//Firman Tuhan menerangi Jalan hidup (Mazmur 119:105-128) – Pdt. Lusia M. Billik

Firman Tuhan menerangi Jalan hidup (Mazmur 119:105-128) – Pdt. Lusia M. Billik

Pengantar

Pernahkah saudara berjalan di seputaran hutan atau tempat yang gelap, tanpa penerang/cahaya? Di situasi seperti ini saudara bisa jatuh, salah mengambil arah, tersandung akar pohon, atau terbentur pada sesuatu yang tidak terlihat. Kegelapan juga bisa membuat langkah menjadi ragu dan penuh ketidakpastian, karena mata tidak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depan. Oleh karena itu, cahaya/terang sangat dibutuhkan bukan sekadar untuk penerangan, tetapi agar setiap langkah dapat diambil dengan yakin dan aman.

Realitas hidup orang beriman di dunia modern, saya rasa tidak berlebihan kita katakan bahwa seringkali seperti juga berada di hutan gelap yang penuh dengan ketidakpastian. Kita diperhadapkan pada ancaman-ancaman yang datangnya tiba-tiba, pilihan hidup sulit dan pandangan yang berbenturan, dan seringkali membuat kita sulit menentukan sikap serta sulit membedakan mana yang benar/baik.

Hari ini kita belajar dari Mazmur ini, dengan tema firman Tuhan menerangi jalan hidup. Di tengah kegelapan hidup, kita menemukan rahasia pemazmur untuk tetap bertahan menghadapi berbagai hal yang dialami. Dia tidak mengandalkan pikirannya sendiri tetapi menjadikan firman Tuhan sebagai penuntun hidup/menerangi jalan hidupnya.

Penjelasan Teks

Mazmur 119 adalah mazmur akrostik (jenis puisi dalam kitab Mazmur yang ayat atau baris pertamanya disusun berdasarkan urutan abjad atau alfabet bahasa Ibrani). Mazmur ini  terpanjang dalam Alkitab dan tersusun dari 22 bait sesuai 22 huruf abjad Ibrani, masing-masing bait terdiri dari 8 ayat. Tema umum dari mazmur ini adalah kecintaan akan taurat atau firman Tuhan.

Mazmur 119:105-128 terdiri dari tiga bait, yakni :

1. Firman Menerangi Setiap Langkah Kita (ay. 105-112)

Pemazmur memulai bait ini dengan memberi gambaran yang indah (ay.105), “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku…” ini ayat yang sering kita dengar dan juga dinyanyikan dalam lagu. Dalam ayat ini terdapat dua kata penting yaitu pelita, dan terang. Pelita bagi kaki dan terang bagi jalan, maksudnya adalah pada zaman dulu orang memakai lampu minyak kecil yang diikat pada kaki untuk berjalan di malam hari. Lampunya kecil bukan lampu sorot. Penulis memberikan perbandingan menunjuk pada cahaya kecil yang cukup untuk satu langkah di depan (tidak langsung semua langkah).  Dan “…terang bagi jalanku”  menunjuk pada arah untuk seluruh perjalanan hidup. Dengan demikian,  firman Tuhan menuntun hari ini, sekaligus mengarahkan tujuan hidup seluruhnya. Intinya panduan ini butuh kepercayaan buat terus melangkah dengan diterangi firman Tuhan.

Dalam ayat selanjutnya menunjukan hutan metaforis yang dilewati sang pemazmur seperti di tengah kegelapan yang tidak aman. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: hidupnya sangat tertindas, jiwanya terancam dan ada banyak jerat orang fasik terutama musuh-musuhnya yang dipasang baginya. Hal ini menjelaskan tekanan mental dan fisik yang dialami pemazmur. Di tengah tantangan ini, ia tidak mencari jalan pintas atau memakai logika sendiri, ia justru semakin mendekat pada firman Tuhan yang memberi cahaya itu, supaya kakinya tidak tersandung. Artinya firman Tuhan menolongnya untuk tidak salah mengambil keputusan yang merugikannya.

2. Firman Tuhan Menjadi Perisai dari Kefasikan/Kompromi Moral (ay. 113-120)

Pada bait kedua, pemazmur mengarahkan perhatian kita pada godaan dari luar dan dari dalam hati sendiri. Pemazmur berkata, “Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai” (ay. 113) dan ia menyebut Tuhan sebagai persembunyian dan perisai-nya (ay. 114).

