
Foto: Yulius Mau Wadu
KUPANG,www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memperhadapkan organ Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Prisqila Kota Kupang Periode 2024-2027. Acara perhadapan ini berlangsung dalam kebaktian di Jemaat GMIT Hosana RSS Liliba, Klasis Kota Kupang Timur, pada Minggu (28/06/2026).
Ibadah perhadapan tersebut dipimpin oleh Pdt. Norman M. Nenohai. Momentum ini menandai dimulainya masa bakti kepengurusan yang baru dalam mengelola dan memajukan lembaga pendidikan di bawah naungan GMIT. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Majelis Klasis Kota Kupang Timur, Majelis Klasis Kota Kupang Barat, Badan Pendidikan Sinode GMIT, serta jemaat setempat.
Berdasarkan keputusan resmi, susunan personalia organ Yapenkris Prisqila Kota Kupang Periode 2024-2027 diisi oleh para pendeta dan akademisi. Pada posisi Organ Pembina, diketuai oleh Pdt. Mersy Kapioru-Pattikawa, S.Th, MM (KMK Kota Kupang Timur), didampingi Pdt. Lelyn Ndun, S.Th (KMK Kota Kupang Barat) sebagai Sekretaris, dan Pdt. Delvi Snae, S.Th, M.Pd (KMK Kota Kupang) selaku Anggota.
Sementara itu, struktur Organ Pengurus dipimpin oleh Ariyandi Benygerius Mauko, S.Pd., M.Hum sebagai Ketua, Yiswi Taku Tiran, S.Pd.Gr sebagai Sekretaris, dan Afliana V. L Tinenti, S.Pd yang mengemban tugas sebagai Bendahara.
Untuk fungsi kontrol, Organ Pengawas dipercayakan kepada Salmun Manafe, S.Pd, SIp sebagai Ketua, Hengky Nenobais, SH sebagai Sekretaris, dan Dorce Afliana Ayal, S.Pd sebagai Anggota.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota Majelis Sinode GMIT Ex-officio, Pdt. Mercy P. Kapioru-Pattikawa, menyampaikan suara gembala mengenai arah pelayanan pendidikan ke depan. Ia menekankan pentingnya menerapkan spiritualitas pendidikan melalui konsep “mata malaikat”. Melalui konsep ini, anak-anak didik wajib dipandang sebagai pribadi berharga titipan Tuhan, bukan sekadar objek administratif.
“Memandang anak-anak dengan mata malaikat berarti memandang mereka bukan sebagai angka dalam laporan, bukan sebagai beban anggaran, bukan sebagai urusan administrasi semata, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang dikasihi Allah,” tegas Pdt. Mercy.
Menurutnya, perspektif ini akan mengubah cara pandang seluruh elemen yayasan dan guru dalam mengajar serta mendampingi tumbuh kembang anak-anak, terutama di era tantangan modern saat ini.
Lebih lanjut, Pdt. Mercy juga menyoroti realita berbagai tantangan keterbatasan fisik dan fasilitas yang masih membayangi sekolah-sekolah Kristen. Namun, ia mengingatkan para pengurus yang baru diperhadapkan agar tidak kehilangan esensi pelayanan. Jabatan di dalam struktur yayasan merupakan sebuah ruang pengorbanan yang tulus, bukan sarana mencari status sosial.
“Jangan sampai pelayanan pendidikan menjadi tempat mencari kehormatan diri. Jabatan dalam yayasan bukan kursi kuasa, tetapi mezbah pelayanan. Di atas mezbah itu, kita mempersembahkan waktu, pikiran, tenaga, dan hati untuk masa depan anak-anak GMIT,” pesan Pdt. Mercy.
Melalui perhadapan ini, Yapenkris Prisqila Kota Kupang diharapkan dapat bergerak cepat guna membenahi tata kelola sekolah, memperkuat spiritualitas, serta meningkatkan mutu pendidikan demi mencetak generasi masa depan yang berkarakter dan berdaya saing.*











