
KUPANG,www.sinodegmit.or.id,— Dalam upaya memperkuat kapasitas petani binaan GMIT-Mission 21 (M21), Badan Pengelolaan Aset dan Pemberdayaan Ekonomi (BPAPE) Sinode GMIT menggelar pelatihan pertanian hortikultura di Lahan Pertanian Jemaat Pengharapan Dendeng, Klasis Kupang Tengah. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat (13–14/08/2026).
Pelatihan ini diikuti oleh perutusan kelompok tani dari lima jemaat, yaitu Jemaat Pengharapan Dendeng, Jemaat Siloam Oebelo Kecil, Jemaat Imanuel Kampung Baru Puluthie, Jemaat Imanuel Oepunu, dan Jemaat Imanuel Bokong. Turut hadir Ketua Majelis Jemaat Pengharapan Dendeng.
Bendahara Sinode GMIT, Pnt. Yefta Sanam, dalam suara gembalanya menegaskan pentingnya peran petani sebagai penyedia bahan pangan utama bagi masyarakat. Ia mendorong peserta agar tidak hanya bertahan pada pola pertanian subsisten, tetapi bertransformasi menjadi petani produktif berbasis pengetahuan modern.
“Petani adalah pekerjaan yang mulia karena menyediakan sumber bahan makanan bagi kehidupan manusia. Ini merupakan bagian dari tugas yang Tuhan percayakan, sehingga harus dikerjakan dengan baik agar menjadi berkat bagi banyak orang,” ujar Pnt. Yefta Sanam.
Ia menambahkan, momentum pelatihan lapangan ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan volume produksi dan kesejahteraan ekonomi jemaat sekembalinya para peserta ke jemaat masing-masing.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi komprehensif dari akademisi dan pakar pertanian. Dr. Yohannis H. Dimu Heo, SP., M.Sc memberikan materi mengenai pemilihan benih, praktik pembibitan, persiapan lahan, serta teknik penanaman. Sementara itu, Dr. Jacqualine A. Bunga, SP., M.Si membawakan materi pemupukan berimbang, pengelolaan air, serta identifikasi dan pengendalian hama pada tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, bawang, dan padi. Adapun Dr. Vinni Denivita Tome, SP., M.Sc memandu praktik pembuatan pupuk bokashi dan NPK cair.
Sesi diskusi interaktif mewarnai jalannya pelatihan saat peserta membagikan tantangan di lapangan. Osias Ta’ek, peserta dari Jemaat Siloam Oebelo Kecil, mengungkapkan kendala terkait keterbatasan sumber air serta kebiasaan sistem tebas bakar di tingkat petani.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Vinni Denivita Tome menjelaskan bahwa sistem tebas bakar dapat merusak kandungan nutrisi tanah dan mengurangi kemampuannya menyimpan air. Ia menyarankan teknik penanganan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Jika ada pembakaran daun, sebaiknya tidak sampai menjadi abu, melainkan cukup menjadi arang lalu disiram. Arang ini mampu mengikat air dengan kuat di dalam tanah dan tidak menimbulkan polusi udara. Unsur karbonnya tetap terjaga dan sangat dibutuhkan oleh tanaman,” jelas Dr. Vinni. Ia juga mengimbau warga gereja untuk menghentikan praktik berkebun berpindah-pindah, serta membuat jebakan air (damparit) guna mengatasi krisis air saat musim kemarau.
Respon positif disampaikan oleh Jimi Ola, peserta dari Jemaat Imanuel Oepunu. Ia berkomitmen menerapkan ilmu yang diperoleh untuk mengoptimalkan lahan pertanian jemaat dan mencegah alih fungsi lahan. Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis pengelolaan lahan secara terpadu menjadi kunci agar warga tidak terdesak menjual tanah milik mereka.
Sebagai wujud dukungan keberlanjutan program, Sinode GMIT menutup rangkaian kegiatan dengan menyerahkan bantuan bibit pertanian secara simbolis kepada seluruh peserta pelatihan.*