Pernyataan pemazmur bukan menunjukkan sikap sombong yang merasa lebih suci dari orang lain, melainkan kesadaran bahwa hati manusia mudah goyah, mudah tertarik pada arus dunia, dan mudah mendua/bercabang hati (ingin ikut Tuhan, tetapi pada saat yang sama masih kompromi terhadap standart duniawi). Dalam kesaksiannya,  pemazmur mengajak untuk menolak sikap ragu-ragu dan kompromi.

Dan untuk melawan sikap bercabang hati tadi pemazmur bicara tentang perisai. Kalau di bait pertama firman Tuhan digambarkan seperti cahaya yang menerangi jalan, maka dibagian kedua sebagai perisai, yang membentengi. Artinya firman Tuhan menjaga pikiran kita dari arus dunia yang terus berubah dan berbagai alternatif yang muncul, maupun pandangan-pandangan baru seolah-olah itu adalah kebenaran.

Ketaatan pada ajaran firman Tuhan tersebut fungsinya seperti benteng pertahanan sejati. Di dunia yang penuh tekanan, standar yang gampang berubah,  ketaatan pada firman Tuhan yang mngajarkan untuk taat pada keadilan dan kekudusan Allah, adalah hal yang mutlak. Karena ketaatan itu merupakan perlindungan mutlak yang bisa mencegah seseorang dari kehancuran berhadapan dengan arus zaman.

3. Firman Tuhan Dicintai Melebihi Segala Harta (ay. 121-128)

Pemazmur menyatakan pengakuannya terhadap Firman Tuhan, “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua” (ay. 127), ia menyaksikan tentang posisi firman Tuhan yang lebih berharga. Mengapa karena bersifat kekal. Firman Tuhan lebih berharga dari emas dan emas murni yang bisa hilang, bisa habis.  

Dalam hidupnya, pemazmur seringkali berjumpa dengan orang yang memutarbalikan nilai-nilai hidup. Yang jahat dan salah seringkali dibenarkan. Jalan-jalan kebenaran seperti terlihat kuno dan ketinggalan zaman.  Di tengah kebingungan moral, Firman Tuhan menerangi jalan, agar terus berjalan di jalan lurus. Hal ini terjadi karena ia betul-betul mencintai taurat Tuhan/firman Tuhan. Tidak hanya tau tapi mencintainya. (Kalau kita mencintai seseorang  maka hati dan pikiran kita akan terpaut padanya).  Demikian juga mereka yang mencinta firman Tuhan, hatinya terpaut pada firman.

Aplikasi

Beberapa hal yang bisa dipelajari dari teks ini bagi kehidupan kita sebagai berikut:

  1. Menjadikan firman Tuhan sebagai penunjuk jalan yang menerangi seluruh segi kehidupan kita,  sebagai panduan aktif dalam seluruh hidup, yang tidak hanya didengar tapi dijalankan.

Hal ini bisa dilakukan dengan: ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kembali kepada firman Tuhan. Ketika kita bingung mengambil keputusan, lihat prinsip firman Tuhan. Ketika kita menghadapi godaan, ingat apa yang firman Tuhan katakan. Ketika kita takut menghadapi masa depan, pegang janji Tuhan dalam firman-Nya. Kita mungkin tidak dapat melihat seluruh jalan, tetapi kita dapat percaya kepada Tuhan yang menerangi setiap langkah kita.

Karena itu, jangan berjalan hanya berdasarkan perasaan/pikiran kita semata. Perasaan bisa berubah. Pendapat manusia bisa berubah/manusia hari baik,esok bisa lain. Situasi bisa berubah. Tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Maka sediakanlah juga selalu waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan.

2. Pegang firman Tuhan sebagai standar kebenaran.

Pegang firman Tuhan sebagai standar kebenaran. Mengapa? Karena firman Tuhan memberikan batas yang jelas. Di dunia ini banyak jalan yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya membawa kita menjauh dari Tuhan. Tidak semua yang populer itu benar. Tidak semua yang dilakukan banyak orang itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak semua kesempatan harus kita ambil. Tidak semua keinginan harus kita ikuti. Tidak semua perkataan harus kita percayai.

