
Pendahuluan
Syalom bapa, mama dan saudara/i yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus…
Pembacaan kita saat ini dituntun dalam terang tema: ‘Mengetahui Kebenaran, Mengubahkan Hidup.’ Kita hidup di era digital, ketika informasi dan pengetahuan sangat mudah diperoleh. Apapun yang ingin kita ketahui kita bisa mencari atau mengaksesnya secara mudah melalui internet, media sosial ataupun berbagai platform pembelajaran lainnya. Namun, kenyataannya mengetahui apa yang benar tidak selalu membuat seseorang hidup dalam kebenaran. Di sekitar kita jumpai orang yang pintar secara intelektual, tetapi belum hidup secara jujur dan benar di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar dari Raja Yosia, seorang pemimpin yang tidak hanya mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi juga membiarkan firman itu mengubah dirinya, bangsanya, dan cara mereka menyembah Allah.
Pengantar Teks
Perikop ini menceritakan tentang tindakan Raja Yosia setelah ditemukannya kitab Taurat di Bait Allah pada masa pemerintahannya (2 Raja-raja 22), Yosia menyadari bahwa bangsa Yehuda telah lama menyimpang dari perintah Allah. Oleh karena itu, ia melakukan reformasi keagamaan yang cukup radikal dengan mengembalikan umat kepada penyembahan yang benar. Hal yang dilakukan ialah dengan:
- Pembaharuan Perjanjian Bersama (ayat 1-3)
Yosia mengumpulkan seluruh rakyat, mulai dari para tua-tua, imam, nabi, hingga rakyat biasa dari yang kecil sampai yang dewasa di Bait Allah. Lalu ia membacakan isi dari kitab Taurat (kitab Perjanjian) di hadapan semua orang. Tindakan ini menunjukkan bahwa Yosia tidak memimpin berdasarkan opininya sendiri, melainkan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar utama dari pembaruan kehidupan bangsa Yehuda. Selanjutnya Yosia memperbarui perjanjian antara Yehuda dengan Tuhan. Ia berjanji untuk hidup sesuai dengan hukum Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa Yosia ingin perubahan rakyat Yehuda datang dari kesadaran akan kebenaran Tuhan, bukan semata-mata karena takut akan perintah Yosia.
- Pembersihan Bait Allah (4-14)
Bagian ini menunjukkan betapa parahnya sinkretisme yang telah terjadi dalam kehidupan bangsa Yehuda. Yosia melakukan pembersihan yang sangat agresif dan tanpa kompromi. Ia memerintahkan para imam untuk mengeluarkan seluruh perlengkapan penyembahan berhala dari Bait Allah. Ia menghancurkan mezbah-mezbah, tiang berhala, patung Asyera, tempat-tempat penyembahan di bukit-bukit serta rumah-rumah pelacuran bakti dan menajiskan “Tofet” di Lembah Ben-Hinom agar tidak ada lagi orang yang mempersembahkan anaknya sebagai korban bakar bagi dewa Molokh. Menghancurkan dan membakar kuda dan kereta-kereta untuk dewa matahari yang dipersembahkan oleh raja-raja Yehuda sebelumnya.
- Penggenapan Nubuat di Betel
Yosia melanjutkan pembaharuannya sampai ke Betel, wilayah bekas kerajaan Israel Utara. Ia menghancurkan mezbah yang dulu dibangun Yerobeam, membongkar kuburan-kuburan dan membakar tulang-tulangnya sebagai simbol penajisan atas mezbah-mezbah pengorbanan para dewa-dewa asing. Peristiwa ini menggenapi nubuat yang pernah disampaikan seorang nabi pada masa pemerintahan Raja Yerobeam (1 Raja-raja 13). Ketika Yosia mengetahui kubur nabi yang telah menubuatkan hal tersebut, ia memerintahkan agar kubur itu tidak diganggu.
Pembaharuan yang dilakukan Yosia tentu tidak terlepas dari risiko, tindakannya cukup mendatangkan perlawanan dari pengikut dewa-dewa asing tetapi hal ini tidak mematahkan semangat Yosia untuk mengembalikan praktik-praktik yang benar sesuai dengan hukum Taurat. Pembaruan hidup Yosia dimulai ketika firman Tuhan ditemukan, dibacakan dan ditaati. Dengan begitu terlihat jelas bahwa perubahan itu bukan berawal dari kemauan kita sebagai manusia semata, tetapi sebagai respon terhadap Firman Tuhan.
Aplikasi:
Berdasarkan apa yang telah disampaikan, saya menarik beberapa catatan implikasi bagi kita:
- Pendidikan yang sejati berakar dari Firman Tuhan.
Raja Yosia mengalami perubahan karena ia terlebih dahulu mendengarkan dan memahami Kitab Taurat. Hal ini mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya menambah pengetahuan atau memperoleh nilai yang tinggi, tetapi membentuk karakter yang takut akan Tuhan. Di era digital, kita dibanjiri berbagai informasi yang belum tentu benar. Karena itu, sebagai orang percaya kita perlu menjadikan Firman Tuhan sebagai tolok ukur dalam menilai setiap pengetahuan, informasi, dan nilai yang kita terima. Pendidikan yang sejati bukan hanya membuat kita semakin cerdas, tetapi juga semakin berhikmat dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
2. Pengetahuan harus menghasilkan perubahan karakter.
Kisah Raja Yosia mengajarkan bahwa mengetahui kebenaran harus diikuti dengan tindakan nyata. Demikian pula, pendidikan seharusnya menghasilkan pribadi yang jujur, bertanggung jawab, rendah hati, dan peduli kepada sesama. Di tengah maraknya plagiarisme, perundungan, penyebaran hoaks, dan berbagai bentuk ketidakjujuran, orang percaya dipanggil untuk menunjukkan bahwa pengetahuan yang berakar pada firman Tuhan melahirkan karakter yang mencerminkan Kristus.
3. Jadilah pembelajar yang berani mempertahankan kebenaran.
Seperti Raja Yosia yang berani menyingkirkan penyembahan berhala meskipun bertentangan dengan kebiasaan masyarakat pada zamannya, kita pun dipanggil untuk berani mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Di sekolah, kampus, tempat kerja, gereja, maupun media sosial, kita diajak untuk tetap memilih kejujuran daripada kecurangan, kasih daripada kebencian, serta integritas daripada mencari pengakuan atau popularitas. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi orang yang mengetahui kebenaran, tetapi juga menjadi teladan yang membawa perubahan bagi lingkungan sekitar.
Pertanyaan Refleksi:
- Dalam semangat Bulan Pendidikan, bagaimana keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat dapat bekerja sama membentuk generasi yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang hidup sesuai dengan firman Tuhan? Berikan contoh nyata yang dapat dilakukan.
- Dalam konteks kehidupan saat ini, “berhala-berhala” apa saja yang masih menguasai kehidupan pribadi, keluarga, gereja, sekolah dan masyarakat? Bagaimana gereja dapat menjadi agen pembaruan yang menuntun umat kembali hidup seturut Firman Tuhan?











