstoy menutup cerita itu dengan kalimat yang sangat ironis: “Enam kaki tanah (2 meter), itulah sebenarnya seluruh tanah yang dibutuhkan manusia.”
Kisah ini menyentuh sesuatu yang sangat mendalam tentang manusia. Kita hidup dalam dunia yang selalu berkata: miliki lebih banyak, capai lebih tinggi, kumpulkan lebih besar. Namun dalam mengejar semuanya itu, manusia sering kehilangan hal yang paling penting: hidup itu sendiri. Berbeda dengan kecenderungan manusia, alkitab memperlihatkan jalan yang sama sekali berbeda. Jika dunia mengajarkan manusia untuk mengumpulkan sebanyak mungkin, firman Tuhan justru mengajarkan manusia untuk mengosongkan diri sebagaimana dalam Filipi 2:1-11.
Penjelasan Teks
Kota Filipi merupakan sebuah kota Romawi yang sangat istimewa. Sebagian besar penduduknya berkewargaan negara Roma, gaya kota dan pemerintahannya meniru kota Roma. Penduduknya menikmati hak-hak istimewa seperti bebas pajak. Mereka sangat loyal dan hormat pada kaisar Roma. Mereka bahkan menyembah kaisar sebagai tuhan. Kaisar pun menikmati kehormatan itu sebagai haknya. Dalam konteks budaya seperti itulah Paulus menulis Filipi 2:1-11 sebagai narasi tandingan terhadap logika kekuasaan Romawi.
Paulus mengajak jemaat Filipi untuk belajar mengenal Allah bukan dari puncak kekuasaan, melainkan dari pengosongan diri Kristus. Paulus mengingatkan jemaat tentang ciri hidup orang percaya, yaitu penghiburan dalam Kristus, persekutuan Roh, kasih, dan belas kasihan. Untuk mewujudkan semua itu, maka jemaat perlu memelihara kesatuan: sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Namun, Paulus segera menegaskan bahwa kesatuan semacam itu tidak mungkin terjadi kalau dalam jemaat masih ada ambisi, persaingan, pementingan diri, atau keinginan untuk terlihat unggul atas yang lain. Kesatuan dalam jemaat hanya mungkin tercipta jika jemaat tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (ay.3).
Sebaliknya, jemaat harus mampu menomorduakan kepentingan diri masing-masing. Paulus menegaskan bahwa kesatuan dan kedamaian hanya dimungkinkan apabila masing-masing orang mau mengosongkan diri, mengabaikan kepentingan diri, atau tidak hanya memperhatikan kepentingan dirinya, tetapi sebaliknya mau memperhatikan kepentingan sesama di atas kepentingan dirinya (ay. 4).
Namun Paulus sadar bahwa memberikan wejangan moral saja tidak akan cukup. Maka ia memberikan sebuah dasar teologis, yaitu Kristus sendiri. Dalam ayat 5 Paulus menegaskan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Dengan kata lain, pola hidup orang Kristen bukan sekadar mengikuti anjuran moral, tetapi meneladani pola hidup Kristus.
Paulus hendak menegaskan bahwa ajakannya untuk bersikap rendah hati, mengabaikan kepentingan diri, bersatu padu dalam iman dan memperhatikan kepentingan orang lain bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah Yesus sendiri. Yesus mengosongkan diri, mengabaikan kenyaman-Nya, bahkan mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Tindakan kenosis Yesus itu sudah dikenal luas dalam sebuah madah pujian kepada Kristus (ay. 6-11).
Himne ini memberi gambaran tentang perjalanan Kristus dari kemuliaan menuju salib (ketika Ia mengosongkan diri dan turun ke dunia), lalu dari salib menuju pemuliaan (mati namun bangkit dan naik ke surga). Di sini Paulus menggambarkan dua gerakan besar dalam kehidupan Kristus. Gerakan pertama: pengosongan diri. Ayat 6 mengatakan bahwa Kristus: “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan.”
Di dunia kuno, status ilahi adalah sesuatu yang harus dipertahankan demi kekuasaan. Para raja atau kaisar menyebut diri sebagai titisan ilahi agar kekuasaan mereka diterima rakyat. Tetapi Kristus melakukan hal yang sebaliknya. Ayat 7 berkata: “Ia telah mengosongkan diri-Nya.” Itulah kata Yunani kenosis. Kristus tidak mempertahankan hak-Nya, tetapi justru: mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia, hidup dalam kerendahan, taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Di sini, kenosis bukan berarti Kristus berhenti menjadi Allah, tetapi bahwa Ia memilih jalan kerendahan dan pengorbanan diri. Allah menyatakan diri-Nya bukan melalui dominasi dan hegemoni, tetapi melalui kasih dan pengorbanan yang memberi diri bagi manusia dan dunia.