Jadikan firman Tuhan menjadi penerang jalan hidup kita.Kita membutuhkan firman Tuhan untuk mengetahui apakah langkah kita sedang menuju kepada Tuhan atau justru menjauh dari Tuhan. Karena itu, sebelum mengambil keputusan besar maupun kecil dalam hidup ini tanyakan: “apakah ini sesuai dengan firman Tuhan?” Sebelum berbicara, tanyakan apakah perkataan saya sesuai dengan kehendak Tuhan?” Sebelum melakukan sesuatu, tanyakan “apakah tindakan ini menyenangkan hati Tuhan?”Firman Tuhan bukan untuk membatasi kebahagiaan kita. Tetapi membentengi kita sehingga tidak mudah hancur.

3. Mencintai Firman Tuhan.

Kita semua pasti setuju bahwa firman Tuhan itu sangat penting bagi kehidupan kita sebagai orang beriman. Di gereja Reformerd beraliran Calvinis salah satunya GMIT, adalah gereja yang sangat mengutamakan pemberitaan firman. Itulah sebabnya orang banyak lebih mementingkan pemberitaan firman dalam ibadah-ibadah misalnya ibadah minggu. Pada setiap peristiwa penting dalam hidup kita, misalnya kelahiran, HUT, perkawinan, pindah rumah, kita biasa mengucap syukur, dan didalamnya kita tidak hanya berdoa, tetapi ada pemberitaan firman. Bahkan dalam rapat majelispun, kita merasa perlu adanya pemberitaan firman. Semua itu, kiranya merupakan bukti bahwa kita sadar  akan kekuatan firman Tuhan dalam hidup kita, bahwa firman Tuhan mesti menerangi seluruh aspek hidup kita.

Bagaimana persisnya agar firman Tuhan yang kita anggap begitu penting, dan selalu kita minta agar ada pemberitaan firman dalam setiap upacara dan perayaan kita, bisa kita rasakan kekuataannya dan menerangi seluruh jalan hidup kita? Hal ini terjadi kalau kita mencintai firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Wujud mencintai adalah mendengar dengan seksama, merenungkan dengan sungguh-sungguh dan melakukannya.

Seringkali kita menemukan akar persoalan ketika orang tidak kuat menghadapi tantangan, menghadapi keputusan-keputusan berdasarkan keinginan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, karena baginya firman itu penting tetapi ia tidak mencintainya.

Terkadang, kita menuntut harus ada pemberitaan firman semata-mata karena itu kebiasaan dalam setiap upacara dan perayaaan kita, tetapi sebenarnya kita kurang menyukai dan merindukan/mencintainya. Lihatlah pemberitaan firman yang sering disebut sebagai acara terpenting pada kenyataanya sering dirasakan sebagai saat yang paling membosankan. Saat dengan firman, ada orang bermain HP, melihat media sosial, foto-foto dan lain sebagainya. Kadang tidak konsentrasi pada pemberitaan firman. Dan   terkadang satu-satunya kata yang ditunggu adalah amin.

Saya pernah diminta untuk membawakan firman Tuhan dalam sebuah acara syukuran. Saat pemberitaan firman Tuhan dimulai, saya lihat tuan dan nyonya rumah tidak ada. Ternyata sang tuan ada di depan menunggu barangkali ada tamu yang akan datang namun terlambat, dan nyonya rumah sedang menyiapkan makanan. Disinilah kadang kita merasa firman Tuhan penting tapi kita tidak mencintainya, sehingga akan sulit bagi kita membiarkan firman menerangi jalan kita.

Selain itu, kita cenderung mau mendengar firman Tuhan jika kita dilayani seperti apa maunya kita. Pengkhotbah harus penuh semangat, kalau tidak jangan salahkan saya kalau saya mengantuk. Soalnya adalah tidak semua pengkhotbah bisa bersemangat, walapun memang kita sebagai pemberita firman Tuhan juga harus persiapkan dengan baik.

Jika kita mencintai firman Tuhan, tidak ada peluang sedikitpun bagi suara-suara lain yang mencoba bersaing dengan firman Tuhan yang mengusai kita, suara yang seolah memberi pilihan yang lebih praktis, lebih menarik, lebih lazim, lebih masuk akal. Sehingga seluruh jalan hidup kita diterangi oleh firman Tuhan. Apa jadinya, kita akan terus berpengharapan menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, kita tidak akan mudah diombang ambingkan oleh berbagai-bagai ajaran palsu dan kita akan terus berjalan di jalan yang lurus. Amin.