
KUPANG,www.sinodegmit.or.id,— Yayasan Compassion Indonesia memperkuat kemitraan dengan Sinode GMIT melalui penambahan 24 unit Pusat Pengembangan Anak (PPA) baru di Soe dan Alor per Juni 2026. Penambahan ini meningkatkan total PPA di GMIT menjadi 120 unit, atau sekitar 16 persen dari total nasional, guna memperluas jangkauan layanan holistik anak hingga ke pelosok kepulauan.
Perkembangan signifikan tersebut dipaparkan dalam forum kunjungan resmi jajaran pimpinan Yayasan Compassion Indonesia ke Kantor Sinode GMIT, Kupang, pada Kamis (9/7/2026).
Rombongan yang dipimpin langsung oleh Direktur Nasional Yayasan Compassion Indonesia, Abraham Maradona Sitompul, diterima secara formal oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, Wakil Sekretaris Pdt. Zimrat M.S. Karmani, serta Bendahara Sinode Pnt. Yefta Sanam. Turut hadir Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur, Pdt. Marsel Rehabeam Toean.
Kolaborasi Lintas Sektoral dan Isu Prioritas Anak
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan manajemen Compassion memaparkan bahwa fokus utama program saat ini adalah intervensi pencegahan stunting, pemenuhan gizi, bantuan kesehatan, kelanjutan studi, hingga pelatihan keterampilan khusus. Setiap anak di dalam program PPA ditargetkan menguasai minimal satu keahlian terapan (one child one skill) agar memiliki daya saing dan kemandirian di masa depan.
Manager Partnership wilayah Pulau Timor dan Semau, Yofli Sula, menggarisbawahi pentingnya dukungan struktural dari tingkat klasis demi kelancaran komunikasi serta efektivitas pelayanan di lapangan.
“Satu hal yang kami rasa itu dukungan dari klasis dalam pelayanan ini, sehingga terjalin komunikasi yang baik dari awal, saling kenal, kemudian ada pertemuan klaster Majelis Klasis dilibatkan. Bersama denominasi lain juga ada relasi yang sangat baik,” jelas Yofli Sula.
Lebih lanjut, Yofli mendorong agar kolaborasi ke depan dapat menyentuh isu-isu sosial yang lebih kompleks di NTT, seperti penanganan kekerasan terhadap anak, pendampingan korban prostitusi online, penanggulangan HIV/AIDS, hingga sinergi pengamanan anak di rumah harapan (shelter) maupun lembaga pemasyarakatan.
Komitmen perlindungan ini juga dimulai sejak dini melalui program pendampingan ibu hamil hingga melahirkan, program pembekalan pranikah bagi remaja, serta beasiswa kepemimpinan khusus bertajuk program P153 bagi remaja yang menempuh pendidikan tinggi.

Mitigasi Konflik Internal dan Tantangan Demografi
Selain ekspansi program, pertemuan strategis ini menyoroti sejumlah tantangan manajerial di tingkat jemaat lokal.
Direktur Nasional Yayasan Compassion Indonesia, Abraham Maradona Sitompul menyampaikan bahwa salah satu perhatian utama adalah dampak mutasi atau pergantian pendeta di jemaat penerima PPA. Kemitraan ini memerlukan komunikasi yang intensif dan berkesinambungan agar sirkulasi kepemimpinan tidak mengganggu stabilitas operasional PPA yang telah direncanakan. Komitmen penyelesaian konflik internal secara bijak menjadi poin krusial demi mencegah penghentian atau penutupan PPA, sebagaimana pernah terjadi di masa lalu.
Tantangan lainnya berkaitan dengan pergeseran tren demografi, khususnya di Kota Kupang, di mana potensi jenis jumlah anak yang memenuhi kriteria penerima manfaat program menunjukkan tren menurun. Penurunan ini menuntut evaluasi dan pemikiran strategis ke depan agar operasionalisasi PPA tetap relevan dan berkelanjutan.
Di sisi lain, antusiasme dan visi kuat para pendeta muda di daerah pedesaan mendapat apresiasi tinggi karena dinilai responsif terhadap isu anak dan adaptif terhadap materi kurikulum PPA. Untuk mempertahankan performa tersebut, Compassion merekomendasikan agar para pendeta muda dibekali materi manajemen konflik serta komunikasi lintas budaya sebelum resmi ditahbiskan, guna meminimalisasi potensi benturan dengan adat atau budaya lokal.
Respons Sinode GMIT dan Program Keberlanjutan Mandiri
Merespons paparan tersebut, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menyampaikan apresiasi mendalam dan mengakui bahwa GMIT mengadopsi banyak sistem manajemen pelayanan anak dari Compassion. Transformasi ini telah melahirkan program internal seperti Gereja Ramah Anak dan pembentukan Forum Anak, yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk beraspirasi, bahkan terlibat dalam sidang-sidang resmi gerejawi.
GMIT berkomitmen memperkuat tata kelola pengawasan dengan membuka ruang koordinasi bagi para Ketua Majelis Klasis (KMK) untuk ikut memonitor jalannya PPA di wilayah masing-masing. Di samping itu, guna memmitigasi isu pekerja migran dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), GMIT tengah memperluas program beasiswa bagi kader-kader muda melalui kerja sama dengan sejumlah universitas di Jakarta dan Bandung. Termasuk di antaranya program Beasiswa Sawit dan riset teknologi vokasi di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang yang terkoneksi langsung dengan sektor industri.
Sebagai pilar penopang kemandirian ekonomi, GMIT mengoptimalkan jaringannya melalui Yayasan Alfa Omega serta pusat agroeduwisata di Sulamanda Tarus dan Loli. Melalui pusat pelatihan pertanian dan peternakan ini, para pemuda diharapkan dapat kembali ke jemaat asal untuk mengembangkan potensi diri dan menggerakkan ekonomi komunitas secara mandiri. *