Gerakan kedua: pemuliaan. Setelah jalan kerendahan itu, ayat 9 berkata: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia.” Di sinilah paradoks Injil muncul. Dalam logika dunia: yang naik adalah yang kuat. Dalam logika Injil: yang ditinggikan adalah yang merendahkan diri. Ketika Yesus merendahkan diri bahkan mengorbankan diri sampai mati di kayu salib, Allah meninggikan Dia dengan membangkitkan-Nya dari kematian. Di sini, salib, yang dalam dunia Romawi adalah simbol kehinaan, justru menjadi jalan menuju kemuliaan ilahi bagi Yesus.
Tindakan pengosongan dan pengorbanan diri ini penting karena ia membalikan seluruh struktur nilai kekaisaran. Jika Roma berkata bahwa kemuliaan lahir dari kekuasaan dan dominasi, Paulus berkata bahwa kemuliaan lahir dari ketaatan dan pengorbanan diri. Jika Roma memuliakan kekuatan dan kesombongan, Injil memuliakan kerendahan dan kasih yang rela menderita. Dengan demikian, himne Kristus ini berfungsi sebagai narasi perlawanan politis dan teologis: Yesus adalah Tuhan, tetapi Ia memerintah dengan cara yang sama sekali berbeda dari kaisar, yaitu melayani dalam kerendahan dan pengorbanan diri.
Bacaan ini memperlihatkan beberapa poin teologis. Pertama, bahwa Allah yang dinyatakan dalam Kristus bukan Allah yang mempertahankan privilese (keistimewaan) diri-Nya, tetapi Allah yang rela merendahkan diri untuk mendekati manusia dan merangkulnya kembali dalam salib.
Kedua, berpedoman pada Kristus, kenosis menjadi pola kehidupan gereja. Artinya, gereja dipanggil untuk menjadi umat kenosis, yaitu pribadi yang tidak dikendalikan oleh ambisi kedagingan, yang tidak mencari kehormatan diri, tetapi pribadi yang rendah hati dan mau mengutamakan orang lain.
Ketiga, kerendahan adalah jalan kehidupan sejati. Cerita Tolstoy menunjukkan bahwa manusia ingin mengumpulkan lebih banyak, tetapi berakhir dengan kematian. Filipi 2 menunjukkan bahwa Kristus mau melepaskan semuanya, tetapi justru Ia akhirnya dimuliakan melalui kebangkitan dan membawa kehidupan bagi manusia dan dunia. Di sinilah kita melihat paradoks Injil: yang mengosongkan diri justru ditinggikan dan memberi hidup kepada banyak orang.
Penutup
Kita hidup dalam zaman yang sangat mirip dengan cerita Tolstoy. Banyak orang mengejar kehormatan, kekayaan, status, jabatan, pengaruh, popularitas. Namun sering kali semakin banyak manusia memiliki, semakin ia jauh dari Tuhan dan kosong hatinya. Firman Tuhan hari ini mengundang kita berjalan di jalan yang berbeda, yaitu jalan kenosis. Jalan kenosis menuntut kita memiliki hati yang serupa dengan Kristus, yaitu hati yang rela merendahkan diri, yang rela memberi diri, yang rela berkorban demi kebaikan dan kehidupan sesama.
Jalan kenosis tidak mudah. Jalan kenosis menantang cara kita memahami kepemimpinan, pelayanan, dan kesaksian kita dalam gereja maupun masyarakat. Ia mengajak kita bertanya: apakah kita cenderung merendahkan diri atau meninggikan diri dalam berhubungan dengan sesama? Apakah kita cenderung mengejar kepentingan diri atau kepentingan sesama? apakah kita menggunakan posisi/jabatan untuk menyombongkan diri atau untuk memberi diri melayani sungguh-sungguh? Apakah kita mencari pengakuan, popularitas, kehormatan atau ketaatan? Apakah kita masih percaya bahwa jalan kenosis Kristus adalah jalan yang memberi hidup?
Filipi 2 mengajak kita percaya pada paradoks Injil: jalan mengosongkan diri bersama Kristus adalah jalan menuju kehidupan yang dimuliakan oleh Allah. Kenosis bukan kehancuran diri, melainkan pembebasan diri dari egoisme. Dan di dalam kebebasan itulah, kita menemukan kembali panggilan sebagai saksi Allah yang hidup di tengah dunia. Friedrich Nietzshe menulis: “ke mana pun aku pergi, selalu mengikutiku seekor anjing yang bernama ego”. Egoisme itulah musuh utama kita yang membuat kita cenderung egois, mementingkan diri, mengejar pengakuan, mencari kehormatan, berburu kuasa dan materi/harta, sehingga sulit bagi kita mengalami kenosis dan mengutamakan sesama. Oleh karena itu, marilah berserah kepada Kristus agar ia menolong kita untuk rendah hati, mengosongkan diri, dan rela berkorban bagi sesama sebagaimana Kristus lakukan. Dan dengan jalan kenosis seperti itu, kita tidak akan kehilangan, malahan kita akan memperoleh hidup sejati sebagaimana dikatakan Yesus: barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya (Markus 8:35b). Selamat merenungi teladan kenosis Kristus dan berjuang menghidupinya. **











